Harga minyak global melemah setelah Amerika Serikat menyepakati impor minyak dari Venezuela, memicu kekhawatiran lonjakan pasokan dan potensi surplus global pada 2026.
Pasokan Global Terancam Melimpah
Harga minyak global kembali berada di bawah tekanan setelah Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk mengimpor minyak dari Venezuela dengan nilai hingga US$2 miliar. Kesepakatan tersebut memicu kekhawatiran pasar akan bertambahnya pasokan minyak global di tengah prospek permintaan yang masih lemah, sehingga mendorong aksi jual di pasar energi.
Mengutip laporan Reuters pada Kamis (8/1/2026), harga minyak berjangka Brent turun 77 sen atau sekitar 1,3% ke level US$59,94 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah lebih dalam dengan penurunan US$1,14 atau sekitar 2% ke level US$55,99 per barel. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya, di mana kedua kontrak telah terkoreksi lebih dari US$1 per barel.
Tekanan harga minyak kali ini terutama dipicu oleh ekspektasi bahwa pasokan global akan semakin melimpah sepanjang 2026, seiring dibukanya kembali jalur ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat.
Kesepakatan AS–Venezuela Picu Kekhawatiran Pasokan
Kesepakatan impor minyak Venezuela diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini dinilai berpotensi mengubah peta perdagangan minyak global, termasuk pengalihan rute pengiriman minyak Venezuela yang sebelumnya banyak diarahkan ke China.
Seorang sumber yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa minyak Venezuela yang sebelumnya tertahan akibat sanksi kini berpeluang masuk ke pasar AS, sehingga meningkatkan suplai minyak mentah di kawasan Atlantik. Kondisi ini menambah tekanan pada harga minyak yang sudah dibayangi oleh prospek surplus pasokan tahun ini.
Venezuela sendiri diketahui memiliki jutaan barel minyak yang telah dimuat di kapal tanker maupun disimpan di fasilitas penyimpanan. Namun, minyak tersebut tidak dapat diekspor sejak pertengahan Desember 2025 akibat blokade ekspor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Ketegangan Politik dan Dampaknya ke Pasar Energi
Blokade ekspor minyak Venezuela merupakan bagian dari kampanye tekanan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah pasukan AS menangkap Maduro pada akhir pekan lalu, sebuah langkah yang langsung memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela.
Pejabat tinggi Venezuela menyebut penangkapan tersebut sebagai tindakan penculikan dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak besar milik negara Amerika Latin itu. Dalam unggahan di media sosial pada Selasa (6/1/2026), Trump menyatakan bahwa Venezuela akan “menyerahkan” sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya berada di bawah sanksi AS.
Meski pernyataan tersebut mengejutkan pasar, sejumlah analis menilai dampaknya terhadap keseimbangan global relatif terbatas dalam jangka pendek.
Tambahan Pasokan Dinilai Relatif Kecil
Analis komoditas dari SEB, Ole Hvalbye, menyatakan bahwa volume minyak Venezuela yang masuk ke AS tergolong kecil jika dibandingkan dengan skala pasar global. Menurutnya, tambahan pasokan sebesar 30–50 juta barel tidak terlalu signifikan dalam konteks yang lebih luas.
Sebagai perbandingan, cadangan minyak strategis Amerika Serikat (Strategic Petroleum Reserve/SPR) saat ini berada di kisaran 413 juta barel. Dengan demikian, masuknya minyak Venezuela hanya menambah sebagian kecil dari total cadangan tersebut.
Namun demikian, pasar tetap merespons negatif karena kesepakatan ini memperkuat narasi bahwa pasokan minyak global akan melimpah pada 2026, terutama jika produksi dari OPEC dan negara non-OPEC terus meningkat.
Faktor Fundamental Beri Penopang Terbatas
Di tengah tekanan sentimen pasokan, harga minyak sempat mendapat sedikit dukungan dari data persediaan minyak mentah AS. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Januari 2026.
Penurunan ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 447.000 barel. Data tersebut sempat memberikan angin segar bagi pasar, namun efeknya tertahan oleh lonjakan signifikan pada persediaan produk olahan.
Persediaan bensin AS tercatat melonjak 7,7 juta barel dalam sepekan, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 3,2 juta barel. Sementara itu, stok distilat—yang mencakup solar dan minyak pemanas—naik 5,6 juta barel, dibandingkan perkiraan kenaikan 2,1 juta barel.
Lonjakan stok produk olahan ini mengindikasikan lemahnya permintaan akhir, sehingga kembali menekan sentimen pasar minyak.
Ancaman Surplus Pasokan Global
Analis Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026. Proyeksi ini didasarkan pada kombinasi pertumbuhan permintaan yang lesu sepanjang tahun lalu serta peningkatan produksi dari negara-negara OPEC dan non-OPEC.
Surplus tersebut berisiko menahan kenaikan harga minyak dan bahkan membuka ruang bagi tekanan lanjutan jika permintaan tidak pulih sesuai harapan.
Namun, tidak semua analis bersikap pesimistis dalam jangka menengah.
Minyak Venezuela Bisa Menahan Ekspansi Produksi AS
Analis dari BMI, unit usaha Fitch Solutions, menilai bahwa masuknya minyak Venezuela ke pasar global dapat membawa dampak yang lebih kompleks. Minyak mentah Venezuela, khususnya jenis Merey, dikenal lebih murah dan relatif mudah diekstraksi dibandingkan sumber minyak tertentu di AS.
Saat ini, Venezuela menjual minyak Merey dengan diskon sekitar US$22 per barel di bawah harga Brent untuk pengiriman di pelabuhan domestik. Harga yang lebih kompetitif ini dinilai berpotensi menahan ekspansi kapasitas produksi minyak di Amerika Serikat dan wilayah lain, karena produsen akan menghadapi tekanan margin.
“Kondisi ini justru meningkatkan ekspektasi harga minyak dalam jangka menengah, terutama jika rezim Venezuela mampu bertahan,” tulis analis BMI dalam catatan risetnya.
Volatilitas Masih Membayangi Pasar Minyak
Secara keseluruhan, harga minyak global saat ini berada dalam tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran pasokan, terutama setelah kesepakatan impor minyak Venezuela oleh AS. Meski tambahan pasokan dinilai tidak terlalu besar secara absolut, sentimen pasar tetap sensitif terhadap potensi surplus di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik, kebijakan energi AS, respons OPEC, serta perkembangan permintaan global. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, sementara pasar terus menimbang apakah banjir pasokan benar-benar akan terjadi atau justru menciptakan penyeimbangan baru dalam industri energi global.

Comment