Rencana Indonesia memperluas program biodiesel B50 dapat mengerek harga minyak sawit global. Dengan meningkatnya kebutuhan domestik dan berkurangnya ekspor CPO, pasar dunia diperkirakan menghadapi pasokan ketat dan potensi inflasi pangan. Simak analisis lengkap dampaknya bagi industri sawit, petani, dan perdagangan global.
Mandat Biodiesel B50
JAKARTA — Rencana Indonesia untuk memperluas penggunaan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil / CPO) dalam program biodiesel B50 berpotensi mengguncang pasar global. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, kebijakan ini dapat memangkas ekspor CPO dan memperketat pasokan minyak nabati internasional, sehingga mendorong kenaikan harga komoditas perkebunan tersebut di pasar dunia.
Menurut data Bloomberg, harga CPO dalam beberapa bulan terakhir berfluktuasi tajam seiring kekhawatiran investor terhadap pasokan global. Saat ini, harga CPO telah turun 6% sejak awal tahun menjadi 4.145 ringgit per ton, namun diperkirakan akan kembali melonjak seiring implementasi B50 pada paruh kedua tahun 2026.
Program B50 merupakan lanjutan dari kebijakan biodiesel B40, di mana campuran bahan bakar fosil dengan minyak sawit ditingkatkan dari 40% menjadi 50%. Pemerintah menargetkan kebijakan ini sebagai upaya menekan impor bahan bakar, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta memperkuat kemandirian energi nasional.
Dampak terhadap Harga dan Pasokan Global
Kenaikan permintaan minyak sawit dalam negeri secara signifikan akan mengurangi ekspor Indonesia, sehingga memperketat pasokan dunia. Analis memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa mendorong harga CPO mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan bahwa jika pemerintah melanjutkan program B50 sesuai rencana, harga CPO berpotensi naik hingga 5.000 ringgit per ton pada semester pertama 2026.
“Kebijakan ini kemungkinan akan diikuti dengan kenaikan pungutan ekspor yang berdampak langsung pada petani kecil,” ujar Eddy,Rabu (12/11/2025).
Senada dengan itu, Matthew Biggin, analis komoditas senior di BMI, menilai bahwa konsumen global harus mencari sumber pasokan alternatif karena Indonesia akan memangkas ekspor secara signifikan demi memenuhi kebutuhan domestik.
“Langkah ini memerlukan intervensi langsung pemerintah untuk memprioritaskan biodiesel domestik dibandingkan ekspor. Dampaknya bisa terasa pada pasar tradisional seperti India dan China yang harus mencari sumber baru,” ujar Biggin.
Sementara itu, Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd., bahkan memperkirakan harga CPO dapat menembus 5.500 ringgit per ton pada kuartal pertama 2026, jika program B50 berjalan lancar.
Produksi Stagnan dan Risiko Inflasi Pangan
Meskipun permintaan meningkat, pertumbuhan produksi CPO di negara-negara utama seperti Indonesia dan Malaysia cenderung stagnan dalam dua tahun terakhir. Keterbatasan lahan, biaya pupuk yang tinggi, serta tekanan lingkungan menjadi hambatan utama bagi ekspansi produksi. Dalam situasi seperti ini, peningkatan konsumsi domestik justru berpotensi mendorong inflasi pangan global, karena minyak sawit adalah komponen utama dalam berbagai produk makanan dan bahan industri.
Di sisi lain, perubahan arus perdagangan minyak nabati diprediksi ikut mengganggu pasar lain, seperti minyak kedelai, kanola, dan bunga matahari. Jika pasokan minyak sawit dari Indonesia berkurang, negara importir kemungkinan akan meningkatkan pembelian minyak nabati alternatif, yang dapat menaikkan harga seluruh kelompok komoditas minyak nabati dunia.
Kesiapan Infrastruktur dan Tantangan Teknis
Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan uji laboratorium untuk campuran B50, namun uji keselamatan jalan raya masih menunggu pelaksanaan. Menurut Sekretaris Jenderal Gapki, M. Hadi Sugeng Wahyudiono, implementasi B50 akan meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik hingga 25% lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Akibatnya, volume ekspor sawit diperkirakan turun drastis dari 31 juta ton pada 2025 menjadi hanya sekitar 26 juta ton pada 2026. Penurunan ekspor ini akan menekan pendapatan devisa dari sektor sawit, sekaligus menimbulkan ketegangan di pasar ekspor utama seperti India dan Tiongkok.
Selain itu, industri sawit juga menghadapi risiko cuaca ekstrem. Fenomena La Niña yang diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026 dapat membawa curah hujan tinggi yang menghambat panen dan produksi. Kondisi ini semakin mempersempit margin produksi dan berpotensi menaikkan harga lebih jauh.
Faktor Eksternal yang Perlu Diwaspadai
Pasar minyak sawit global juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya, antara lain:
-
Kebijakan perdagangan pertanian antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang dapat mengubah arah permintaan minyak nabati global.
-
Aturan biofuel di AS, yang membatasi ekspor minyak kedelai untuk kebutuhan domestik, sehingga memperkecil pasokan alternatif di pasar internasional.
-
Tingkat stok minyak nabati global, termasuk minyak bunga matahari dan kanola, yang jika menurun serentak, akan mempercepat lonjakan harga.
Jika semua faktor ini berinteraksi bersamaan, pasar minyak nabati global bisa menghadapi periode harga tinggi berkepanjangan, dengan efek domino terhadap biaya produksi pangan dan inflasi di berbagai negara.
Momentum atau Tantangan Baru bagi Indonesia
Mandat Biodiesel B50 menandai ambisi besar Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam energi hijau berbasis sawit. Namun, kebijakan ini juga membuka tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik, stabilitas harga global, dan kesejahteraan petani.
Tanpa pengelolaan yang transparan dan strategi ekspor yang adaptif, program ini bisa memicu tekanan ekonomi global dan inflasi pangan, serta menempatkan Indonesia di tengah pusaran baru perdagangan energi dunia.
Kunci keberhasilan B50 tidak hanya terletak pada efisiensi produksi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan energi nasional dan stabilitas pasar global.

Comment