Perdagangan global 2025 mencatat lonjakan signifikan dengan pertumbuhan impor dunia mencapai hampir 5%. Amerika Serikat, China, dan Indonesia termasuk dalam 30 negara paling aktif berbelanja produk dari luar negeri. Simak daftar lengkap dan analisis tren impornya di sini.
30 Negara Paling Gencar Impor di Dunia 2025: Amerika Serikat, China, hingga Indonesia Masuk Daftar Elite Perdagangan Global
Pertumbuhan perdagangan internasional sepanjang paruh pertama tahun 2025 melampaui ekspektasi banyak pihak. Data World Trade Organization (WTO) menunjukkan bahwa volume perdagangan dunia—yang diukur berdasarkan rata-rata ekspor dan impor—melonjak tajam 5,5% year-on-year (yoy) pada kuartal pertama 2025. Tren positif ini berlanjut di kuartal kedua dengan kenaikan 4,3%, sehingga total pertumbuhan perdagangan global pada paruh pertama tahun ini mencapai 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan ini tidak hanya menandai pemulihan rantai pasok global pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik, tetapi juga mencerminkan tingginya permintaan lintas sektor industri di berbagai negara.
Amerika Serikat: Importir Terbesar Dunia dengan Permintaan Domestik yang Masif
Sejak 2024, Amerika Serikat (AS) telah memegang posisi sebagai negara importir terbesar di dunia. Sepanjang tahun 2024, nilai impor AS mencapai US$3,35 triliun atau sekitar Rp55.784 triliun (kurs Rp16.652 per dolar AS). Angka fantastis ini berarti lebih dari 13% total barang impor dunia diserap oleh pasar AS.
Kuatnya permintaan impor Negeri Paman Sam ini disebabkan oleh beberapa faktor utama: kebutuhan bahan baku industri, farmasi, hingga barang konsumsi rumah tangga yang melonjak tajam. Menariknya, lonjakan impor juga didorong oleh fenomena “frontloading”, yakni percepatan pembelian barang impor sebelum kebijakan kenaikan tarif diberlakukan.
Negara tetangga seperti Meksiko dan Kanada menjadi pemasok utama AS dengan nilai impor masing-masing US$509 miliar dan US$421 miliar. Jika digabungkan, kedua negara tersebut memasok sekitar 28,1% dari total impor AS, dengan sektor otomotif dan farmasi sebagai kontributor terbesar.
China: Kebutuhan Industri yang Masih Kuat Meski Dihantam Ketegangan Geopolitik
Sementara itu, China juga tetap menjadi salah satu kekuatan besar dalam perdagangan global. Total nilai impor Negeri Tirai Bambu pada tahun 2024 tercatat sebesar US$2,58 triliun atau Rp43.045 triliun.
Namun, jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, nilai impor China menurun sekitar 20%, sebagian besar karena meningkatnya tensi perdagangan dan geopolitik antara Beijing dan Washington.
Produk impor terbesar China berasal dari kategori HS 27 (bahan bakar mineral) yang didominasi pasokan dari Rusia dan Timur Tengah. Selain itu, peralatan mesin dan elektronik (HS 85) juga memberikan kontribusi besar, mencerminkan besarnya kebutuhan industri domestik China yang terus bertransformasi ke arah manufaktur bernilai tinggi.
Meski nilai total impornya tetap tinggi, laju pertumbuhan impor China relatif melambat—hanya 1% yoy, jauh di bawah AS.
Asia Tenggara: Pusat Pertumbuhan Impor Tercepat
Salah satu kawasan yang menonjol dalam laporan WTO adalah Asia Tenggara, yang mencatatkan peningkatan aktivitas impor paling dinamis di dunia.
Vietnam, misalnya, tampil impresif dengan pertumbuhan impor mencapai 17% yoy, tertinggi di kawasan ini. Sebagian besar barang yang masuk ke Vietnam adalah bahan baku industri (93,7%), sementara hanya 6,3% yang tergolong barang konsumsi. Pola ini menandakan bahwa Vietnam sedang bersiap memperluas kapasitas manufakturnya, terutama di sektor elektronik, tekstil, dan otomotif.
Negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina juga menunjukkan tren positif, didorong oleh meningkatnya investasi asing dan ekspansi rantai pasok global ke Asia Tenggara sebagai alternatif dari China.
Indonesia: Tetap Stabil, Masuk Daftar 30 Negara Importir Terbesar Dunia
Tak ketinggalan, Indonesia menempati peringkat ke-28 dalam daftar negara importir terbesar dunia versi WTO. Nilai impor Indonesia sepanjang 2024 tercatat sebesar US$234 miliar atau setara Rp3.896 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 5% yoy.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode Januari–September 2025, total impor Indonesia mencapai US$176,32 miliar, naik 2,62% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya impor bahan baku industri, mesin, dan produk kimia. Sementara impor barang konsumsi relatif stabil, mencerminkan keseimbangan antara permintaan domestik dan upaya pemerintah untuk mengendalikan neraca perdagangan.
Tren ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar besar sekaligus negara dengan aktivitas produksi yang meningkat, terutama untuk mendukung ekspansi sektor manufaktur dan infrastruktur.
Dunia Menuju Siklus Perdagangan Baru
Laporan WTO menegaskan bahwa pertumbuhan impor di berbagai belahan dunia menandakan fase baru dalam perdagangan global: pergeseran rantai pasok, digitalisasi logistik, serta kebangkitan sektor industri pasca-pandemi.
Meskipun beberapa negara menghadapi risiko inflasi dan ketegangan geopolitik, permintaan lintas batas tetap kuat—menjadikan 2025 sebagai tahun kebangkitan baru bagi ekonomi dunia.
Dari Amerika Serikat yang mendominasi impor global, China yang tetap tangguh di tengah tensi geopolitik, hingga Indonesia yang perlahan memperkuat posisi di daftar 30 besar dunia—semua menunjukkan bahwa perdagangan internasional masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi global.
Kawasan Asia, terutama Asia Tenggara, diperkirakan akan terus menjadi motor penggerak utama pertumbuhan impor di tahun-tahun mendatang.

Comment