Harga minyak dunia melemah di awal sesi Eropa. WTI turun ke $60,89 per barel dan Brent merosot ke $64,68 di tengah kekhawatiran permintaan global.
Tekanan dari Sisi Permintaan Global
Jakarta — Harga minyak mentah global kembali bergerak melemah pada perdagangan hari Selasa (28/10/2025), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap permintaan energi global. Pada awal sesi perdagangan Eropa, harga West Texas Intermediate (WTI) turun ke level US$60,89 per barel, melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di US$61,37 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global untuk perdagangan minyak internasional, juga mencatatkan penurunan. Brent diperdagangkan di US$64,68 per barel, turun dari US$65,16 pada penutupan hari Senin.
Pelemahan harga minyak kali ini didorong oleh kekhawatiran akan melemahnya permintaan global, khususnya dari Tiongkok dan kawasan Eropa. Aktivitas industri di kedua wilayah tersebut menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa konsumsi energi bisa menurun pada kuartal keempat tahun ini.
Laporan ekonomi terbaru dari Beijing menunjukkan bahwa pertumbuhan manufaktur masih tertahan di zona kontraksi, sedangkan inflasi yang rendah menekan margin keuntungan perusahaan energi dan transportasi. Di sisi lain, data dari Eropa juga menunjukkan permintaan bahan bakar yang stagnan, terutama di sektor industri berat.
Faktor Tekanan Tambahan: Produksi dan Cadangan Minyak
Selain faktor permintaan, peningkatan pasokan minyak juga ikut membebani harga. Data dari Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan kenaikan stok minyak mentah AS sebesar lebih dari 3 juta barel dalam sepekan terakhir. Kenaikan stok ini menandakan masih tingginya produksi domestik di tengah permintaan yang belum pulih sepenuhnya.
Pasar juga mencermati laporan terbaru dari OPEC+, yang mengisyaratkan belum adanya rencana signifikan untuk memangkas produksi. Beberapa negara anggota utama, seperti Arab Saudi dan Rusia, memilih mempertahankan level produksi saat ini guna menjaga pangsa pasar di tengah persaingan ketat dengan produsen non-OPEC seperti Amerika Serikat.
Kondisi Teknis: WTI Masih dalam Tren Bearish
Secara teknikal, harga WTI masih bergerak dalam pola bearish jangka pendek. Setelah gagal bertahan di atas level psikologis US$61,50, harga minyak berpotensi menguji area support di kisaran US$60,20–60,00 per barel. Jika level ini tembus, tekanan jual dapat berlanjut hingga ke area US$59,50.
Sebaliknya, jika ada rebound, level resistance terdekat berada di US$61,50–62,00 per barel. Namun, analis memperkirakan momentum kenaikan masih terbatas selama tidak ada katalis fundamental yang signifikan, seperti pemangkasan produksi baru atau peningkatan permintaan dari Tiongkok.
Pengaruh Dolar AS dan Kebijakan The Fed
Penguatan Dolar AS (USD) juga menjadi faktor penting dalam pelemahan harga minyak. Karena minyak dihargakan dalam dolar, setiap penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung ketat turut memperkuat dolar. Pasar saat ini menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai potensi penurunan suku bunga pada kuartal pertama tahun depan. Namun, hingga sinyal pemangkasan suku bunga benar-benar muncul, dolar kemungkinan tetap kuat dan memberi tekanan tambahan pada harga minyak.
Sentimen Pasar dan Prospek ke Depan
Meski harga minyak masih dalam tekanan, sejumlah analis menilai bahwa pelemahan saat ini dapat menjadi kesempatan akumulasi bagi investor jangka menengah. Faktor geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian pasokan dari Afrika Utara tetap menjadi risiko potensial yang dapat membatasi penurunan harga lebih dalam.
Selain itu, dengan musim dingin yang segera tiba di belahan bumi utara, permintaan bahan bakar pemanas diperkirakan meningkat. Hal ini bisa menjadi katalis positif bagi harga minyak menjelang akhir tahun.
Pelemahan harga minyak dunia hari ini mencerminkan kombinasi antara faktor fundamental dan teknikal — mulai dari melemahnya permintaan global, peningkatan stok minyak AS, hingga penguatan dolar AS. Dalam jangka pendek, pasar minyak cenderung tetap fluktuatif dengan bias negatif, tetapi prospek jangka menengah masih berpotensi membaik seiring meningkatnya kebutuhan energi musiman dan potensi kebijakan OPEC+ di akhir tahun.

Comment