Pound Sterling turun setelah data inflasi Inggris lebih lemah dari perkiraan, menekan GBP/USD di bawah 1,3350. Dolar AS stabil di tengah sentimen risiko yang membaik, sementara emas terkoreksi tajam dan yen Jepang tenang menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan.
Pound Sterling Melemah Usai Data Inflasi Inggris Meleset, Dolar AS Stabil di Tengah Pemulihan Risiko Global
Pasar valuta asing global bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (22/10/2025), dengan Pound Sterling mencatat pelemahan terhadap mayoritas mata uang utama setelah data inflasi Inggris menunjukkan hasil di bawah ekspektasi. Di sisi lain, dolar AS bergerak stabil sementara pasar global mulai menunjukkan pemulihan risiko setelah gejolak harga komoditas pada awal pekan ini.
Pound Sterling Tertekan Usai Data Inflasi Inggris Mengecewakan
Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) melaporkan bahwa inflasi tahunan Inggris, yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK), tercatat stabil di 3,8% pada September 2025. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 4%, menandakan tekanan harga yang mulai melonggar.
Secara bulanan, inflasi Inggris tercatat tidak berubah setelah naik 0,3% pada Agustus. Data ini memperkuat pandangan bahwa Bank of England (BoE) kemungkinan akan menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut demi menjaga stabilitas ekonomi yang mulai rapuh.
Reaksi pasar berlangsung cepat. GBP/USD melemah di bawah 1,3350, sementara EUR/GBP naik hampir 0,4% ke level 0,8710, mencerminkan tekanan luas terhadap Pound di seluruh pasangan mata uang utama.
“Data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan menegaskan bahwa momentum harga di Inggris mulai mereda. Ini mengurangi peluang kebijakan moneter ketat lanjutan dari BoE,” tulisnya.
Dolar AS Bertahan di Tengah Pemulihan Sentimen Risiko
Sementara itu, dolar AS (USD) relatif stabil setelah mencatat kenaikan sekitar 0,4% pada perdagangan Selasa. Indeks Dolar (DXY) diperdagangkan di kisaran 99,00, mencerminkan keseimbangan antara sentimen risiko global dan ekspektasi kebijakan The Fed.
Pasar masih menantikan komentar dari sejumlah pejabat Federal Reserve, namun karena bank sentral AS tengah memasuki periode blackout menjelang pertemuan kebijakan minggu depan, tidak ada sinyal baru yang keluar. Fokus investor kini tertuju pada arah kebijakan moneter dan perkembangan politik domestik terkait penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown).
Dari Washington, beberapa senator Partai Republik mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump berkeinginan mengakhiri penutupan tersebut dan siap bernegosiasi dengan Demokrat. Sentimen ini membantu mendorong indeks saham berjangka AS sedikit menguat, memperkuat suasana risiko yang positif di pasar global.
Harga Emas Terkoreksi Setelah Sentuh Rekor Tertinggi
Setelah menyentuh rekor tertinggi di sekitar US$4.380 per ons pada akhir pekan lalu, harga emas mengalami koreksi tajam pada Selasa, kehilangan lebih dari 5% dalam basis harian.
Pada perdagangan sesi Asia Rabu pagi, XAU/USD sempat jatuh mendekati US$4.000 sebelum berbalik naik sekitar 0,8% ke posisi US$4.155 per ons. Analis menilai, penurunan ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) dan menguatnya dolar AS, bukan karena perubahan fundamental yang signifikan.
“Reli panjang emas mendorong banyak investor untuk mengunci keuntungan. Dolar yang lebih kuat menambah tekanan jangka pendek,” ujar Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.
Dengan suasana risiko global yang membaik, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berkurang, meski prospek jangka panjangnya tetap positif jika ketidakpastian ekonomi berlanjut.
Dolar Kanada Menguat Tipis Setelah Data Inflasi Positif
Dari Amerika Utara, dolar Kanada (CAD) menunjukkan performa yang lebih stabil berkat data inflasi domestik yang kuat. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kanada naik menjadi 2,4% pada September, dari 1,9% pada Agustus, melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,3%.
Meski demikian, pasangan USD/CAD masih bergerak defensif di sekitar 1,4000 pada awal perdagangan Rabu. Penguatan inflasi Kanada ini memicu spekulasi bahwa Bank of Canada (BoC) dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, terutama jika tekanan harga domestik belum sepenuhnya reda.
Euro Stabil di Tengah Fokus pada Pidato Christine Lagarde
Sementara itu, EUR/USD relatif stabil di kisaran 1,1600, meskipun telah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Investor kini menantikan pidato Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, di ajang Frankfurt Finance & Future Summit yang akan memberikan pandangan terkini mengenai arah kebijakan moneter zona euro.
Analis memperkirakan Lagarde akan menegaskan sikap hati-hati dalam menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat di kawasan Eropa.
Yen Jepang Tenang, Pasar Tunggu Keputusan Bank of Japan
Dari Asia, perhatian pasar tertuju pada Jepang. Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa sebagian besar ekonom memperkirakan Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga acuannya pada Oktober atau Desember. Sekitar 96% responden memperkirakan peningkatan setidaknya 25 basis poin (bps) pada akhir Maret 2026.
Sementara itu, USD/JPY tetap tenang di bawah 152,00, setelah naik 0,8% pada Selasa. Di sisi kebijakan fiskal, Perdana Menteri Sanae Takaichi menginstruksikan penyusunan paket stimulus ekonomi baru untuk membantu rumah tangga dan pelaku usaha menghadapi dampak inflasi yang berkepanjangan.
Pasar Valas Bergerak Hati-Hati di Tengah Data Campuran Global
Secara keseluruhan, perdagangan valuta asing hari ini berlangsung hati-hati dengan volatilitas terbatas. Data inflasi Inggris yang lemah menekan Pound Sterling, sementara dolar AS bertahan stabil didukung sentimen risiko yang mulai pulih.
Pergerakan mata uang komoditas seperti dolar Kanada dan yen Jepang mencerminkan dinamika regional yang unik, sementara fokus global tetap pada kebijakan bank sentral dan arah suku bunga utama dunia. Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi jangka pendek dan mencari peluang dari perbedaan fundamental antarnegara.

Comment