Rupiah dibuka di Rp18.149 per dolar AS pada Senin, 2 November 2026, melemah tipis 2 poin dari penutupan Jumat di Rp18.147, setelah sepanjang Oktober melemah sekitar 1,41%.
Data domestik yang dirilis hari yang sama tergolong positif: inflasi Oktober 3,23% masih dalam sasaran, PMI manufaktur naik ke 54, dan neraca perdagangan September surplus US$3,36 miliar, jauh di atas perkiraan sekitar US$1,9 miliar. Namun, tekanan dari arus keluar dana asing, suku bunga AS yang tinggi, dan harga minyak masih membatasi penguatan rupiah.

Apa Faktor yang Menekan Rupiah?
- Arus dana asing: investor asing mencatat jual bersih saham sekitar Rp3 triliun sepekan terakhir, menambah permintaan dolar.
- Suku bunga AS: peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember sekitar 75% menjaga daya tarik aset dolar.
- Harga minyak: WTI naik sekitar 15,2% sepanjang Oktober, menambah kebutuhan dolar untuk impor energi.
- Sentimen bursa: IHSG turun 16,70% sepanjang Oktober ke 5.057,05.
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak relatif datar pada pembukaan sambil menunggu data domestik, sementara mata uang Asia lain juga cenderung melemah.
Apa Faktor yang Menopang Rupiah?

Data hari ini memberi bantalan. Surplus perdagangan yang lebih besar dari perkiraan menambah pasokan valas dari ekspor. PMI manufaktur 54 dengan pesanan ekspor tumbuh tercepat sejak survei dimulai pada 2011 menunjukkan kinerja ekspor yang kuat. Inflasi 3,23% yang sedikit di bawah perkiraan memberi ruang bagi Bank Indonesia. BI sebelumnya menahan BI-Rate di 5,75% dan menaikkan deposit facility ke 5% untuk menarik aliran modal. Penjelasan kurs referensi BI ada di apa itu kurs JISDOR.
Bagaimana Pergerakan Rupiah Sepanjang Oktober?
| Tanggal | Kurs (Rp/USD) | Keterangan |
|---|---|---|
| 20 Oktober | sekitar 17.985 | Saat RDG BI |
| 28 Oktober | 18.175 | Penutupan terlemah |
| 29 Oktober | 18.137 | Menguat setelah FOMC |
| 30 Oktober | 18.147 | Penutupan bulan |
| 2 November | 18.149 | Pembukaan |
Pergerakan rupiah dibanding mata uang Asia lain dibahas di mata uang Asia 29 Oktober 2026.
Bagaimana Pengaruh Peristiwa Pekan Ini terhadap Rupiah?
Peta lengkap peristiwa pekan ini ada di peta pekan super forex 2–6 November. Bagi rupiah, peristiwa yang paling berpengaruh adalah yang menggerakkan dolar AS, yaitu pemilu sela dan data tenaga kerja.
Apa yang Perlu Dipantau Pekan Ini?
- Hasil pemilu sela AS pada Rabu pagi WIB, yang memengaruhi dolar dan yield.
- Data tenaga kerja AS pada Jumat pukul 20.30 WIB.
- Harga minyak dan perkembangan diplomasi AS–Iran.
- Arus dana asing di pasar saham dan SBN.
- RDG BI pada 17–18 November.
Bagaimana Skenario Rupiah?
- Menguat ke kisaran Rp18.000–18.100: dolar melemah setelah data AS, minyak turun, dan asing kembali membeli.
- Bertahan Rp18.100–18.200: data campuran dan sentimen global belum jelas.
- Melemah di atas Rp18.200: data AS kuat, yield naik, dan arus keluar asing berlanjut.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha?
Rupiah di atas Rp18.100 membuat barang impor, perjalanan ke luar negeri, dan biaya pendidikan di luar negeri lebih mahal. Sebaliknya, eksportir mendapat lebih banyak rupiah per dolar. Importir bahan baku dapat mempertimbangkan lindung nilai melalui instrumen seperti DNDF yang insentifnya diperkuat BI. Penjelasan dampak harga minyak terhadap kurs ada di minyak di atas US$100 dan rupiah.
Bagaimana Peran Bank Indonesia?
Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui tiga jalur utama: intervensi di pasar spot, intervensi di pasar DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Selain itu, BI menaikkan deposit facility ke 5% pada Oktober untuk menarik aliran modal dan memperkuat insentif instrumen lindung nilai. Langkah-langkah ini bertujuan meredam gejolak, bukan menetapkan kurs tertentu. Jika tekanan berlanjut, pasar akan mencermati apakah BI menaikkan BI-Rate pada RDG 17–18 November. Pergerakan rupiah terhadap mata uang Asia lain beberapa hari sebelumnya juga bisa menjadi pembanding, seperti dibahas di mata uang Asia 28 Oktober.
Bagaimana Rupiah Dibanding Data Fundamental?
Data fundamental Indonesia saat ini relatif baik, tetapi rupiah tetap tertekan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, arus modal global lebih dominan dibanding data domestik. Dalam jangka menengah, surplus perdagangan yang konsisten dan inflasi terkendali bisa menjadi penopang jika sentimen global membaik.
Kurs referensi resmi tersedia di Bank Indonesia, dan data ekonomi di Badan Pusat Statistik.
Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual instrumen keuangan. Trading forex berisiko tinggi; pertimbangkan kemampuan finansial Anda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana skenario rupiah pekan ini?
Bisa menguat ke Rp18.000–18.100 jika dolar melemah dan asing kembali membeli, atau melemah di atas Rp18.200 jika data AS kuat.
Berapa kurs rupiah pada pembukaan 2 November 2026?
Rp18.149 per dolar AS, melemah tipis dari Rp18.147 pada penutupan Jumat.
Berapa pelemahan rupiah sepanjang Oktober 2026?
Sekitar 1,41%.
Data apa yang menopang rupiah?
Inflasi 3,23% dalam sasaran, PMI manufaktur 54, dan surplus perdagangan September US$3,36 miliar.
Apa faktor yang menekan rupiah?
Arus keluar dana asing, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan harga minyak yang tinggi.
Kapan RDG Bank Indonesia berikutnya?
17–18 November 2026.


