Harga minyak dunia naik tipis menjelang libur Thanksgiving, meski pasar menilai risiko surplus pasokan serta perkembangan negosiasi damai Rusia–Ukraina. Ketidakpastian kebijakan OPEC+, lonjakan persediaan minyak AS, dan sanksi barat terhadap Rusia menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak ke depan.
Pasokan Global Diproyeksikan Surplus
Harga minyak global kembali menunjukkan penguatan tipis pada akhir pekan perdagangan, bertepatan dengan mendekatnya libur Thanksgiving di Amerika Serikat. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar energi yang semakin sensitif terhadap kombinasi dua faktor utama, yakni potensi kelebihan pasokan minyak dunia dan perkembangan pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina yang masih penuh ketidakjelasan.
Mengacu pada laporan Reuters pada Kamis (27/11/2025), harga minyak mentah berjangka Brent mencatat kenaikan sekitar 0,67% atau 42 sen sehingga diperdagangkan di kisaran US$62,9 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan Amerika Serikat menguat 50 sen atau 0,86% menuju US$58,45 per barel. Meski tidak melonjak signifikan, kenaikan tersebut tetap dinilai sebagai sinyal bahwa pelaku pasar masih menjaga optimisme moderat meski tekanan fundamental mulai meningkat
Tekanan terbesar terhadap harga minyak belakangan ini datang dari meningkatnya persediaan minyak mentah di Amerika Serikat. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah negara tersebut naik hingga 2,8 juta barel dalam sepekan terakhir sehingga total ketersediaan mencapai 426,9 juta barel. Angka itu jauh melampaui ekspektasi analis yang hanya memperkirakan peningkatan sebesar 55.000 barel.
Kenaikan ini terutama dipacu oleh lonjakan impor minyak mentah bersih AS yang meningkat menjadi 2,84 juta barel per hari (bph). Level ini merupakan yang tertinggi sejak awal September 2025. John Kilduff, mitra di Again Capital, menilai kondisi tersebut merupakan bukti bahwa pasar energi tengah bergerak menuju fase surplus pasokan yang cukup signifikan.
Selain itu, meskipun rig pengeboran minyak dan gas di AS sempat turun untuk pertama kalinya dalam empat minggu terakhir menurut Baker Hughes, angka tersebut belum cukup untuk menepis kekhawatiran bahwa produksi global masih berada di atas kebutuhan pasar.
OPEC+ Berpotensi Pertahankan Produksi
Di tingkat global, perhatian investor kini tertuju pada keputusan aliansi produsen OPEC+ yang akan menggelar pertemuan pada Minggu (30/11/2025). Tiga sumber dalam organisasi tersebut mengungkapkan kepada Reuters bahwa kelompok produsen diperkirakan akan mempertahankan kebijakan produksi saat ini, bukannya memperdalam pemangkasan pasokan.
Keputusan tersebut dinilai akan memperbesar risiko oversupply, terutama jika permintaan minyak tidak menunjukkan percepatan dalam beberapa bulan mendatang. Pasar pun terus mencermati apakah anggota OPEC+ akan menunjukkan persatuan yang solid, mengingat sejarah ketidakselarasan dalam kebijakan produksi kerap mempengaruhi sentimen harga minyak.
Harapan Damai Rusia–Ukraina: Peluang atau Ancaman?
Faktor geopolitik juga terus memainkan peran penting dalam menentukan arah komoditas energi. Harga minyak sempat melemah pada pekan sebelumnya setelah meningkatnya optimisme mengenai penyelesaian konflik Rusia–Ukraina. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, diketahui menyampaikan kesiapannya kepada para pemimpin Eropa untuk kembali pada kerangka negosiasi yang didukung oleh AS.
Namun, analis menilai jalan menuju kesepakatan damai masih sangat panjang dan penuh komplikasi. Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menegaskan bahwa mencapai persetujuan yang dapat diterima semua pihak akan menjadi tantangan berat.
Presiden AS Donald Trump pun telah mengarahkan perwakilannya untuk melakukan pertemuan terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pejabat Ukraina dalam waktu dekat. Bahkan terdapat kemungkinan Zelenskiy akan berkunjung ke AS guna memfinalisasi sejumlah butir kesepakatan.
Menurut Tony Sycamore, analis pasar di IG, keberhasilan negosiasi ini berpotensi mempercepat pencabutan sanksi terhadap ekspor energi Rusia. Jika itu terjadi, pasokan minyak global bisa kembali membanjiri pasar dalam waktu singkat sehingga menambah tekanan terhadap harga. Namun, Sycamore menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kejelasan dan setiap kegagalan diplomasi bisa kembali menjadi pemicu reli harga minyak.
Sementara itu, sanksi yang diperketat oleh AS, Inggris, dan negara-negara Eropa terhadap energi Rusia masih membatasi aliran ekspor. Di sisi lain, India yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak diskon Rusia diperkirakan akan menurunkan pembelian ke posisi terendah dalam tiga tahun pada Desember 2025.
Gangguan Pasokan Kaspia Sudah Pulih
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, muncul kabar positif dari kawasan Kaspia. Konsorsium Pipa Kaspia (CPC), yang menyalurkan sekitar 1,5% dari total pasokan minyak dunia, mengonfirmasi bahwa proses pengapalan kembali berjalan normal setelah sempat terhenti akibat serangan drone Ukraina pada awal pekan ini.
Pemulihan ini menambah daftar faktor yang mendorong ekspektasi pasar terhadap pasokan berlebih.
Secara keseluruhan, pasar minyak global kini berada dalam posisi yang dilematis. Optimisme terhadap pemulihan harga terus dihantui oleh kekhawatiran surplus dan hasil negosiasi Rusia–Ukraina yang masih jauh dari pasti. Dalam kondisi seperti ini, investor diprediksi akan tetap bersikap hati-hati hingga ada kejelasan baru baik dari sisi produksi OPEC+ maupun kebijakan geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Comment