Pemerintah bersiap mengumumkan paket stimulus ekonomi keempat untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Presiden Prabowo dalam mendorong ekonomi tumbuh hingga 8 persen pada 2029 melalui kebijakan fiskal yang berkelanjutan.
Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Keempat, Upaya Menjaga Daya Beli dan Akselerasi Pertumbuhan
JAKARTA — Pemerintah Indonesia kembali bersiap untuk meluncurkan paket stimulus ekonomi keempat, sebagai bagian dari strategi besar memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri dialog antara Presiden Prabowo Subianto dan Steve Forbes, Chairman dan Editor-in-Chief Forbes Media, dalam acara “Pertemuan Pikiran” di rangkaian Forbes Global CEO Conference 2025 bertajuk “The World Pivot” di St. Regis Jakarta, Rabu malam (15/10/2025).
“Rencananya begitu, akan ada pengumuman stimulus ekonomi pada Kamis,” ujar Airlangga singkat kepada awak media.
Meski belum merinci isi paket tersebut, sumber internal menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari rangkaian stimulus fiskal terintegrasi yang dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong produktivitas nasional di tengah ketidakpastian global.
Langkah Berkelanjutan dari Pemerintahan Prabowo
Stimulus keempat ini menandai kelanjutan strategi fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang sejak awal masa jabatannya pada Oktober 2024 telah memprioritaskan kebijakan pro-rakyat dan pro-pertumbuhan.
Melalui kebijakan fiskal yang terukur, pemerintah berupaya memperkuat fondasi ekonomi domestik agar Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029, naik dari kisaran 5 persen saat ini.
Langkah ini juga mencerminkan upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stimulus fiskal dan keberlanjutan anggaran negara, di tengah tekanan inflasi global, perlambatan investasi internasional, dan risiko resesi di beberapa negara mitra dagang utama.
Tiga Gelombang Stimulus Sebelumnya Sudah Digelontorkan
Sejak Desember 2024, pemerintah telah merilis tiga paket stimulus dengan total anggaran mencapai Rp79,2 triliun, yang secara bertahap dirancang untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menopang konsumsi domestik.
-
Stimulus Pertama (Desember 2024):
Pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp38,6 triliun untuk subsidi listrik, bantuan langsung tunai (BLT), serta program padat karya yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah. -
Stimulus Kedua (Juni 2025):
Paket kedua senilai Rp24,44 triliun berfokus pada keringanan pajak sektor usaha, terutama industri kecil dan menengah, serta program subsidi bahan pokok untuk menjaga inflasi terkendali. -
Stimulus Ketiga (September 2025):
Dengan nilai Rp16,23 triliun, stimulus ini diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan dukungan terhadap usaha padat karya, sebagai respon atas ancaman penurunan ekspor akibat pelemahan ekonomi global.
Gabungan dari tiga kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menopang konsumsi rumah tangga, yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, disusul oleh peningkatan investasi.
Ekonomi Nasional Tumbuh Stabil, Tapi Tantangan Masih Mengintai
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen (yoy) pada kuartal II-2025 — angka tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Kinerja ini menunjukkan bahwa stimulus fiskal yang diberikan pemerintah berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
Namun demikian, sejumlah pejabat ekonomi memperingatkan adanya potensi perlambatan ekonomi di paruh kedua tahun ini. Tekanan terhadap sektor ekspor, melemahnya harga komoditas, serta penyesuaian kebijakan moneter global dapat menjadi faktor yang menekan pertumbuhan.
Untuk itu, stimulus keempat yang direncanakan diharapkan mampu menyuntikkan energi baru bagi konsumsi domestik sekaligus memperkuat basis ekonomi produktif di sektor riil.
Stimulus keempat: Fokus pada UMKM dan Infrastruktur Sosial?
Meski belum ada rincian resmi, para pengamat memperkirakan stimulus ekonomi keempat akan diarahkan pada sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan penyerapan tenaga kerja dan penguatan daya beli masyarakat.
Dua sektor yang kemungkinan besar mendapat prioritas adalah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan infrastruktur sosial seperti perumahan rakyat serta layanan publik berbasis komunitas.
Menurut analis ekonomi, kebijakan ini sejalan dengan strategi ekonomi inklusif Presiden Prabowo, yang menekankan pemerataan pembangunan di luar Jawa dan penguatan daya saing industri domestik.
Langkah ini juga diyakini akan menjaga tingkat konsumsi masyarakat tetap stabil, terutama menjelang akhir tahun saat inflasi musiman biasanya meningkat.
Menjaga Keseimbangan Antara Konsumsi dan Investasi
Selain menjaga konsumsi rumah tangga, pemerintah juga menargetkan peningkatan arus investasi domestik dan asing.
Stimulus ekonomi menjadi jembatan penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, sekaligus memastikan roda produksi terus berputar di berbagai sektor strategis — mulai dari pertanian, energi, hingga manufaktur.
Airlangga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara stimulus konsumsi jangka pendek dan reformasi struktural jangka panjang.
Momentum Baru untuk Ekonomi Nasional
Rencana pengumuman paket stimulus ekonomi keempat menandai komitmen serius pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak pasti.
Langkah ini juga mempertegas arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo yang berpihak pada penguatan daya beli rakyat, produktivitas sektor riil, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dengan dukungan koordinasi antar kementerian serta partisipasi aktif dunia usaha, stimulus ini diharapkan dapat menjadi motor baru pemulihan ekonomi nasional dan menjaga kepercayaan publik terhadap arah pembangunan menuju Indonesia Maju 2045.

Comment