IHSG dibuka menguat tipis meski sentimen global melemah. Saham BUMI, BBCA, dan BBRI menjadi yang paling aktif diperdagangkan. Sementara itu, pasar Asia dan Wall Street melemah akibat tekanan pada saham teknologi dan minimnya kepastian pemangkasan suku bunga The Fed. Simak analisis lengkapnya.
Saham BUMI, BBCA, dan BBRI Jadi Sorotan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali membuka perdagangan di zona positif pada Kamis (13/11/2025). Pada awal sesi, indeks utama Bursa Efek Indonesia tersebut naik tipis 0,07% atau bertambah 6,13 poin, sehingga bergerak ke level 8.378,13. Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat beli investor masih cukup kuat meski pasar menghadapi tekanan dari sentimen global.
Pada pembukaan, tercatat 210 saham menguat, sementara 106 melemah dan 294 bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan juga terlihat cukup aktif. Hingga sesi awal, nilai transaksi mencapai Rp 278,09 miliar, melibatkan 489,90 juta saham yang diperdagangkan dalam 61.790 transaksi. Tingginya volume ini mencerminkan optimisme selektif di kalangan pelaku pasar.
Saham Paling Ramai Ditransaksikan dan Top Gainers
Beberapa saham unggulan langsung menjadi pusat perhatian sejak menit pertama perdagangan. BUMI, BBCA, dan BBRI tercatat sebagai saham yang paling banyak diperdagangkan oleh investor, baik ritel maupun institusi. Aktivitas transaksi yang tinggi ini sering kali mencerminkan minat spekulatif maupun strategi penyeimbangan portofolio menjelang akhir tahun.
Sementara itu, saham PURI, KTDN, dan MORA muncul sebagai saham dengan kenaikan harga terbesar pada sesi pagi. Lonjakan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen korporasi dan aksi beli agresif investor yang mencari peluang short-term gain.
Sentimen yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar
Pelaku pasar domestik kini berada pada fase wait and see, di mana sejumlah faktor eksternal akan berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG dan rupiah sepanjang hari. Di satu sisi, berakhirnya shutdown pemerintah AS memberikan sedikit ruang bagi pelaku pasar untuk bernapas lega, mengingat ketidakpastian anggaran telah menekan sentimen global dalam beberapa minggu terakhir.
Namun, di sisi lain, ketidakpastian mengenai pemangkasan suku bunga The Fed kembali memicu kekhawatiran. Pasar masih memperdebatkan apakah bank sentral AS akan benar-benar melanjutkan pelonggaran kebijakan pada pertemuan 9–10 Desember. Keraguan ini dapat menjadi katalis negatif bagi aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.
Pasar Asia-Pasifik Merosot Mengikuti Wall Street
Meskipun IHSG dibuka positif, pasar regional justru menunjukkan tren yang melemah. Pada perdagangan Jumat (14/11/2025), pasar Asia-Pasifik bergerak turun mengikuti pelemahan tajam di Wall Street. Tekanan terbesar datang dari koreksi berlanjut pada sektor teknologi, yang menjadi sektor paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.
Di Jepang, Nikkei 225 anjlok 1,85%, disusul Topix yang turun 1,03%. Saham-saham teknologi Jepang memimpin pelemahan:
-
Rakuten Group turun 6,57%
-
Advantest melemah 5,27%
-
Lasertec merosot 3,97%
Raksasa teknologi SoftBank juga jatuh hingga 8% setelah mengumumkan penjualan seluruh kepemilikannya di Nvidia, memperpanjang tren penurunannya selama tiga hari berturut-turut.
Tekanan tidak hanya terjadi di Jepang. Di Korea Selatan, Kospi merosot 2,29%, sementara Kosdaq turun 1,42%. Saham unggulan seperti Samsung Electronics melemah lebih dari 3%, dan SK Hynix, salah satu pemasok utama Nvidia, turun 5%. Pasar Australia pun tidak mampu menghindari tekanan global, dengan S&P/ASX 200 terkoreksi 1,58%.
China Siap Merilis Sejumlah Data Ekonomi Penting
Investor kini menantikan serangkaian rilis data ekonomi dari China, termasuk penjualan ritel, output industri, dan investasi aset tetap untuk periode Oktober. Sebelumnya, investasi aset tetap China—yang mencakup sektor properti—turun secara mengejutkan sebesar 0,5% pada September. Data terbaru sangat dinantikan untuk melihat apakah pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu mulai bergerak lebih stabil atau justru menunjukkan pelemahan lanjutan.
Wall Street Melemah Tajam, Tekanan Teknologi Dominan
Sentimen negatif global turut diperburuk oleh koreksi besar di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average jatuh 797,60 poin atau 1,65% ke 47.457,22, menjauhi rekor tertingginya. S&P 500 melemah 1,66% ke 6.737,49.
Sektor teknologi informasi dan layanan komunikasi menjadi pendorong utama penurunan, dengan Disney mencatat penurunan hampir 8% setelah merilis kinerja kuartal IV yang beragam. Nasdaq Composite turun lebih dalam, yaitu 2,29% ke 22.870,36, sementara indeks lain termasuk Russell 2000 mengalami hari terburuk sejak 10 Oktober.
Komentar Fed Menambah Tekanan
Komentar terbaru dari pejabat The Fed, khususnya Boston Fed President Susan Collins, memberikan tekanan tambahan pada pasar. Ia menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan perlu dipertahankan pada level saat ini untuk menjaga keseimbangan antara risiko inflasi dan kondisi ketenagakerjaan. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali menyesuaikan ekspektasinya dari peluang pemangkasan 2:1 menjadi 50:50, berdasarkan alat FedWatch CME Group.

Comment