Dolar Australia bertahan kuat seiring inflasi domestik yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok kuartal IV 2025 melampaui ekspektasi, sementara Dolar AS tertekan ketidakpastian geopolitik dan kebijakan The Fed.
Ekonomi Tiongkok Jadi Penopang Tambahan AUD
Dolar Australia (AUD) menunjukkan ketahanan yang solid pada awal pekan perdagangan global, didukung oleh kombinasi data inflasi domestik yang lebih kuat dan sinyal positif dari perekonomian Tiongkok. Di sisi lain, Dolar AS (USD) justru berada di bawah tekanan akibat meningkatnya penghindaran risiko pasar, ketidakpastian geopolitik, serta ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang semakin bergeser.
Pada perdagangan hari Senin, AUD menguat terhadap USD setelah rilis Indeks Inflasi TD-MI Australia yang mencerminkan percepatan tekanan harga di akhir tahun. Inflasi tahunan tercatat naik menjadi 3,5% year-on-year (YoY) pada Desember 2025, meningkat dari 3,2% pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, inflasi melonjak 1,0% month-on-month (MoM), laju tercepat sejak Desember 2023 dan jauh di atas kenaikan 0,3% yang tercatat dalam dua bulan sebelumnya.
Lonjakan inflasi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di Australia belum sepenuhnya jinak, sehingga memberikan ruang bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk tetap bersikap hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Bagi pasar mata uang, kondisi ini menjadi faktor pendukung utama bagi Dolar Australia dalam jangka pendek.
Selain faktor domestik, pergerakan AUD juga dipengaruhi oleh data ekonomi utama dari Tiongkok. Sebagai mitra dagang terbesar Australia, setiap perubahan kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu memiliki dampak signifikan terhadap prospek Dolar Australia, khususnya melalui sektor komoditas dan ekspor.
Data terbaru dari National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok kuartal IV 2025 tumbuh 1,2% secara kuartalan (QoQ). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,1% pada kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar yang berada di kisaran 1,0%.
Secara tahunan, ekonomi Tiongkok mencatat pertumbuhan 4,5% YoY pada kuartal IV. Meski sedikit melambat dari 4,8% pada kuartal III, capaian tersebut tetap lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 4,4%. Data ini mengindikasikan bahwa ekonomi Tiongkok masih mampu menjaga momentum ekspansi meskipun menghadapi tekanan struktural dan ketidakpastian global.
Namun, gambaran sektor konsumsi menunjukkan sinyal yang lebih beragam. Penjualan ritel Desember hanya tumbuh 0,9% YoY, lebih rendah dari proyeksi 1,2% dan turun dari 1,3% pada November. Sebaliknya, produksi industri melonjak 5,2% YoY, melampaui estimasi 5,0% dan meningkat dari 4,8% bulan sebelumnya. Ketimpangan ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok masih lebih ditopang oleh sektor manufaktur dibandingkan konsumsi domestik.
Dolar AS Tertekan Ketidakpastian Geopolitik dan The Fed
Sementara AUD mendapat dukungan fundamental, Dolar AS justru kesulitan mempertahankan momentum. Indeks Dolar AS (DXY) melemah dan bergerak di sekitar level 99,20, seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global. Likuiditas pasar juga relatif tipis karena pasar keuangan AS tutup dalam rangka peringatan Martin Luther King Jr. Day.
Tekanan tambahan pada Greenback datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik terkait isu AS–Greenland. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif impor terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang proposalnya untuk mengakuisisi Greenland. Menurut laporan Bloomberg, tarif sebesar 10% akan dikenakan terhadap barang-barang dari Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, Inggris, dan Norwegia mulai 1 Februari, hingga AS diberi izin untuk membeli wilayah tersebut. Langkah ini meningkatkan ketidakpastian perdagangan global dan menekan daya tarik aset berdenominasi USD.
Dari sisi kebijakan moneter, data pasar tenaga kerja AS yang masih solid turut memundurkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Klaim Tunjangan Pengangguran Awal dilaporkan turun menjadi 198 ribu pada pekan yang berakhir 10 Januari, jauh di bawah ekspektasi 215 ribu. Data ini menegaskan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap tangguh meski suku bunga berada di level tinggi dalam waktu lama.
Inflasi AS juga menunjukkan tanda-tanda pendinginan yang bertahap. Inflasi inti (Core CPI) naik 0,2% pada Desember, lebih rendah dari perkiraan, sementara inflasi inti tahunan bertahan di 2,6%, level terendah dalam empat tahun. Meski demikian, The Fed masih belum melihat urgensi untuk segera memangkas suku bunga.
Morgan Stanley bahkan merevisi proyeksi kebijakan moneter AS, dengan memperkirakan dua kali penurunan suku bunga pada 2026, masing-masing pada Juni dan September, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
RBA Tetap Waspada, AUD/USD Incar Area 0,6700
Dari sisi Australia, RBA mengakui bahwa inflasi telah turun signifikan dari puncaknya pada 2022, namun masih berada di atas target 2–3%. Inflasi utama tercatat 3,4% YoY pada November, sementara inflasi rata-rata dipangkas berada di 3,2%. Bank sentral menilai risiko inflasi sedikit condong ke atas, sementara risiko penurunan dari faktor global mulai mereda.
Pasar derivatif mencerminkan kehati-hatian ini. ASX 30-Day Interbank Cash Rate Futures Februari 2026 menunjukkan probabilitas sekitar 22% untuk kenaikan suku bunga ke 3,85% pada pertemuan RBA berikutnya.
Secara teknikal, AUD/USD diperdagangkan di sekitar 0,6680 dan berkonsolidasi di dekat Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari. Kondisi ini menandakan bias netral dalam jangka pendek, dengan RSI 14-hari di kisaran 52,78, yang masih mendukung potensi kenaikan lanjutan.
Penembusan bersih di atas area 0,6690–0,6700 berpotensi memperkuat bias bullish dan membuka jalan menuju 0,6766, level tertinggi sejak Oktober 2024. Sebaliknya, penutupan harian di bawah EMA jangka pendek dapat menyeret pasangan ini menuju support 0,6642, bahkan hingga 0,6414, level terendah sejak Juni 2025.

Comment