Analis MUFG, Lloyd Chan, memperingatkan bahwa Rupiah Indonesia (IDR) tetap rentan karena kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) mengikis dukungan dari suku bunga Indonesia. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) telah mengalihkan fokus dari kenaikan suku bunga lebih lanjut ke alat stabilisasi non-suku bunga, sementara arus keluar portofolio asing yang kembali terjadi serta prospek neraca perdagangan yang lebih lemah menunjukkan bahwa tekanan mendasar pada Rupiah masih berlanjut dalam jangka pendek.
Alat Non-Suku Bunga Hadapi Tekanan yang Persisten
“IDR dan THB tetap lebih rentan,” tulis Chan dalam catatannya.
“Dukungan suku bunga Indonesia telah terkikis oleh kenaikan imbal hasil AS, sementara Bank Indonesia telah mengalihkan penekanannya dari kenaikan suku bunga lebih lanjut ke langkah-langkah stabilisasi non-suku bunga, termasuk lindung nilai Valas yang lebih murah bagi investor portofolio,” lanjutnya.
“Arus keluar portofolio asing yang kembali terjadi pada September dan prospek neraca perdagangan yang lebih lemah pada Agustus-September tetap menunjukkan bahwa tekanan mendasar pada rupiah belum hilang,” tutup Chan.
Konteks: Kenapa Kenaikan Imbal Hasil AS Menekan Mata Uang Emerging Market
Ketika imbal hasil obligasi Amerika Serikat naik, aset berdenominasi Dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global dibandingkan aset di pasar negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia, termasuk Rupiah. Kondisi ini dapat mendorong investor mengalihkan dananya keluar dari aset domestik menuju aset AS yang dianggap lebih aman sekaligus menawarkan imbal hasil yang kompetitif, sebuah fenomena yang tercermin dari arus keluar portofolio asing yang disebutkan MUFG dalam catatan ini.
Selisih suku bunga (interest rate differential) antara Indonesia dan AS biasanya menjadi salah satu daya tarik utama investor asing untuk menempatkan dana di aset Rupiah. Ketika selisih tersebut mengecil, baik karena imbal hasil AS naik maupun karena Bank Indonesia tidak lagi menaikkan suku bunga acuannya, daya tarik tersebut ikut berkurang.
Baca juga, Wall Street Bergerak Beragam di Tengah Musim Laporan Laba
Konteks: Apa itu Alat Stabilisasi Non-Suku Bunga
Selain menaikkan suku bunga acuan, bank sentral memiliki sejumlah alat lain untuk menstabilkan nilai tukar tanpa perlu mengubah suku bunga, salah satunya melalui skema lindung nilai valuta asing (hedging) yang lebih murah bagi investor portofolio, sebagaimana disinggung MUFG dalam catatannya. Skema ini bertujuan mengurangi biaya bagi investor asing untuk melindungi eksposur mata uangnya, sehingga diharapkan tetap menarik minat investor menempatkan dana di aset domestik tanpa perlu menaikkan suku bunga acuan yang dapat membebani sektor riil.
Pendekatan ini umumnya digunakan bank sentral ketika ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dinilai terbatas, misalnya karena pertimbangan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, namun tekanan terhadap nilai tukar tetap perlu diredam.


