Sydney Tokyo London New York
Pasar Forex

Mata Uang Asia 29 Oktober 2026: Won Naik 0,54%, Rupiah Menguat ke Rp18.137 setelah FOMC

Mata uang Asia kompak menguat sehari setelah The Fed menahan suku bunga. Rupiah ikut naik, meski bursa saham Indonesia justru anjlok.

Mata Uang Asia 29 Oktober 2026: Won Naik 0,54%, Rupiah Menguat ke Rp18.137 setelah FOMC

Sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pada Kamis, 29 Oktober 2026, sehari setelah The Fed menahan suku bunga di 3,75–4,00%. Won Korea memimpin dengan kenaikan sekitar 0,54%, disusul ringgit Malaysia 0,39% dan peso Filipina 0,30%. Rupiah ditutup menguat 47 poin atau 0,26% ke Rp18.137 per dolar AS, dari Rp18.184 sehari sebelumnya. Satu-satunya mata uang utama Asia yang melemah adalah dolar Taiwan, turun sekitar 0,37%.

Fakta kunci: Mata Uang Asia 29 Oktober 2026: Won Naik 0,54%, Rupiah Menguat ke Rp18.137 setelah FOMC
Perubahan mata uang Asia terhadap dolar AS pada 29 Oktober 2026.

Mengapa Mata Uang Asia Menguat?

Penguatan dipicu melemahnya dolar AS setelah keputusan FOMC yang sesuai ekspektasi pasar dan tidak memberi panduan jelas tentang arah suku bunga ke depan. Ketika dolar melemah secara umum, mata uang negara berkembang yang sebelumnya tertekan biasanya mendapat ruang pemulihan. Sehari sebelumnya, rupiah justru mencatat penutupan terlemah, seperti dibahas di mata uang Asia 28 Oktober.

Bagaimana Rincian Pergerakan Mata Uang Asia?

Mata uangPerubahan terhadap dolar ASCatatan
Won Koreasekitar +0,54%Penguatan terbesar
Ringgit Malaysiasekitar +0,39%Melanjutkan penguatan
Peso Filipinasekitar +0,30%Pulih dari tekanan
Rupiah+0,26% ke Rp18.137Menguat meski IHSG anjlok
Dolar Taiwansekitar −0,37%Satu-satunya melemah

Mengapa Rupiah Menguat saat IHSG Anjlok?

Perubahan mata uang Asia terhadap dolar AS termasuk dolar Taiwan yang melemah
Hampir semua mata uang Asia menguat, kecuali dolar Taiwan.

Pada hari yang sama, IHSG turun 3,49% ke 5.098 karena kekhawatiran MSCI menurunkan status Indonesia menjadi standalone market. Biasanya, jual bersih asing di saham menekan rupiah. Namun, pada 29 Oktober, faktor global berupa pelemahan dolar lebih dominan. Analis Lukman Leong dari Doo Financial Futures menyebut rupiah menguat terhadap dolar yang terkoreksi setelah FOMC, tetapi mengingatkan penguatan bisa terbatas jika sentimen risk-off dan jual bersih asing berlanjut. Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.100–18.200.

Apa Faktor yang Membebani Rupiah?

  • Isu MSCI yang memicu jual bersih asing di pasar saham.
  • Harga minyak tinggi, dengan Brent di sekitar US$112 per barel, yang meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi.
  • Yield SBN yang naik, mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi.
  • Risiko geopolitik terkait AS dan Iran.

Hubungan minyak dan rupiah dibahas di minyak di atas US$100 dan rupiah.

Mengapa Dolar Taiwan Melemah?

Dolar Taiwan sering dipengaruhi arus dana di saham teknologi, terutama semikonduktor, yang memiliki bobot besar di bursa Taiwan. Pada 29 Oktober, kekhawatiran belanja AI kembali muncul setelah laporan Alphabet, sehingga saham terkait teknologi tertekan. Arus keluar dari saham teknologi bisa menekan dolar Taiwan meski mata uang Asia lain menguat.

Bagaimana Prospek Mata Uang Asia Pekan Depan?

  • Data tenaga kerja AS pada 6 November pukul 20.30 WIB dapat mengubah arah dolar.
  • Pemilu sela AS pada 3 November dapat memicu volatilitas.
  • Data Tiongkok, seperti PMI awal November, memengaruhi mata uang yang terkait perdagangan regional.
  • Kebijakan bank sentral regional, termasuk langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Apa Arti Bagi Pelaku Usaha dan Masyarakat?

Penguatan rupiah sehari belum tentu berlanjut. Pelaku usaha yang membutuhkan dolar dapat mempertimbangkan pembelian bertahap atau lindung nilai sebagian, daripada menunggu kurs tertentu. Bagi masyarakat yang berencana kuliah atau berwisata ke luar negeri, membeli valuta asing secara bertahap membantu meratakan kurs.

Bagaimana Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asia Lain?

Ketika rupiah dan mata uang Asia lain sama-sama menguat terhadap dolar, kurs rupiah terhadap won atau ringgit relatif tidak banyak berubah. Namun, karena won menguat lebih besar dari rupiah, biaya wisata ke Korea dalam rupiah sedikit naik pada hari itu.

Bagaimana Posisi Rupiah Sepanjang Oktober?

Rupiah bergerak dalam tekanan sepanjang Oktober. Setelah menembus Rp18.000 per dolar AS usai Bank Indonesia menahan suku bunga pada 22 Oktober, rupiah terus melemah hingga mencatat penutupan terlemah di sekitar Rp18.175–18.184 pada 28 Oktober. Penguatan ke Rp18.137 pada 29 Oktober menjadi jeda dari tren tersebut. Latar belakang awal pelemahan dibahas di rupiah tembus Rp18.000 usai BI tahan suku bunga. Ke depan, arah rupiah akan sangat dipengaruhi kombinasi arus dana asing, harga minyak, dan data AS.

Apa yang Bisa Dipelajari Trader?

Pergerakan 29 Oktober menunjukkan bahwa satu mata uang bisa dipengaruhi faktor global dan domestik secara bersamaan, dan keduanya bisa saling berlawanan. Trader perlu memantau dolar AS secara umum, arus dana asing, serta berita domestik untuk memahami arah rupiah. Pemahaman kalender ekonomi membantu mengantisipasi waktu-waktu rawan, seperti dibahas di cara membaca kalender ekonomi forex.

Kurs referensi resmi rupiah dapat dipantau di Bank Indonesia, sedangkan pernyataan The Fed tersedia di Federal Reserve.

Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual instrumen keuangan. Trading forex berisiko tinggi; pertimbangkan kemampuan finansial Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa kurs rupiah pada 29 Oktober 2026?

Rupiah ditutup di Rp18.137 per dolar AS, menguat 47 poin atau 0,26%.

Mata uang Asia apa yang menguat paling tinggi pada 29 Oktober?

Won Korea, dengan kenaikan sekitar 0,54% terhadap dolar AS.

Mengapa mata uang Asia menguat?

Dolar AS melemah setelah The Fed menahan suku bunga tanpa memberi panduan jelas tentang arah ke depan.

Mengapa rupiah menguat meski IHSG anjlok?

Pelemahan dolar global lebih dominan pada hari itu, meski analis mengingatkan penguatan bisa terbatas jika jual bersih asing berlanjut.

Berapa perkiraan kisaran rupiah jangka pendek?

Analis memperkirakan kisaran Rp18.100–18.200 per dolar AS.