Harga minyak Brent anjlok 8,7% ke US$94,62 per barel pada 4 November 2026, setelah sempat menyentuh US$93,22, sementara WTI turun 8,3% ke US$88,12, penurunan harian terbesar sejak Mei. Penurunan berlanjut di sesi Asia 5 November, dengan Brent di US$93,91 dan WTI US$87,27.
Pemicunya adalah hasil pemilu sela AS. Pasar menilai Kongres yang dikuasai Partai Demokrat menurunkan peluang eskalasi militer AS terhadap Iran.

Mengapa Minyak Anjlok?
Ray Attrill dari National Australia Bank menilai hasil pemilu menurunkan ekspektasi bahwa Presiden Trump akan melanjutkan serangan ke Iran. Aliran minyak melalui Selat Hormuz juga dilaporkan sudah mendekati level sebelum perang. Dengan pasokan normal dan risiko menurun, premi perang yang selama berbulan-bulan menopang harga menyusut cepat.
Laporan Brent sehari sebelumnya ada di minyak Brent ditutup US$103,60 pada 3 November. Dalam dua hari, Brent turun hampir US$9.
Bagaimana Peran Dana Spekulatif?

Data Kpler Bridgeton menunjukkan posisi beli Brent dari dana berbasis tren (CTA) turun dari 73% ke 55%. Saat harga turun di bawah level tertentu, dana ini menjual secara otomatis, yang mempercepat penurunan. Penjualan seperti ini sering membuat pergerakan harian jauh lebih besar dari perubahan fundamental.
Bagaimana Fundamental Pasokan?
JPMorgan memperkirakan surplus pasokan sekitar 1,4 juta barel per hari pada Oktober. Surplus berarti produksi melebihi konsumsi, sehingga stok bertambah dan menekan harga. Di sisi lain, laporan EIA menunjukkan stok solar AS turun di bawah 100 juta barel untuk pertama kalinya sejak 2003. Panduan membaca data ini ada di cara membaca laporan persediaan minyak EIA.
Apa Kata Analis?
Ajay Parmar dari ICIS dan Claudio Galimberti dari Rystad menilai pasar kini lebih fokus pada keseimbangan pasokan dan permintaan. Jika aliran Hormuz tetap normal, harga cenderung bergerak menuju nilai fundamental.
Bagaimana Selisih Brent dan WTI?
Selisih Brent dan WTI sekitar US$6,5 per barel, menyempit dibanding akhir Oktober yang sempat melebar ke US$12,54. Penjelasan selisih ada di Brent vs WTI: perbedaan dan spread. Penyempitan menunjukkan premi risiko Timur Tengah yang lebih besar pada Brent ikut berkurang.
Bagaimana Dampak ke Pasar Saham?
Sektor energi di Wall Street turun 4,8% pada 4 November, menjadi sektor terburuk. Sebaliknya, sektor konsumen naik 4,3% karena biaya bahan bakar yang lebih rendah meningkatkan daya beli. Di Indonesia, saham energi seperti ENRG termasuk yang melemah.
Bagaimana Dampak ke Indonesia?
Sebagai importir minyak bersih, Indonesia diuntungkan oleh harga minyak yang lebih rendah. Beban subsidi energi dan kebutuhan dolar untuk impor BBM berkurang, mendukung rupiah dan APBN. Harga BBM nonsubsidi juga berpeluang turun jika harga minyak bertahan rendah.
Bagaimana Level Teknikal?
| Kontrak | Resistance | Support |
|---|---|---|
| Brent | US$100 | US$93,22 |
| Brent | US$103,60 | US$90 |
| WTI | US$90 | US$85 |
| WTI | US$93 | US$82 |
Bagaimana Pengalaman Awal Pekan?
Pada 2 November, minyak juga sempat anjlok 7,6% ke US$104,77, seperti dibahas di minyak anjlok 7,6% pada 2 November 2026. Dalam sepekan, Brent sudah turun lebih dari US$18 per barel. Penurunan beruntun menunjukkan perubahan besar dalam penilaian risiko pasar terhadap konflik Iran.
Bagaimana Posisi Brent Dibanding Puncak?
Brent sempat diperdagangkan di atas US$113 pada akhir Oktober. Dengan harga di US$94,62, Brent sudah turun sekitar 16% dari level tersebut. Sebagian besar premi perang yang terbentuk selama konflik kini telah hilang dari harga.
Bagaimana Pengaruh ke Inflasi Global?
Minyak yang lebih murah bisa menurunkan inflasi energi di banyak negara dalam beberapa bulan. Bagi bank sentral, penurunan inflasi energi bisa mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga, meski inflasi inti dan jasa tetap menjadi fokus utama.
Bagaimana Dampak ke Harga BBM Indonesia?
Harga BBM nonsubsidi di Indonesia biasanya disesuaikan setiap awal bulan berdasarkan harga minyak dan kurs. Jika Brent bertahan di bawah US$95 sepanjang November, harga BBM nonsubsidi Desember berpeluang turun. Penurunan ini bisa meringankan biaya transportasi dan logistik.
Bagaimana Mengelola Risiko?
Volatilitas minyak sangat tinggi setelah penurunan tajam. Margin kontrak berjangka bisa dinaikkan bursa. Gunakan ukuran posisi kecil, pasang stop berdasarkan volatilitas, dan hindari menambah posisi rugi saat harga bergerak cepat.
Bagaimana Peran OPEC+?
Keputusan produksi OPEC+ tetap menjadi faktor penting. Jika harga terus turun di bawah US$90, kelompok produsen bisa mempertimbangkan pengurangan produksi untuk menahan harga. Pertemuan dan pernyataan pejabat OPEC+ perlu dipantau dalam beberapa pekan ke depan.
Bagaimana Kilang dan Margin?
Stok solar yang ketat membuat margin kilang tetap tinggi. Kilang terdorong memproses lebih banyak minyak mentah, yang bisa sedikit menahan penurunan harga minyak mentah di tengah tekanan jual dari dana spekulatif.
Apa yang Perlu Dipantau?
- Perkembangan hubungan AS–Iran.
- Laporan persediaan EIA mingguan.
- Keputusan produksi OPEC+.
Data resmi tersedia di U.S. Energy Information Administration dan OPEC.
Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi transaksi. Trading forex dan komoditas berisiko tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa selisih Brent dan WTI?
Sekitar US$6,5 per barel.
Berapa harga Brent pada 4 November 2026?
US$94,62 per barel, turun 8,7%.
Berapa harga WTI pada 4 November?
US$88,12, turun 8,3%.
Mengapa minyak anjlok?
Hasil pemilu AS menurunkan risiko eskalasi Iran dan dana spekulatif menjual.
Berapa posisi beli CTA Brent?
Turun dari 73% ke 55%.
Bagaimana dampak ke Indonesia?
Beban impor dan subsidi BBM berkurang sehingga mendukung rupiah.


