Sydney Tokyo London New York
Komoditi

Harga CPO KPBN Naik ke Rp15.158 per Kg, Kontrak Sawit Bursa Malaysia di Sekitar RM4.800

Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat ditopang harga minyak dunia dan ekspor Malaysia yang melonjak. Namun stok Malaysia yang mencapai rekor membatasi kenaikan.

Harga CPO KPBN Naik ke Rp15.158 per Kg, Kontrak Sawit Bursa Malaysia di Sekitar RM4.800

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik menguat. Pada tender KPBN Inacom Selasa, 20 Oktober 2026, harga CPO Franco Dumai naik Rp108 (+0,72%) menjadi Rp15.158 per kg, dari Rp15.050 sehari sebelumnya.

Di pasar global, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives bergerak di sekitar RM4.800 per ton dan kembali menguat setelah sempat terkoreksi.

Fakta kunci: Harga CPO KPBN Naik ke Rp15.158 per Kg, Kontrak Sawit Bursa Malaysia di Sekitar RM4.800
Indikator harga CPO domestik dan global.

Harga CPO KPBN per Lokasi (20 Oktober 2026)

LokasiHarga (Rp/kg)
Franco Dumai15.158
Franco Teluk Bayur14.958
FOB Talang Duku14.908
Loco PKS Ngabang14.783
Loco PKS Parindu14.768
Loco PKS Kembayan14.658

Perbedaan harga antar lokasi mencerminkan biaya logistik dan kualitas pasokan di masing-masing wilayah.

Pemicu Penguatan

1. Harga minyak dunia tinggi. Dengan Brent mendekati US$110 per barel, CPO menjadi lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi minyak dibahas di harga minyak Brent dekat US$110.

2. Ekspor Malaysia melonjak. Data surveyor kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada paruh pertama Oktober naik sekitar 43,2%–58,3% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya.

3. Permintaan India. India meningkatkan pembelian menjelang musim festival.

4. Minyak nabati di Dalian menguat. Kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian, China, ikut menopang CPO.

Faktor Penahan

Stok sawit Malaysia mencapai rekor 3,51 juta ton pada September 2026. Stok yang tinggi menandakan pasokan melimpah, sehingga membatasi kenaikan harga.

Kebijakan Indonesia

Pemerintah menaikkan harga referensi CPO Oktober 2026 sebesar 3,44% menjadi US$1.042,15 per ton. Harga referensi ini menjadi dasar penetapan bea keluar dan pungutan ekspor CPO.

Selain itu, rencana mandatori biodiesel B50 berpotensi meningkatkan konsumsi CPO di dalam negeri, sehingga mengurangi pasokan untuk ekspor. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap El Niño dapat memengaruhi prospek produksi pada 2027.

Cara Membaca Harga CPO

Harga CPO dapat dilihat dari dua sisi:

  • Harga fisik domestik seperti KPBN, dalam rupiah per kg, yang menjadi acuan transaksi di dalam negeri.
  • Harga kontrak berjangka di Bursa Malaysia, dalam ringgit per ton, yang mencerminkan ekspektasi pasar global.

Kontrak berjangka memiliki struktur harga yang bisa berbentuk contango atau backwardation, seperti dijelaskan di contango dan backwardation.

Dampak bagi Emiten dan Petani

Kenaikan harga CPO biasanya positif bagi emiten perkebunan dan petani sawit, yang sahamnya termasuk sektor barang konsumen primer dalam indeks sektoral IDX-IC, karena harga tandan buah segar (TBS) mengikuti harga CPO. Namun pungutan ekspor dan bea keluar yang naik bersamaan dengan harga referensi dapat mengurangi sebagian manfaatnya.

Informasi kontrak CPO berjangka tersedia di Bursa Malaysia.

Konten ini bersifat informasi dan edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual instrumen keuangan. Perdagangan komoditas dan kontrak berjangka berisiko tinggi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa harga CPO KPBN hari ini?

Pada 20 Oktober 2026, harga CPO KPBN Franco Dumai naik ke Rp15.158 per kg, dari Rp15.050 sehari sebelumnya.

Berapa harga referensi CPO Oktober 2026?

Pemerintah menetapkan harga referensi CPO Oktober 2026 sebesar US$1.042,15 per ton, naik 3,44%.

Apa yang menahan kenaikan harga CPO?

Stok minyak sawit Malaysia yang mencapai rekor 3,51 juta ton pada September 2026 membatasi kenaikan harga.