Selisih harga Brent dan WTI melebar ke sekitar US$12,54 per barel pada 28 Oktober 2026, dengan Brent ditutup di US$115,32 dan WTI di US$102,78. Selisih ini jauh di atas kisaran yang lebih umum sekitar US$3–US$5. Penyebab utamanya adalah risiko pasokan di Timur Tengah yang lebih langsung memengaruhi Brent sebagai acuan minyak internasional, sementara WTI lebih dipengaruhi kondisi pasokan di Amerika Serikat.

Apa Itu Brent dan WTI?
Brent adalah acuan harga minyak dari Laut Utara dan dipakai untuk menentukan harga sebagian besar minyak dunia, termasuk yang diperdagangkan ke Asia. WTI (West Texas Intermediate) adalah acuan minyak AS yang dikirim ke Cushing, Oklahoma. Perbedaan dasar keduanya dijelaskan di Brent vs WTI: perbedaan dan spread.
Bagaimana Pergerakan Harga 28 Oktober?
| Acuan | Penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent | US$115,32 | +1,26% |
| WTI | US$102,78 | +2,88% |
| Selisih | US$12,54 | – |
Menariknya, WTI naik lebih tinggi secara persentase, setelah sebelumnya sempat turun di bawah US$100 karena harapan de-eskalasi. Namun Brent tetap jauh lebih mahal. Perkembangan sebelumnya ada di Brent turun ke US$115 karena harapan damai.
Mengapa Selisih Melebar?

- Risiko pasokan Timur Tengah. Gangguan di jalur pelayaran seperti Selat Hormuz langsung mengancam pasokan yang dihargai dengan acuan Brent.
- Produksi AS yang besar. Pasokan minyak AS relatif aman dari gangguan geopolitik, sehingga WTI tidak naik setinggi Brent.
- Biaya pengiriman dan asuransi kapal yang meningkat saat risiko keamanan laut tinggi.
- Keterbatasan kapasitas ekspor AS yang membatasi seberapa cepat minyak AS dapat menggantikan pasokan Timur Tengah.
Mengapa Selisih Ini Penting bagi Asia?
Sebagian besar minyak yang dibeli negara Asia, termasuk Indonesia, dihargai dengan acuan yang dekat dengan Brent atau minyak Timur Tengah. Artinya, Asia membayar harga yang lebih tinggi dibanding AS. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) juga cenderung mengikuti Brent. Sebagai gambaran, ICP September 2026 tercatat US$112,81 per barel, seperti dibahas di ICP September 2026.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
- Beban subsidi energi meningkat karena harga acuan minyak yang tinggi.
- Kebutuhan dolar untuk impor minyak bertambah dan menekan rupiah.
- Harga BBM nonsubsidi berpotensi naik mengikuti harga pasar.
- Inflasi dapat terdorong melalui biaya transportasi dan logistik.
Siapa yang Diuntungkan dari Selisih Lebar?
Kilang dan eksportir AS dapat membeli minyak dengan harga WTI yang lebih murah, lalu menjual produk olahan atau minyak mentah ke pasar internasional dengan harga mengikuti Brent. Selisih yang lebar mendorong peningkatan ekspor minyak AS selama kapasitas pelabuhan dan pipa memungkinkan.
Bagaimana Trader Memanfaatkan Selisih?
Sebagian trader memperdagangkan spread Brent–WTI secara langsung, yaitu membeli satu kontrak dan menjual kontrak lainnya. Strategi ini bergantung pada pandangan apakah selisih akan menyempit atau melebar, bukan arah harga minyak secara umum. Namun, perdagangan spread tetap berisiko dan membutuhkan pemahaman tentang kontrak berjangka, termasuk contango dan backwardation.
Bagaimana Sejarah Selisih Brent–WTI?
Selama bertahun-tahun, WTI pernah diperdagangkan lebih mahal dari Brent karena kualitas minyaknya yang lebih ringan. Situasi berbalik ketika produksi minyak serpih AS melonjak dan kapasitas pipa dari pusat produksi ke pelabuhan terbatas, sehingga WTI menjadi lebih murah. Setelah larangan ekspor minyak mentah AS dicabut, selisih cenderung menyempit ke kisaran beberapa dolar. Selisih di atas US$12 saat ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik kembali mendominasi.
Apa Hubungannya dengan Harga BBM?
Harga BBM nonsubsidi di Indonesia mengacu pada harga produk minyak di pasar Asia, seperti MOPS (Mean of Platts Singapore), yang bergerak searah dengan Brent. Karena itu, selisih Brent–WTI yang lebar berarti konsumen Asia menanggung harga yang lebih tinggi dibanding konsumen AS. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi biasanya diumumkan pada awal bulan.
Bagaimana Peran OPEC+?
OPEC+ dapat memengaruhi selisih melalui keputusan produksi. Tambahan pasokan dari produsen Timur Tengah yang aman dari gangguan dapat menekan Brent dan mempersempit selisih. Sebaliknya, pemangkasan produksi saat risiko geopolitik tinggi akan memperlebar selisih.
Apa Skenario ke Depan?
| Skenario | Dampak ke selisih |
|---|---|
| De-eskalasi nyata di Timur Tengah | Menyempit, Brent turun lebih cepat |
| Ketegangan berlanjut | Tetap lebar di sekitar US$10–13 |
| Gangguan pasokan baru | Melebar lebih jauh |
Skenario ini bersifat ilustratif dan bukan prediksi.
Apa yang Perlu Dipantau?
- Perkembangan diplomasi AS–Iran dan keamanan jalur pelayaran.
- Data persediaan minyak AS yang dirilis setiap pekan.
- Keputusan produksi OPEC+.
- Volume ekspor minyak AS.
Data resmi tersedia di U.S. Energy Information Administration dan ICE Brent Futures.
Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual instrumen keuangan. Perdagangan komoditas dan kontrak berjangka berisiko tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana OPEC+ memengaruhi selisih Brent–WTI?
Tambahan pasokan dari produsen yang aman dapat menekan Brent dan mempersempit selisih, sedangkan pemangkasan produksi saat risiko tinggi memperlebarnya.
Berapa harga Brent dan WTI pada 28 Oktober 2026?
Brent ditutup di US$115,32 per barel (+1,26%) dan WTI di US$102,78 (+2,88%).
Berapa selisih Brent–WTI saat ini?
Sekitar US$12,54 per barel, jauh di atas kisaran yang lebih umum sekitar US$3–US$5.
Mengapa Brent lebih mahal dari WTI?
Karena risiko pasokan Timur Tengah lebih langsung memengaruhi Brent, sementara pasokan AS yang menjadi acuan WTI relatif aman.
Apa dampak selisih Brent–WTI bagi Indonesia?
Indonesia membeli minyak dengan acuan yang dekat dengan Brent, sehingga beban subsidi, kebutuhan dolar, dan tekanan inflasi lebih besar.
Siapa yang diuntungkan dari selisih yang lebar?
Kilang dan eksportir AS yang membeli minyak dengan harga WTI lalu menjual ke pasar internasional dengan harga mengikuti Brent.


