Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp140,27 miliar di seluruh pasar pada Jumat, 30 Oktober 2026, terdiri dari jual bersih Rp172,43 miliar di pasar reguler dan beli bersih Rp32,16 miliar di pasar tunai dan negosiasi.
Di tengah aksi jual tersebut, asing justru membeli saham GOTO sekitar Rp54,5 miliar, BUMI Rp40,4 miliar, dan MDKA Rp39,5 miliar. Sebaliknya, jual bersih terbesar terjadi pada BBRI sekitar Rp206,5 miliar, TLKM Rp119,5 miliar, dan AMMN Rp59,3 miliar. IHSG ditutup turun 0,80% ke 5.057,05.

Bagaimana Rincian Arus Dana Asing?
| Segmen | Arus asing |
|---|---|
| Pasar reguler | Jual bersih Rp172,43 miliar |
| Pasar tunai & negosiasi | Beli bersih Rp32,16 miliar |
| Seluruh pasar | Jual bersih Rp140,27 miliar |
Sepanjang pekan, jual bersih asing mencapai sekitar Rp3 triliun, berkontribusi pada penurunan IHSG 7,03% sepekan dan 16,70% sepanjang Oktober.
Saham Apa yang Dibeli Asing?
- GOTO: beli bersih sekitar Rp54,5 miliar. Saham teknologi domestik ini menarik perhatian di tengah tekanan pasar.
- BUMI: beli bersih sekitar Rp40,4 miliar, sejalan dengan saham energi dan batu bara yang terdukung harga energi global.
- MDKA: beli bersih sekitar Rp39,5 miliar, saham tambang emas dan tembaga.
Menariknya, MDKA dibeli meski harga emas dunia jatuh 3,7% hari itu. Hal ini bisa mencerminkan pandangan jangka menengah terhadap logam atau penyesuaian portofolio di akhir bulan. Daftar net buy asing beberapa hari sebelumnya ada di saham net buy asing 28 Oktober.
Saham Apa yang Dijual Asing?

- BBRI: jual bersih sekitar Rp206,5 miliar, terbesar hari itu.
- TLKM: jual bersih sekitar Rp119,5 miliar.
- AMMN: jual bersih sekitar Rp59,3 miliar.
Saham berkapitalisasi besar seperti bank dan telekomunikasi sering menjadi sasaran jual asing karena likuiditasnya tinggi, sehingga mudah dijual dalam jumlah besar. Penurunan saham-saham ini juga berdampak besar pada IHSG karena bobotnya dalam indeks.
Bagaimana Kinerja Sektor pada Hari yang Sama?
Sektor transportasi dan logistik turun paling dalam, 3,13%, disusul bahan baku 2,84% dan infrastruktur 1,96%. Sektor kesehatan naik 0,76% dan keuangan naik tipis 0,16%. Di LQ45, PGAS naik 8,64%, PTBA 5,88%, dan EXCL 5,85%, sementara BRPT turun 6,96%. Sebanyak 523 saham turun dan hanya 187 naik, menunjukkan tekanan yang luas. Cara membaca perbandingan saham naik dan turun dibahas di market breadth.
Bagaimana Membaca Data Net Buy dan Net Sell Asing?
Data net buy dan net sell menunjukkan selisih nilai pembelian dan penjualan investor asing pada suatu saham. Beberapa hal perlu diperhatikan:
- Satu hari tidak cukup: lihat tren beberapa hari atau pekan untuk mengetahui arah yang konsisten.
- Pasar negosiasi bisa menyesatkan: transaksi besar di pasar negosiasi sering terkait pengalihan kepemilikan, bukan pandangan pasar.
- Akhir bulan dan akhir kuartal: penyesuaian portofolio institusi bisa memengaruhi angka.
- Bandingkan dengan harga: saham yang dibeli asing tetapi harganya turun mungkin sedang diakumulasi pelan-pelan.
Mengapa Asing Masih Menjual?
Faktor utama adalah pelemahan rupiah sekitar 1,41% sepanjang Oktober, suku bunga global yang tinggi dengan peluang Fed naik Desember sekitar 75%, isu klasifikasi pasar, dan aksi jual saham teknologi global. Pada awal November, data domestik cukup baik, yaitu PMI manufaktur 54 dan surplus perdagangan US$3,36 miliar, tetapi belum cukup untuk membalikkan arus dana asing dalam waktu singkat.
Bagaimana Hubungan Arus Asing dengan Rupiah?
Ketika investor asing menjual saham, mereka umumnya menukar rupiah ke dolar untuk membawa dana keluar. Penjualan besar dalam beberapa hari bisa menambah tekanan pada rupiah, yang ditutup di Rp18.147 per dolar pada 30 Oktober dan dibuka di Rp18.149 pada 2 November. Sebaliknya, ketika asing kembali membeli, permintaan rupiah naik dan dapat membantu penguatan kurs. Hubungan dua arah ini membuat data arus asing penting bagi investor saham maupun pengamat valas. Pergerakan rupiah terbaru dibahas di rupiah dibuka Rp18.149. Faktor global yang memengaruhi keputusan investor asing, seperti suku bunga AS dan sentimen Wall Street, ada di Wall Street 30 Oktober 2026.
Bagaimana Investor Ritel Memakai Data Ini?
Investor ritel tidak perlu mengikuti setiap pergerakan asing. Data ini lebih berguna sebagai salah satu pertimbangan, misalnya untuk memahami mengapa saham bank besar tertekan meski fundamentalnya baik. Keputusan investasi tetap sebaiknya didasarkan pada analisis emiten, tujuan keuangan, dan profil risiko.
Apa yang Perlu Dipantau Investor?
- Arah arus asing setelah pemilu sela AS dan data tenaga kerja AS.
- Pergerakan rupiah di sekitar Rp18.150 per dolar.
- Laporan keuangan kuartal III emiten yang masih berjalan.
- RDG Bank Indonesia pada 17–18 November.
Data transaksi resmi tersedia di Bursa Efek Indonesia, dan informasi pengawasan pasar modal di OJK.
Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Investasi saham mengandung risiko; lakukan analisis sendiri sebelum mengambil keputusan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa jual bersih asing pada 30 Oktober 2026?
Sekitar Rp140,27 miliar di seluruh pasar.
Saham apa yang paling banyak dibeli asing pada 30 Oktober?
GOTO sekitar Rp54,5 miliar, disusul BUMI dan MDKA.
Saham apa yang paling banyak dijual asing pada 30 Oktober?
BBRI sekitar Rp206,5 miliar, disusul TLKM dan AMMN.
Berapa jual bersih asing sepekan terakhir?
Sekitar Rp3 triliun.
Bagaimana cara membaca data net buy asing?
Lihat tren beberapa hari, perhatikan transaksi pasar negosiasi, dan bandingkan dengan pergerakan harga saham.


