Ekonomi Venezuela terpuruk selama kepemimpinan Nicolas Maduro sejak 2013. Hiperinflasi, kemiskinan ekstrem, dan ketimpangan melebar membayangi negara pemilik cadangan minyak terbesar dunia.
Venezuela Kembali Jadi Sorotan Dunia
Venezuela kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya pada Sabtu (3/1) dini hari. Pengumuman tersebut disertai eskalasi militer, termasuk perintah untuk menggempur Ibu Kota Caracas, yang semakin memperkeruh situasi geopolitik kawasan Amerika Latin.
Pemerintah Amerika Serikat, melalui pernyataan resmi lintas lembaga, menyebut penangkapan Maduro sebagai bagian dari upaya mendukung tuntutan pidana terkait perdagangan narkotika berskala besar. Jaksa Agung AS Pamela Bondi menyatakan bahwa kepemimpinan Maduro dinilai telah “menggoyahkan stabilitas kawasan dan berkontribusi langsung terhadap krisis narkoba yang merenggut nyawa warga Amerika.”
Di tengah konflik politik dan militer yang memanas, sorotan publik global kembali tertuju pada kondisi ekonomi Venezuela—sebuah negara yang ironisnya dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun justru terjerembap dalam krisis ekonomi paling parah di era modern.
Awal Kepemimpinan Maduro dan Titik Balik Ekonomi Venezuela
Nicolas Maduro resmi menjabat sebagai Presiden Venezuela pada 2013, menggantikan Hugo Chávez. Sejak saat itu, perekonomian Venezuela perlahan namun pasti memasuki fase kontraksi berkepanjangan. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, ekonomi negara tersebut mengalami penyusutan yang sangat dalam, diperkirakan mencapai sekitar 80 persen.
Krisis ini bukan hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari kebijakan ekonomi yang tidak efektif, ketergantungan ekstrem pada sektor minyak, sanksi internasional, serta lemahnya tata kelola pemerintahan. Ketika harga minyak global anjlok dan produksi dalam negeri terganggu, fondasi ekonomi Venezuela runtuh tanpa bantalan yang memadai.
Pertumbuhan Ekonomi Nyaris Stagnan
Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 diperkirakan hanya mencapai 0,5 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih sangat rapuh dan jauh dari kata stabil.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Venezuela pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran US$82,77 miliar atau setara Rp1.385 triliun. Angka ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan potensi ekonomi Venezuela sebagai negara kaya sumber daya alam, khususnya minyak dan gas.
Lebih jauh, PDB per kapita Venezuela diperkirakan hanya mencapai US$3.100 atau sekitar Rp51,9 juta per tahun. Data ini mencerminkan rendahnya daya beli masyarakat dan terbatasnya kesejahteraan ekonomi warga secara umum.
Hiperinflasi Menggerus Daya Beli Masyarakat
Salah satu ciri paling mencolok dari krisis ekonomi Venezuela adalah hiperinflasi. Selama bertahun-tahun, negara ini mencatat laju inflasi yang ekstrem, bahkan sempat menyentuh angka fantastis hingga 130 ribu persen selama empat tahun berturut-turut, menurut laporan Reuters.
Meski inflasi konsumen rata-rata pada 2025 diperkirakan menurun menjadi 269,9 persen, level tersebut tetap tergolong sangat tinggi dan merusak stabilitas ekonomi. Sebagai perbandingan, inflasi pada Oktober 2025 masih tercatat di angka 548,6 persen, menunjukkan volatilitas harga yang luar biasa.
Hiperinflasi ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat. Upah dan tabungan menjadi nyaris tidak bernilai, sementara harga kebutuhan pokok melonjak drastis dalam waktu singkat. Kondisi tersebut memaksa banyak warga Venezuela bertahan hidup dengan strategi ekstrem, mulai dari barter hingga bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Kemiskinan Meluas dan Ketimpangan Memburuk
Dampak lanjutan dari kontraksi ekonomi dan hiperinflasi adalah melonjaknya angka kemiskinan. Berdasarkan laporan European Civil Protection and Humanitarian Aid Operations, sekitar 78,4 persen penduduk Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan pada September 2025. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 56,8 persen penduduk berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Data tersebut menggambarkan krisis kemanusiaan yang serius, di mana sebagian besar masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Ketimpangan ekonomi juga mengalami peningkatan signifikan selama masa pemerintahan Maduro. Survei ENCOVI menunjukkan bahwa koefisien Gini Venezuela—indikator untuk mengukur ketimpangan pendapatan—meningkat dari 40,7 poin pada 2014 menjadi 53,9 poin pada 2024.
Peningkatan ini menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan ketimpangan tinggi, di mana jurang antara kelompok masyarakat kaya dan miskin semakin melebar. Sebagai catatan, koefisien Gini di bawah 30 mencerminkan ketimpangan rendah, 30–40 menandakan ketimpangan sedang, sementara di atas 50 menunjukkan ketimpangan yang parah.
Paradoks Negeri Minyak dan Tantangan Masa Depan
Venezuela menyimpan paradoks besar: memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun gagal menerjemahkannya menjadi kesejahteraan rakyat. Ketergantungan berlebihan pada sektor migas tanpa diversifikasi ekonomi yang memadai membuat negara ini sangat rentan terhadap guncangan eksternal.
Di tengah tekanan geopolitik, konflik politik internal, dan krisis ekonomi struktural, masa depan Venezuela masih dibayangi ketidakpastian. Penangkapan Nicolas Maduro dan eskalasi konflik dengan Amerika Serikat berpotensi memperdalam isolasi internasional, sekaligus memperumit peluang pemulihan ekonomi.
Bagi Venezuela, tantangan terbesar ke depan bukan hanya stabilitas politik, tetapi juga rekonstruksi ekonomi yang menyeluruh—mulai dari reformasi kebijakan, pemulihan kepercayaan investor, hingga penanganan krisis kemanusiaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Comment