Sydney Tokyo London New York
Ekonomi & Politik

Apa Itu Stagflasi? Pengertian, Penyebab, Contoh Sejarah, dan Mengapa Sulit Diatasi

Stagflasi adalah kombinasi buruk antara inflasi tinggi dan ekonomi yang melambat. Ini penyebabnya, contoh sejarah, dan mengapa bank sentral sulit mengatasinya.

Apa Itu Stagflasi? Pengertian, Penyebab, Contoh Sejarah, dan Mengapa Sulit Diatasi

Stagflasi adalah kondisi ekonomi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang lemah dan biasanya pengangguran yang meningkat. Istilah ini merupakan gabungan dari stagnation (stagnasi) dan inflation (inflasi).

Stagflasi dianggap salah satu kondisi ekonomi paling sulit karena obat untuk satu masalah justru memperburuk masalah lainnya.

Fakta kunci: Apa Itu Stagflasi? Pengertian, Penyebab, Contoh Sejarah, dan Mengapa Sulit Diatasi
Ciri-ciri utama stagflasi.

Mengapa Stagflasi Tidak Biasa?

Dalam kondisi normal, inflasi tinggi biasanya terjadi saat ekonomi tumbuh cepat dan permintaan melonjak. Sebaliknya, saat ekonomi melambat, permintaan turun dan inflasi cenderung mereda.

Stagflasi melanggar pola ini: harga terus naik meski ekonomi lesu.

Penyebab Stagflasi

1. Guncangan pasokan (supply shock). Penyebab paling umum. Ketika harga bahan baku penting, terutama energi, melonjak tiba-tiba, biaya produksi naik di hampir semua sektor. Perusahaan menaikkan harga sekaligus mengurangi produksi.

2. Kebijakan moneter yang terlalu longgar dalam waktu lama, sehingga ekspektasi inflasi tidak terkendali.

3. Kenaikan biaya tenaga kerja yang tidak diikuti kenaikan produktivitas.

4. Gangguan perdagangan, seperti tarif atau hambatan rantai pasok.

Contoh Sejarah: Krisis Minyak 1970-an

Contoh paling terkenal terjadi pada 1970-an. Embargo minyak oleh negara-negara Arab pada 1973 dan revolusi Iran pada 1979 membuat harga minyak melonjak berkali-kali lipat. Akibatnya:

  • Inflasi di AS dan banyak negara maju melonjak hingga dua digit.
  • Pertumbuhan ekonomi melambat dan pengangguran naik.

Stagflasi di AS baru berakhir setelah The Fed di bawah Paul Volcker menaikkan suku bunga sangat tinggi pada awal 1980-an, yang memicu resesi sebelum inflasi terkendali.

Mengapa Sulit Diatasi?

Bank sentral menghadapi dilema:

  • Menaikkan suku bunga dapat menurunkan inflasi, tetapi memperlambat ekonomi lebih jauh dan menambah pengangguran.
  • Menurunkan suku bunga dapat mendukung ekonomi, tetapi berisiko membuat inflasi makin tinggi.

Pemerintah juga terbatas, karena stimulus fiskal bisa menambah tekanan harga.

Apakah Risiko Stagflasi Muncul Lagi?

Sejumlah kondisi pada 2026 membuat istilah ini kembali dibicarakan:

  • Harga minyak tinggi akibat ketegangan Timur Tengah, dengan Brent mendekati US$110 per barel. Lihat harga minyak Brent dekat US$110.
  • Inflasi AS naik ke 3,7% dan inflasi zona euro 3,7% pada September 2026, sebagian besar akibat energi. Lihat inflasi AS September 2026.
  • Bank sentral menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran perlambatan.

Namun inflasi inti di AS dan zona euro masih relatif terbatas, dan pengangguran di beberapa negara, seperti Inggris, justru turun. Artinya, kondisi saat ini belum tentu stagflasi, tetapi risikonya perlu dipantau.

Dampak Stagflasi ke Investasi

Aset Kecenderungan saat stagflasi
Saham Tertekan, terutama sektor yang sensitif terhadap biaya dan bunga
Obligasi Tertekan karena inflasi dan suku bunga naik
Emas Sering diminati sebagai pelindung nilai
Komoditas energi Cenderung naik, karena sering menjadi pemicu
Kas Nilai riil tergerus inflasi

Peran emas sebagai pelindung nilai dijelaskan di faktor penggerak harga emas.

Penjelasan lebih lanjut tentang stagflasi tersedia di IMF Finance & Development.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu stagflasi?

Stagflasi adalah kondisi ekonomi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang lemah dan pengangguran yang meningkat.

Apa penyebab stagflasi?

Penyebab paling umum adalah guncangan pasokan, terutama lonjakan harga energi, ditambah kebijakan moneter yang terlalu longgar dan gangguan rantai pasok.

Kenapa stagflasi sulit diatasi?

Karena menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi akan memperlambat ekonomi, sedangkan menurunkan suku bunga untuk mendukung ekonomi berisiko menambah inflasi.