Yen pulih didorong ancaman intervensi dan stimulus raksasa ¥21,3 triliun, namun ketidakpastian suku bunga BoJ dan penguatan USD membuat USD/JPY tetap volatile.
Yen Melonjak Kembali
Yen Jepang (JPY) kembali memperlihatkan pemulihan moderat pada perdagangan Jumat di sesi Asia, menandai jeda dari tren pelemahan yang terjadi belakangan ini. Kenaikan ini bukan tanpa alasan: meningkatnya kekhawatiran bahwa pemerintah Jepang dapat melakukan intervensi pasar membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menekan Yen lebih rendah. Selain itu, sentimen hati-hati di pasar ekuitas global meningkatkan minat terhadap aset safe haven, sehingga memberi dorongan tambahan bagi mata uang Jepang tersebut.
Meskipun demikian, reli Yen diperkirakan masih terbatas. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Bank of Japan (BoJ), ditambah meningkatnya kekhawatiran fiskal setelah pemerintah menyetujui paket stimulus jumbo, membuat ruang penguatan JPY menjadi terbatas. Pada saat yang sama, Dolar AS (USD) tetap kokoh di dekat level tertinggi sejak akhir Mei, didukung oleh ekspektasi Federal Reserve (Fed) yang kurang dovish serta data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kombinasi faktor-faktor tersebut menjaga tekanan naik terhadap pasangan mata uang USD/JPY.
Ancaman Intervensi Terkuat dari Pemerintah Jepang
Salah satu pendorong utama penguatan Yen adalah pernyataan tegas dari Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama. Dalam pernyataan paling kerasnya sejauh ini, ia menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk mengatasi volatilitas berlebihan dan pergerakan yang tidak teratur di pasar mata uang. Katayama bahkan secara eksplisit menyebutkan potensi intervensi, sebuah sinyal yang langsung memicu lonjakan minat beli terhadap Yen.
Sikap agresif ini memberi pesan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam menyaksikan depresiasi Yen yang terlalu dalam, terutama ketika pelemahan mata uang mulai meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi domestik. Gubernur BoJ, Kazuo Ueda, turut menegaskan bahwa dampak pelemahan JPY terhadap harga konsumen kini jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Inflasi Jepang Tetap Panas, Menekan Harapan Kebijakan BoJ
Data terbaru dari Biro Statistik Jepang menunjukkan bahwa inflasi tetap kuat. Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional dan IHK inti (tidak termasuk makanan segar) mencatat kenaikan 3,0% YoY pada Oktober. Bahkan, inflasi inti yang tidak termasuk makanan segar dan energi—ukuran yang paling diamati BoJ—mencapai 3,1%, meningkat dari 3,0% sebelumnya.
Angka-angka ini mempertegas bahwa inflasi masih bertahan jauh di atas target 2% BoJ, memperkuat argumen mengenai perlunya pengetatan kebijakan. Namun, ekspektasi pasar tetap terbagi. Dalam survei Reuters, mayoritas kecil ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga menuju 0,75% pada Desember 2025, sementara seluruh responden memperkirakan level tersebut akan tercapai paling lambat pada akhir kuartal pertama 2026. Ketidakpastian ini diperbesar oleh sikap fiskal ekspansif Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang diketahui lebih menyukai suku bunga rendah untuk mendukung stimulus ekonomi.
Stimulus Jumbo Jepang: Dua Sisi Pedang bagi Yen
Kabinet Jepang baru saja mengesahkan paket stimulus ekonomi senilai ¥21,3 triliun—salah satu yang terbesar sejak pandemi COVID-19. Dari jumlah tersebut, ¥17,7 triliun dialokasikan untuk belanja akun umum, melampaui tahun lalu yang sebesar ¥13,9 triliun. Paket ini juga mencakup program pemotongan pajak senilai ¥2,7 triliun.
Stimulus besar ini berpotensi mendorong ekonomi dalam jangka pendek, namun menambah kekhawatiran tentang kondisi keuangan pemerintah Jepang yang sudah rapuh. Pasar melihat angka ini sebagai dua sisi mata uang: positif bagi pertumbuhan, namun negatif bagi Yen karena memperbesar risiko fiskal dan mengurangi peluang BoJ untuk menaikkan suku bunga secara agresif.
Dolar AS Tetap Kokoh Setelah Data NFP yang Lebih Kuat
Di sisi lain, kekuatan USD didukung oleh rilis Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang tertunda. Laporan tersebut menunjukkan penambahan 119.000 pekerjaan pada September, melebihi ekspektasi pasar sebesar 50.000. Tingkat pengangguran memang naik tipis ke 4,4%, namun data ini meredakan kekhawatiran tentang perlambatan pasar tenaga kerja AS.
Dengan lebih sedikit alasan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada Desember, pasar kembali mengurangi taruhan dovish. Hasilnya, Dolar AS mempertahankan reli mingguan yang solid dan tetap berada di jalur penguatan. Hal ini secara langsung mempersempit ruang penguatan Yen terhadap USD.
USD/JPY Butuh Konsolidasi Setelah RSI Jenuh Beli
Secara teknis, grafik harian USD/JPY menunjukkan kondisi jenuh beli berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI). Hal ini membuat para pelaku pasar enggan menambah posisi beli baru, sehingga memberi peluang terbatas untuk koreksi jangka pendek. Area sekitar 157,00 menjadi support awal, dengan zona 156,65–156,60 sebagai support lebih kuat. Jika ditembus, pasangan ini dapat menguji wilayah 156,00.
Sebaliknya, pada sisi upside, level 158,00 menjadi resistance terdekat. Penembusan level ini membuka peluang menuju area pertengahan 158,00 dan selanjutnya menguji swing high Januari di sekitar 159,00.

Comment