Rupee India tetap stabil di sekitar 88,70 terhadap Dolar AS, ditopang oleh intervensi rutin RBI dan ekspektasi penurunan suku bunga akibat inflasi yang melemah. Ketidakpastian dari penutupan pemerintah AS turut menekan Dolar di pasar global.
Pasangan mata uang USD/INR diperdagangkan relatif stabil pada awal pekan ini, dengan Rupee India (INR) tetap berada di kisaran 88,70 per Dolar AS selama sesi Asia hari Senin. Meskipun tekanan terhadap mata uang emerging markets meningkat akibat ketegangan global dan ketidakpastian ekonomi AS, intervensi aktif dari Reserve Bank of India (RBI) membantu menjaga stabilitas Rupee di atas level terendah sepanjang masa di 88,87 yang tercatat pada 24 September.
RBI Menahan Pelemahan Rupee di Tengah Tekanan Eksternal
Sumber pasar melaporkan bahwa RBI terus melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing, baik melalui penjualan Dolar maupun pengaturan likuiditas untuk mengontrol volatilitas mata uang domestik. Langkah ini terbukti efektif menjaga Rupee dari pelemahan lebih dalam, terutama di tengah penguatan Dolar AS yang sebelumnya sempat menekan mata uang Asia.
Investor kini menunggu rilis data inflasi konsumen India (IHK) untuk bulan September yang dijadwalkan hari ini. Ekspektasi pasar menunjukkan inflasi tahunan dapat turun menjadi 1,7%, jauh di bawah kisaran target RBI 2–6%. Penurunan tajam tersebut dapat memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter mendatang, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.
Jika inflasi benar-benar melambat di bawah target, RBI kemungkinan akan memiliki ruang lebih luas untuk melonggarkan kebijakan, terutama dengan stabilnya arus modal asing dan kondisi eksternal yang relatif mendukung.
Optimisme Pasar Didukung oleh Arus Masuk Modal Asing
Dalam beberapa hari terakhir, arus masuk investor institusional asing (FII) menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa FII terus membeli saham-saham India di pasar tunai sejak 7 Oktober, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi domestik India.
Faktor ini menjadi katalis positif bagi Rupee, terutama saat pasar menilai potensi perbaikan hubungan dagang antara India dan Amerika Serikat setelah kedua negara menyatakan komitmen untuk memperkuat kemitraan ekonomi.
Dolar AS Melemah Akibat Ketidakpastian Politik dan Komentar Trump
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) melemah dan bertahan di sekitar 98,90, setelah mencatat penurunan lebih dari 0,5% di sesi sebelumnya. Pelemahan Dolar terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan ketidakpastian pasar. Trump menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di KTT Korea Selatan dan mengancam akan memberlakukan tarif 100% terhadap impor asal Tiongkok.
Namun, nada keras tersebut sedikit mereda ketika Trump, melalui akun Truth Social, mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok “akan baik-baik saja” dan bahwa Amerika Serikat ingin “membantu Tiongkok, bukan menyakitinya.”
Pernyataan yang lebih tenang ini membantu menahan penurunan lebih lanjut pada Dolar AS, meski investor tetap berhati-hati.
Penutupan Pemerintah AS dan Sinyal Pelonggaran The Fed Menekan Dolar
Selain ketegangan dagang, penutupan sebagian pemerintahan federal AS yang telah memasuki minggu ketiga menjadi faktor tambahan yang menekan Dolar. Pembayaran gaji pegawai negeri yang seharusnya dijadwalkan Jumat lalu terpaksa ditunda, dan kondisi ini kemungkinan bertahan hingga Selasa karena libur Columbus Day pada Senin.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September menunjukkan kecenderungan kuat para pejabat bank sentral untuk melanjutkan penurunan suku bunga tahun ini.
Sebagian besar pembuat kebijakan mendukung pemotongan suku bunga di September dan memberi sinyal adanya pemangkasan tambahan di akhir tahun, meskipun beberapa anggota masih berhati-hati terhadap risiko inflasi.
Pernyataan pejabat Fed juga memperkuat pandangan tersebut. Presiden Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyebut inflasi masih tinggi, sementara Presiden Fed San Francisco, Mary Daly, mengakui bahwa inflasi kini jauh lebih rendah dari kekhawatirannya sebelumnya, membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan lebih lanjut.
Menurut alat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan 96% peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober, dan 87% kemungkinan pemangkasan tambahan pada Desember.
Analisis Teknis: USD/INR Bertahan di Atas Support, Bias Masih Bullish
Secara teknikal, USD/INR mempertahankan posisinya di sekitar 88,70, dengan Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari berperan sebagai support dinamis jangka pendek. Relative Strength Index (RSI) 14 hari masih bertahan di atas level 50, menandakan momentum bullish masih utuh.
Apabila pasangan ini berhasil menembus level 88,87, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa, maka USD/INR berpotensi menuju area 89,50, yang bertepatan dengan batas atas pola ascending channel.
Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah EMA 9 hari, maka pasangan ini berisiko menguji support di 88,51, yakni level terendah pada 10 Oktober.
Pasar Menunggu Arah Baru dari Inflasi dan The Fed
Stabilitas Rupee India mencerminkan keseimbangan antara dukungan intervensi RBI dan tekanan eksternal dari Dolar AS. Jika inflasi India benar-benar turun di bawah target dan The Fed mempertegas sikap dovish-nya, INR berpotensi memperpanjang penguatannya. Namun, ketidakpastian dari AS dan gejolak global masih dapat memicu volatilitas jangka pendek.
Bagi trader forex, fokus utama pekan ini adalah data inflasi India, pernyataan pejabat The Fed, dan perkembangan penutupan pemerintah AS, yang semuanya berpotensi menentukan arah pergerakan USD/INR selanjutnya.

Comment