Pada Senin, 2 November 2026, tiga data ekonomi penting Indonesia dirilis bersamaan: inflasi Oktober 3,23% secara tahunan, PMI manufaktur Oktober 54, dan neraca perdagangan September surplus US$3,36 miliar.
Ketiganya menunjukkan ekonomi domestik yang relatif sehat: inflasi masih dalam sasaran Bank Indonesia 2,5% ± 1%, sektor manufaktur berekspansi paling kuat sejak Maret 2024, dan surplus perdagangan jauh melampaui perkiraan. Namun, gambaran positif ini kontras dengan pasar keuangan yang tertekan, dengan IHSG turun 16,7% sepanjang Oktober dan rupiah di sekitar Rp18.149 per dolar AS.

Apa Arti Data Inflasi?
Inflasi tahunan Oktober 3,23% sedikit melambat dari 3,28% pada September dan di bawah perkiraan sekitar 3,3%. Inflasi bulanan tercatat 0,22%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,82% dengan andil 1,40 poin, dipicu cabai merah, ikan segar, dan beras. Kelompok transportasi naik 4,87% dan perawatan pribadi 4,52%. Data inflasi September sebelumnya dibahas di jelang rilis inflasi Oktober dan PDB kuartal III.
Apa Arti Data PMI?

PMI manufaktur naik ke 54 dari 52,4, tertinggi sejak Maret 2024. Pesanan baru tumbuh tercepat dalam lima tahun, dan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada April 2011. Waktu pengiriman pemasok memendek dengan perbaikan terbesar sejak Desember 2019. Namun, harga input naik lebih cepat karena bahan bakar dan kurs, dan perusahaan mulai menaikkan harga jual. Ini bisa menjadi sumber tekanan inflasi pada bulan-bulan berikutnya.
Apa Arti Data Neraca Perdagangan?
Surplus September US$3,36 miliar, sedikit turun dari US$3,55 miliar pada Agustus, tetapi jauh di atas perkiraan sekitar US$1,9 miliar. Surplus nonmigas US$5,67 miliar ditopang CPO, batu bara, serta besi dan baja, sementara defisit migas US$2,31 miliar. Secara kumulatif Januari–September, surplus mencapai US$10,61 miliar.
| Data | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Inflasi tahunan Oktober | 3,23% | Dalam sasaran BI |
| Inflasi bulanan Oktober | 0,22% | Melambat dari 0,30% |
| PMI manufaktur Oktober | 54 | Tertinggi sejak Mar 2024 |
| Surplus perdagangan Sep | US$3,36 miliar | Di atas perkiraan |
| Defisit migas Sep | US$2,31 miliar | Dampak harga minyak |
Bagaimana Konsumsi Rumah Tangga?
Konsumsi rumah tangga menyumbang porsi terbesar dalam PDB Indonesia. Inflasi pangan yang tinggi dapat menekan daya beli, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Di sisi lain, ekspansi manufaktur yang kuat bisa membuka lapangan kerja dan menopang pendapatan. Penetapan upah minimum 2027 pada akhir November juga akan memengaruhi daya beli tahun depan. Pemerintah juga dapat memakai bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan untuk menjaga daya beli kelompok rentan, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru ketika permintaan biasanya meningkat.
Apa Implikasinya bagi Bank Indonesia?
Inflasi yang terkendali memberi ruang bagi BI untuk tidak terburu-buru menaikkan BI-Rate. Namun, BI menghadapi tekanan dari rupiah yang lemah dan suku bunga global yang naik. Pada RDG Oktober, BI menahan BI-Rate 5,75% dan menaikkan deposit facility ke 5%. Analisis suku bunga riil Indonesia dibahas di suku bunga riil Indonesia 2,47%. RDG berikutnya pada 17–18 November akan mempertimbangkan data ini bersama arah The Fed.
Mengapa Pasar Tidak Merespons Positif?
Pasar keuangan dipengaruhi arus modal global lebih besar dari data domestik. Investor asing mencatat jual bersih saham sekitar Rp3 triliun sepekan, dipicu suku bunga AS yang tinggi, pelemahan rupiah, dan sentimen global. Data domestik yang baik baru bisa berdampak signifikan jika tekanan global mereda.
Bagaimana Data Ini Memengaruhi Rupiah dan Pasar Saham?
Data yang positif secara teori mendukung rupiah dan saham. Namun, pada 2 November rupiah dibuka sedikit melemah di Rp18.149, menunjukkan faktor global lebih dominan. Dalam jangka menengah, surplus perdagangan yang konsisten memberi pasokan valas, sementara PMI yang kuat mendukung prospek laba emiten manufaktur. Pembahasan rupiah ada di rupiah dibuka Rp18.149. Investor juga perlu memperhatikan bahwa kenaikan harga input di PMI bisa menekan margin emiten jika tidak bisa diteruskan ke konsumen.
Bagaimana Kaitannya dengan Agenda Global Pekan Ini?
Data domestik akan diuji oleh rangkaian peristiwa global pekan ini, termasuk keputusan RBA dan BoE serta data tenaga kerja AS. Peta lengkapnya ada di peta pekan super forex 2–6 November.
Apa Risiko ke Depan?
- Inflasi pangan dan energi menjelang akhir tahun.
- Kenaikan harga input di sektor manufaktur yang bisa diteruskan ke konsumen.
- Harga minyak yang memperbesar defisit migas.
- Arus modal asing yang dipengaruhi kebijakan The Fed.
Rilis resmi tersedia di Badan Pusat Statistik dan S&P Global PMI.
Konten ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi investasi. Data dapat berubah seiring rilis resmi terbaru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa defisit migas September 2026?
US$2,31 miliar, terutama dari impor hasil minyak dan minyak mentah.
Berapa inflasi Oktober 2026?
3,23% secara tahunan dan 0,22% secara bulanan.
Berapa PMI manufaktur Indonesia Oktober 2026?
54, naik dari 52,4 dan tertinggi sejak Maret 2024.
Berapa surplus neraca perdagangan September 2026?
US$3,36 miliar, di atas perkiraan sekitar US$1,9 miliar.
Apakah inflasi masih dalam sasaran BI?
Ya, masih dalam rentang 2,5% ± 1%.
Mengapa pasar tidak merespons positif data yang baik?
Karena arus modal global, suku bunga AS, dan pelemahan rupiah lebih dominan dalam jangka pendek.


