Nada hawkish pejabat The Fed kembali menguatkan Dolar AS. Pasar kini memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif di tengah risiko inflasi yang masih tinggi dan perlambatan tenaga kerja.
Dolar AS Menguat di Tengah Nada Hawkish The Fed
Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Kamis (9/10), setelah munculnya komentar bernada lebih hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Pernyataan mereka menegaskan bahwa bank sentral masih berhati-hati terhadap risiko inflasi dan belum akan mengambil langkah pelonggaran moneter yang agresif.
Mengutip laporan Reuters, Jumat (10/10), Indeks Dolar (DXY) naik 0,62% menjadi 99,47, memperpanjang reli yang telah terbentuk sejak awal pekan. Kenaikan ini dipicu oleh risalah rapat The Fed bulan lalu yang menunjukkan bahwa para pejabat sepakat risiko terhadap pasar tenaga kerja meningkat, namun mereka tetap menilai inflasi masih perlu diwaspadai.
Risalah Rapat The Fed Isyaratkan Kewaspadaan terhadap Inflasi
Isi risalah rapat terbaru memperlihatkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed menilai tekanan inflasi memang mulai melandai, tetapi belum cukup untuk membenarkan pelonggaran moneter yang cepat. Dengan kata lain, The Fed belum sepenuhnya yakin bahwa inflasi sudah terkendali.
“Kami melihat nada yang lebih hawkish dari pembuat kebijakan The Fed, baik dalam risalah rapat maupun komentar terbaru. Hal itu menekan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga yang lebih besar,” ujar Karl Schamotta, Kepala Strategi Pasar di Corpay.
Pernyataan Schamotta mencerminkan pandangan umum di pasar bahwa The Fed akan tetap berhati-hati, terutama setelah data ekonomi terbaru menunjukkan tanda-tanda ketahanan inflasi di tengah pelemahan tenaga kerja.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menurun
Sebelum risalah rapat dirilis, pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga lebih dari satu kali hingga akhir tahun ini. Namun kini, peluang pemangkasan agresif mulai menurun.
Pelaku pasar memperkirakan 95% peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Oktober. Sementara peluang pemangkasan tambahan pada Desember turun menjadi 82%, dari sebelumnya 90% pekan lalu.
Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang semakin realistis terhadap kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung ketat dalam waktu dekat.
Pejabat The Fed Tekankan Kehati-hatian
Beberapa pejabat tinggi The Fed juga memberikan sinyal yang senada.
Gubernur The Fed, Michael Barr, menegaskan bahwa penurunan suku bunga perlu dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan risiko baru bagi stabilitas harga.
“Kami tidak ingin terburu-buru menurunkan suku bunga, karena risiko inflasi masih ada,” tegas Barr.
Sementara itu, Presiden The Fed New York, John Williams, menilai bahwa pelonggaran tambahan mungkin diperlukan menjelang akhir tahun ini, terutama jika pasar tenaga kerja terus menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
“Kami akan terus mengevaluasi data tenaga kerja dan inflasi. Jika perlambatan ekonomi berlanjut, pemangkasan tambahan bisa menjadi opsi,” ujarnya.
Pandangan berbeda di antara pejabat The Fed ini mencerminkan dinamika kebijakan moneter AS yang masih penuh ketidakpastian. Namun satu hal pasti: The Fed tidak ingin kehilangan kendali atas inflasi yang sempat melonjak tinggi pada 2022–2023.
Inflasi Jadi Fokus Utama Bank Sentral
Inflasi masih menjadi isu utama dalam pengambilan kebijakan The Fed. Meskipun data terbaru menunjukkan penurunan bertahap, inflasi inti masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral.
Kondisi ini menempatkan The Fed dalam posisi yang sulit — di satu sisi ingin mendorong pertumbuhan ekonomi melalui suku bunga yang lebih rendah, tetapi di sisi lain masih harus menjaga stabilitas harga agar tidak terjadi lonjakan inflasi baru.
Investor kini memantau dengan cermat setiap pernyataan pejabat bank sentral, karena sedikit perubahan nada bisa memicu pergerakan besar di pasar mata uang dan obligasi.
Pasar Juga Waspadai Isu Penutupan Pemerintahan AS
Selain kebijakan moneter, pelaku pasar turut memantau potensi penutupan pemerintahan (government shutdown) yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan antara partai politik di Kongres mengenai anggaran negara.
Menteri Perhubungan AS, Sean Duffy, bahkan memperingatkan bahwa absensi berulang dari para pengatur lalu lintas udara mulai menyebabkan gangguan besar penerbangan di sejumlah wilayah.
Hal ini menambah tekanan terhadap sektor transportasi dan pariwisata AS, yang sebelumnya sudah terpengaruh oleh ketidakpastian ekonomi.
Investor Fokus pada Data Ekonomi Berikutnya
Ke depan, pelaku pasar akan menunggu rilis data penting seperti inflasi konsumen (CPI), pengangguran, dan penjualan ritel untuk melihat arah kebijakan The Fed selanjutnya. Jika data menunjukkan inflasi masih bertahan tinggi, maka peluang penurunan suku bunga lanjutan bisa semakin kecil.
Sebaliknya, bila data memperlihatkan perlambatan yang lebih tajam di sektor tenaga kerja, maka tekanan terhadap The Fed untuk memangkas suku bunga bisa meningkat.
Namun untuk saat ini, nada kebijakan The Fed masih jelas: lebih hawkish, lebih hati-hati, dan berorientasi pada stabilitas harga.
Dolar Masih Punya Tenaga untuk Menguat
Dengan nada hawkish yang kembali digaungkan oleh pejabat The Fed, Dolar AS kemungkinan masih punya ruang untuk menguat dalam jangka pendek.
Pasar kini menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter yang lebih konservatif.
Meskipun ada risiko perlambatan ekonomi, investor tampaknya lebih percaya bahwa The Fed akan tetap fokus pada pengendalian inflasi ketimbang mempercepat pemangkasan suku bunga.
Akibatnya, permintaan terhadap Dolar sebagai aset safe haven meningkat, terutama di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global yang terus berlangsung.

Comment