Harga minyak global turun tajam setelah AS meningkatkan tekanan diplomasi untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina, memicu kekhawatiran lonjakan pasokan minyak Rusia.
Harga Minyak Dunia Merosot Seiring Upaya Diplomasi AS
Harga minyak mentah global kembali mengalami tekanan signifikan setelah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) semakin aktif mendorong penyelesaian konflik Rusia–Ukraina. Sentimen ini membuat pelaku pasar berspekulasi bahwa berakhirnya perang dapat membuka kembali aliran ekspor minyak Rusia secara lebih luas ke pasar internasional.
Mengutip Reuters pada Kamis (20/11/2025), harga minyak mentah berjangka Brent jatuh US$1,63 atau sekitar 2,5% ke level US$63,26 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga turun US$1,56 atau 2,6% ke angka US$59,18 per barel. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pasokan dapat kembali melimpah jika tekanan geopolitik mereda.
Manuver AS dalam Mendorong Penyelesaian Konflik Rusia–Ukraina
Proposal Kerangka Penyelesaian dari Washington
Dua sumber Reuters menyatakan bahwa Washington telah memberikan sinyal diplomatik baru kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Dalam sinyal tersebut, AS meminta Kyiv untuk mempertimbangkan rancangan kerangka penyelesaian perang yang mereka susun.
Isi Rancangan Perdamaian yang Dipertimbangkan
Menurut laporan tersebut, proposal awal itu mencakup kemungkinan penyerahan sebagian wilayah dan penyesuaian dalam penggunaan atau distribusi persenjataan. Meskipun belum resmi diumumkan, langkah ini menunjukkan bahwa AS semakin mendesak penyelesaian konflik demi stabilitas geopolitik dan ekonomi global.
Dampak Sinyal Diplomasi pada Sentimen Pasar Energi
Setiap perkembangan yang mengarah pada potensi akhir perang langsung berdampak pada pasar minyak. Konflik selama dua tahun terakhir membuat suplai minyak Rusia terhambat oleh sanksi dan embargo, yang secara otomatis menopang harga. Jika hambatan ini berkurang, pasar mengantisipasi melimpahnya pasokan baru yang dapat menekan harga lebih dalam.
Kekhawatiran Pasar Terhadap Lonjakan Pasokan Minyak Rusia
Analisis dari TP ICAP Group
Scott Shelton, analis energi dari TP ICAP Group, menegaskan bahwa kondisi saat ini dapat membawa harga minyak ke level yang lebih rendah lagi.
Prediksi Harga Minyak US$50-an per Barel
“Dengan banyaknya minyak yang berada di lautan, penyimpanan terapung, serta kargo yang terkena sanksi, harga bisa saja turun hingga kisaran US$50-an,” kata Shelton. Menurutnya, arus minyak Rusia yang sebelumnya terkendala oleh sanksi pada akhirnya akan menemukan jalan masuk kembali ke pasar internasional.
Sanksi AS Terhadap Rusia dan Tekanan Menjelang Tenggat Waktu
Sanksi Baru Bagi Rosneft dan Lukoil
Bulan lalu, AS menjatuhkan sanksi keras terhadap dua perusahaan minyak besar Rusia—Rosneft dan Lukoil. Pemerintah AS menetapkan tenggat hingga 21 November bagi perusahaan global untuk menghentikan hubungan bisnis dengan dua entitas tersebut.
Dampak Terhadap Pendapatan Rusia
Departemen Keuangan AS menyebutkan bahwa sanksi tersebut sudah menekan pendapatan minyak Rusia secara signifikan. Namun, mereka juga memperkirakan dampak jangka panjang berupa penurunan volume ekspor negara tersebut.
Analis Menilai Tekanan Geopolitik Mencapai Titik Maksimum
Janiv Shah dari Rystad Energy mengatakan bahwa tekanan terhadap Rusia saat ini berada pada “level maksimum” menjelang tenggat sanksi. Ia juga menilai bahwa meredanya risiko geopolitik akan membuat investor kembali fokus pada fundamental pasar yang lemah, seperti melemahnya permintaan global dan melimpahnya suplai dari negara non-OPEC.
Respons Rusia Terhadap Tekanan Sanksi AS
Rusia Bersikeras Produksi Tetap Stabil
Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, membantah bahwa sanksi mempengaruhi produksi minyak Rusia. Ia menegaskan bahwa negara tersebut tetap mampu memenuhi kuota produksi OPEC+.
Rusia Mengandalkan Diversifikasi Pasar
Menurut Novak, Rusia masih dapat menyesuaikan arus ekspor mereka melalui pasar alternatif serta mengoptimalkan jalur logistik yang tidak terdampak sanksi Barat.
Penurunan Harga Minyak Tertahan oleh Data Stok AS
Laporan EIA Menunjukkan Penurunan Stok yang Besar
Meski sentimen bearish mendominasi, penurunan harga minyak tertahan oleh laporan Administrasi Informasi Energi AS (EIA). Laporan tersebut mengungkapkan bahwa stok minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan pasar.
Kenaikan Aktivitas Kilang dan Ekspor Menjadi Penopang
Turunnya stok dipicu oleh meningkatnya aktivitas refinery dan pertumbuhan ekspor minyak AS, yang memberikan sedikit dukungan bagi harga di tengah tekanan yang lebih besar dari faktor geopolitik dan sanksi.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Harga minyak ke depan akan dipengaruhi oleh kombinasi antara perkembangan diplomasi AS, reaksi Rusia terhadap sanksi, serta kondisi fundamental pasar yang masih lemah. Jika konflik mereda dan pasokan minyak kembali melimpah, pasar energi dapat memasuki fase surplus baru yang sangat menekan harga global.

Comment