Sydney Tokyo London New York
Komoditi

Minyak Brent Ditutup US$103,60 pada 3 November 2026: Serangan Qeshm dan Sinyal Perundingan Iran

Harga minyak bergerak lebar dalam sehari karena kabar militer dan diplomasi yang saling bertentangan. Ini rincian pergerakan, faktor pasokan, dan dampaknya bagi Indonesia.

Minyak Brent Ditutup US$103,60 pada 3 November 2026: Serangan Qeshm dan Sinyal Perundingan Iran

Minyak Brent ditutup turun 1,1% ke US$103,60 per barel pada 3 November 2026 setelah bergerak dalam rentang sekitar US$101,54–106,60, karena laporan serangan AS di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz bertabrakan dengan sinyal kemajuan perundingan dengan Iran. WTI ditutup turun 0,4% ke US$96,09.

Brent berada di dekat level terendah empat pekan setelah anjlok 7,6% pada 2 November.

Fakta kunci: Minyak Brent Ditutup US$103,60 pada 3 November 2026: Serangan Qeshm dan Sinyal Perundingan Iran
Brent: penutupan 30 Oktober hingga 3 November 2026.

Apa yang Terjadi pada 3 November?

Pada awal perdagangan Asia, Brent naik sekitar 0,5% ke US$105,25 setelah Wall Street Journal melaporkan, mengutip pejabat AS, serangan AS di Pulau Qeshm. Serangan disebut bersifat defensif untuk mencegah Iran menyerang kapal komersial. Harga sempat mencapai US$106,60, lalu turun sekitar 3% ke US$101,54 karena rumor kemajuan perundingan, sebelum ditutup di US$103,60.

Mengapa Harga Tidak Bertahan Tinggi?

Kronologi pergerakan Brent pada 3 November 2026
Kronologi pergerakan Brent pada 3 November.

Ekspor minyak produsen Teluk naik sekitar 10% bulan lalu menjadi lebih dari 15 juta barel per hari, dan indikator pasar fisik melemah. Pasokan yang tetap mengalir menahan kenaikan harga meski risiko geopolitik masih ada. Rebecca Babin dari CIBC Private Wealth Group menilai pedagang enggan membeli saat harga turun di tengah ketidakpastian.

Berapa Nilai Wajar Minyak?

Ryan McKay dari TD Securities menilai nilai wajar Brent berada di kisaran US$90–100 per barel, dengan potensi kenaikan dari premi risiko selama konflik berlanjut. Artinya, harga saat ini masih mengandung premi geopolitik yang bisa menguap jika perundingan berhasil. Penurunan tajam sebelumnya dibahas di minyak anjlok 7,6% pada 2 November 2026.

IndikatorNilai
Brent penutupan 3 NovUS$103,60 (−1,1%)
WTI penutupan 3 NovUS$96,09 (−0,4%)
Rentang Brent 3 NovUS$101,54–106,60
Ekspor Teluk OktoberLebih dari 15 juta bph
ICP SeptemberUS$112,81

Bagaimana Selisih Brent dan WTI?

Selisih Brent dan WTI sekitar US$7,5 per barel, lebih sempit dibanding akhir Oktober yang sempat di atas US$12. Penyempitan terjadi karena Brent, yang lebih sensitif terhadap risiko Timur Tengah, turun lebih dalam. Penjelasan perbedaan keduanya ada di Brent vs WTI: perbedaan dan spread.

Bagaimana Level Teknikal Brent?

Resistance terdekat berada di US$106,60, puncak 3 November, disusul US$110. Support berada di US$100 sebagai level psikologis dan US$96. Penutupan di bawah US$100 bisa membuka ruang menuju kisaran nilai wajar yang disebut analis.

Bagaimana Pengaruh Pemilu AS?

Hasil awal pemilu sela AS yang menunjukkan Demokrat unggul di DPR membuat dolar melemah. Dolar yang lebih lemah biasanya mendukung harga komoditas, tetapi kekhawatiran pertumbuhan ekonomi dan saham yang tertekan bisa mengimbangi efek tersebut.

Bagaimana Peran OPEC+?

OPEC+ mempertahankan produksi hingga Desember. Jika Brent terus turun mendekati US$100, sebagian anggota bisa mendorong pemotongan produksi. Pernyataan pejabat OPEC+ menjelang rapat berikutnya perlu dipantau.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Harga minyak acuan Indonesia September tercatat US$112,81 per barel. Jika Brent bertahan di kisaran US$100–105, ICP berikutnya bisa lebih rendah sehingga beban subsidi energi berkurang. Harga BBM nonsubsidi disesuaikan setiap awal bulan, sehingga dampak penurunan minyak paling cepat terasa pada Desember.

Bagaimana Dampak ke Rupiah?

Minyak yang lebih murah mengurangi kebutuhan dolar untuk impor energi, sehingga secara bertahap mendukung rupiah. Rupiah dibuka menguat ke Rp18.132 per dolar pada 4 November, meski penguatan itu lebih banyak didorong pelemahan dolar global.

Bagaimana Data Persediaan AS?

Data persediaan minyak mentah dan bensin AS dari EIA memberi gambaran keseimbangan pasokan dan permintaan. Penurunan persediaan biasanya mendukung harga, sedangkan kenaikan menekan harga. Cara membacanya dijelaskan di cara membaca laporan persediaan minyak EIA.

Bagaimana Permintaan Tiongkok?

Tiongkok adalah importir minyak terbesar dunia. PMI resmi yang turun ke 49,3 pada Oktober menunjukkan aktivitas manufaktur menyusut, yang bisa menekan permintaan minyak. Namun, pembelian untuk cadangan strategis saat harga turun bisa menahan penurunan.

Bagaimana Volatilitas Minyak?

Brent bergerak lebih dari US$5 dalam sehari pada 3 November dan lebih dari 7% pada 2 November. Volatilitas setinggi ini membuat posisi berjangka berisiko tinggi. Trader perlu memakai stop yang lebih lebar dan ukuran posisi yang lebih kecil dibanding kondisi normal.

Bagaimana Posisi Selat Hormuz?

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Setiap kabar serangan terhadap kapal atau fasilitas di sekitar selat ini langsung menaikkan premi risiko. Pulau Qeshm berada di dekat jalur pelayaran tersebut, sehingga laporan serangan di sana cepat memicu kenaikan harga.

Bagaimana Harga BBM Nonsubsidi?

Badan usaha menyesuaikan harga BBM nonsubsidi setiap awal bulan berdasarkan harga minyak dan kurs. Harga Pertamax pada awal November berada di sekitar Rp15.950 per liter. Jika Brent bertahan di bawah US$105 sepanjang November, peluang penurunan harga BBM nonsubsidi pada Desember lebih besar.

Apa yang Perlu Dipantau?

  • Perkembangan perundingan AS–Iran.
  • Keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
  • Data persediaan minyak AS dari EIA pada 4 November malam WIB.
  • Pernyataan OPEC+.

Data resmi tersedia di U.S. Energy Information Administration dan Kementerian ESDM.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi transaksi. Trading forex dan komoditas berisiko tinggi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa harga Brent pada 3 November 2026?

Ditutup US$103,60 per barel, turun 1,1%.

Berapa harga WTI pada 3 November 2026?

Ditutup US$96,09 per barel, turun 0,4%.

Mengapa harga minyak bergerak lebar?

Karena kabar serangan AS di Pulau Qeshm bertabrakan dengan sinyal kemajuan perundingan dengan Iran.

Berapa nilai wajar Brent menurut TD Securities?

Sekitar US$90–100 per barel.

Apa dampaknya bagi Indonesia?

ICP berikutnya bisa lebih rendah sehingga beban subsidi energi berkurang.