Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah. Setelah dibuka melemah 1,51% ke 5.247,98 pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026, IHSG justru ditutup menguat 90,63 poin (+1,70%) ke 5.418,99 pada akhir sesi I.
Kenaikan ini melanjutkan penguatan sehari sebelumnya, ketika IHSG naik 0,94% ke 5.328,36 usai Bank Indonesia menahan suku bunga.
Data Perdagangan Sesi I
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Penutupan sesi I | 5.418,99 |
| Perubahan | +90,63 poin (+1,70%) |
| Nilai transaksi | Rp9,19 triliun |
| Volume | 18,90 miliar saham |
| Frekuensi | 1,086 juta kali |
| Kapitalisasi pasar | Rp9.567 triliun |
Penopang: Saham Berkapitalisasi Besar
Kenaikan IHSG terutama ditopang BYAN (Bayan Resources) yang naik 6,08% ke Rp10.900 dan BREN (Barito Renewables Energy) yang melonjak 7,41% ke Rp2.320. Keduanya termasuk saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi, tetapi berbobot besar dalam indeks karena kapitalisasi pasarnya.
Saham bank BUMN juga menguat:
- BMRI naik 2,43% ke Rp3.790.
- BBNI naik 2,2%.
- BBRI naik 1,1%.
Penguatan saham bank BUMN berkaitan dengan kebijakan BI memangkas Giro Wajib Minimum, seperti dibahas di saham bank BUMN menguat usai GWM dipangkas.
Penguatan Meluas ke Banyak Sektor
Hingga akhir sesi I, penguatan meluas. RMOL mencatat 550 saham menguat dan 131 melemah, dengan seluruh sektor berada di zona hijau. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 3,24%, disusul transportasi (+2,60%) dan infrastruktur (+2,20%).
Tidak semua saham besar ikut naik. Data Katadata mencatat BBCA melemah 0,47% ke Rp5.250, sementara BOGA dan DNET juga terkoreksi. Perlu dicatat, data jumlah saham naik dan turun dapat berbeda antarsumber tergantung waktu pengambilan data selama sesi.
Konteks: Pemulihan Setelah Guncangan MSCI
IHSG masih dalam fase pemulihan setelah anjlok 11,57% ke 5.185,11 pada 16 Oktober 2026, ketika MSCI membuka konsultasi untuk mereklasifikasi pasar Indonesia. Bursa Efek Indonesia kemudian menurunkan batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7% mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026 untuk meredam tekanan jual.
Sejak titik terendah itu, IHSG sudah naik sekitar 4,5% hingga sesi I 22 Oktober. Namun level ini masih jauh di bawah posisi awal tahun, ketika IHSG sempat mendekati 9.000, seperti diulas di IHSG kian dekati 9.000.
Arus Dana Asing
Investor asing masih mencatat jual bersih sekitar Rp70,71 miliar di pasar reguler pada sesi I, menurut laporan pasar. Angka ini jauh lebih kecil dibanding tekanan jual pada pekan sebelumnya.
Yang Perlu Dicermati
- Konsistensi penguatan: rebound tajam setelah guncangan perlu dikonfirmasi oleh nilai transaksi dan arus dana asing dalam beberapa hari ke depan.
- Agenda global: FOMC The Fed 27–28 Oktober dan pemilu sela AS 3 November.
- Rupiah: pelemahan di atas Rp18.000 per dolar AS dapat membatasi minat asing. Lihat rupiah tembus Rp18.000.
Cara membaca level teknikal IHSG dijelaskan di support, resistance, dan moving average. Data perdagangan resmi tersedia di Bursa Efek Indonesia.
Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa IHSG hari ini, 22 Oktober 2026?
IHSG ditutup menguat 1,70% ke 5.418,99 pada akhir sesi I 22 Oktober 2026, setelah sempat dibuka melemah 1,51% ke 5.247,98.
Saham apa yang menopang IHSG pada 22 Oktober 2026?
Penopang utama adalah BYAN yang naik 6,08% dan BREN yang naik 7,41%, ditambah saham bank BUMN seperti BMRI, BBNI, dan BBRI.
Sektor apa yang memimpin IHSG pada sesi I 22 Oktober 2026?
Sektor energi memimpin dengan kenaikan 3,24%, disusul transportasi 2,60% dan infrastruktur 2,20%, dengan 550 saham menguat dan 131 melemah.


