Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025, Kadin Indonesia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menambah stimulus ekonomi guna memperkuat daya beli masyarakat dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional agar mampu bersaing dengan Vietnam dan China.
Kadin Minta Pemerintah Tambah Stimulus Ekonomi untuk Dongkrak Konsumsi Akhir Tahun
Menjelang momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto segera menambah stimulus ekonomi guna mengangkat kembali daya beli masyarakat yang tengah melemah.
Usulan ini mencuat seiring dengan tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya mencapai 4,98 persen pada kuartal III 2025. Angka tersebut dinilai masih belum cukup kuat untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan tekanan harga kebutuhan pokok menjelang akhir tahun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional (Bippenas-Kadin), Bayu Priawan Djokosoetono, menilai bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis. Salah satu opsi yang disarankan adalah memperluas paket stimulus ekonomi yang sudah ada.
“Program stimulus ekonomi 8+4+5 yang dijalankan pemerintah sejauh ini cukup bagus. Contohnya, program magang fresh graduate berhasil menarik lebih dari 156 ribu pendaftar, menunjukkan antusiasme tinggi dari generasi muda. Namun, Kadin berharap ada tambahan stimulus yang lebih spesifik, terutama di sektor pariwisata, untuk mendorong peningkatan aktivitas perjalanan dan belanja menjelang Libur Nataru 2025,” jelas Bayu dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11).
Perlu Percepatan Produktivitas Nasional untuk Saingi Negara Tetangga
Lebih lanjut, Bayu menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas nasional sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia menyoroti bahwa saat ini, Indonesia tertinggal dibandingkan Vietnam, yang sudah mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sejak kuartal II 2025.
Menurut data APO Databook 2025, kontribusi Total Factor Productivity (TFP) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mendekati nol persen, sedangkan Vietnam mencapai 8 persen, dan Tiongkok bahkan mencapai 26 persen.
“Selama ini pertumbuhan ekonomi kita lebih banyak didorong oleh penambahan modal dan tenaga kerja, bukan peningkatan efisiensi. Sudah saatnya pemerintah dan pelaku usaha bersinergi untuk meningkatkan produktivitas agar target pertumbuhan 8 persen bisa dicapai,” ujar Bayu menegaskan.
Dorongan untuk Transformasi Industri dan Teknologi Tepat Guna
Sementara itu, Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi Kadin Indonesia, Ikhwan Primanda, menyoroti bahwa produktivitas output PDB per pekerja Indonesia masih tergolong rendah, yakni rata-rata Rp13,78 juta per bulan.
Empat sektor yang memiliki produktivitas tertinggi antara lain sektor pertambangan, real estate, informasi dan komunikasi, serta penyediaan listrik dan gas. Menurut Ikhwan, sektor-sektor tersebut memiliki produktivitas tinggi karena bersifat padat teknologi dan padat modal, serta membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tinggi dan pendidikan memadai.
“Untuk meningkatkan daya saing nasional, Indonesia harus mendorong investasi yang membawa transfer teknologi dan mampu menciptakan efek ganda terhadap ekonomi lokal. Pemerintah perlu memastikan adanya alih teknologi kepada pelaku usaha nasional agar manfaat investasi bisa dirasakan lebih luas,” terang Ikhwan.
Ia menambahkan bahwa sektor industri pengolahan atau manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional, menyumbang 19,15 persen terhadap PDB. Pada kuartal III 2025, sektor ini tumbuh 5,54 persen (yoy), sementara PMI Manufaktur Indonesia terus berada di zona ekspansi, mencapai 51,2 pada September 2025.
“Transformasi industri harus diarahkan pada pengembangan industri bahan baku, bahan antara, dan industri hilir agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memperkuat rantai pasok nasional,” tegasnya.
Pertanian dan Pangan Masih Jadi Pilar Utama Ekonomi Rakyat
Dari sektor pangan dan pertanian, Ketua Komite Tetap Perencanaan Pangan Kadin Indonesia, Frans Tambunan, menekankan bahwa pertanian masih berperan penting sebagai sektor penyerap tenaga kerja terbesar, yakni 28,15 persen dari total pekerja nasional. Meski demikian, sektor ini hanya tumbuh 4,93 persen, padahal kontribusinya terhadap PDB mencapai 14,35 persen.
“Pemerintah perlu memperkuat sektor ini dengan modernisasi pertanian, inovasi teknologi tepat guna, dan investasi di lahan produktif baru. Selain itu, sektor perikanan juga harus didorong agar Indonesia bisa benar-benar menjadi lumbung pangan dunia,” ujar Frans.
Momentum Nataru Harus Dimanfaatkan untuk Pemulihan Ekonomi
Secara keseluruhan, Kadin Indonesia menilai momentum libur akhir tahun menjadi kesempatan strategis untuk memulihkan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan menambah stimulus ekonomi, mempercepat adopsi teknologi, dan meningkatkan produktivitas, Indonesia dapat memperkuat daya saingnya di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Kebijakan yang tepat dari Presiden Prabowo di penghujung tahun 2025 diharapkan mampu menciptakan efek domino positif: meningkatkan konsumsi, memperluas lapangan kerja, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Comment