Harga minyak dunia hari ini (29/12/2025) menguat tipis di akhir tahun seiring optimisme kebijakan fiskal China 2026 dan harapan pemulihan permintaan global, meski risiko oversupply masih membayangi.
Harga Minyak Dunia Menguat Tipis di Penghujung Tahun
Harga minyak dunia menunjukkan penguatan terbatas pada perdagangan Senin, 29 Desember 2025, menandai pergerakan positif di tengah penutupan tahun yang penuh tekanan bagi pasar energi global. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme terhadap prospek permintaan dari China, menyusul sinyal kuat pemerintah Negeri Tirai Bambu untuk memperluas stimulus fiskal pada 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di atas level US$61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$57 per barel. Penguatan harga minyak sejalan dengan reli sejumlah komoditas lain, termasuk logam mulia seperti perak, yang turut mencerminkan pergeseran sentimen investor menjelang pergantian tahun.
Stimulus Fiskal China Jadi Penopang Utama Sentimen
Faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak berasal dari China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Pemerintah China melalui Kementerian Keuangan menyatakan komitmennya untuk memperluas basis pengeluaran fiskal pada 2026, sebuah langkah yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal dukungan berkelanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan ini dinilai berpotensi mendorong aktivitas industri, infrastruktur, dan konsumsi domestik, yang secara langsung akan meningkatkan kebutuhan energi, termasuk minyak mentah. Investor global memandang langkah tersebut sebagai upaya serius China untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi pascaperlambatan yang berlangsung sepanjang 2024–2025.
Ekspektasi peningkatan permintaan dari Asia, khususnya China, menjadi faktor penyeimbang di tengah kekhawatiran terhadap pasokan minyak global yang masih melimpah.
Harga Minyak Menguat Meski Ada Harapan Perdamaian Ukraina
Menariknya, penguatan harga minyak terjadi di saat Amerika Serikat meningkatkan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Rusia–Ukraina. Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pembicaraan dengan pihak Ukraina menunjukkan kemajuan signifikan, bahkan menyebut bahwa sekitar 90% kerangka kerja perdamaian telah disepakati.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy turut mengonfirmasi adanya kemajuan besar dalam negosiasi tersebut. Jika konflik benar-benar mereda, pasar memperkirakan akan ada peluang pelonggaran sanksi terhadap Rusia, yang dapat membuka kembali arus pasokan minyak Rusia ke pasar global.
Secara teori, potensi peningkatan pasokan tersebut seharusnya menekan harga minyak. Namun, pasar saat ini lebih fokus pada prospek permintaan jangka menengah dan sentimen positif dari kebijakan China, sehingga dampak potensi pasokan tambahan belum sepenuhnya tercermin dalam harga.
Tekanan Oversupply Masih Membayangi Pasar
Meski mencatat kenaikan harian, harga minyak global masih berada dalam tren pelemahan secara bulanan. Desember 2025 diperkirakan menjadi bulan kelima berturut-turut penurunan harga minyak, yang merupakan periode penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Tekanan ini sebagian besar disebabkan oleh kekhawatiran akan kelebihan pasokan global. Kartel OPEC+, termasuk Rusia, sebelumnya telah meningkatkan produksi, sementara negara-negara produsen di luar kelompok tersebut juga terus menambah pasokan. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, terutama saat pertumbuhan ekonomi global belum sepenuhnya solid.
Di sisi lain, permintaan dari negara-negara maju masih relatif moderat akibat kebijakan moneter ketat dan ketidakpastian ekonomi global. Kombinasi faktor tersebut membuat setiap kenaikan harga minyak cenderung terbatas dan rentan terkoreksi.
Reli Akhir Tahun dan Faktor Psikologis Pasar
Penguatan harga minyak di akhir Desember juga tidak lepas dari faktor musiman dan psikologis pasar. Menjelang pergantian tahun, sebagian investor melakukan penyesuaian portofolio dan menutup posisi jual, yang turut memberikan dorongan sementara pada harga komoditas.
Reli komoditas secara luas—mulai dari energi hingga logam mulia—menunjukkan adanya perbaikan selera risiko, meskipun masih bersifat hati-hati. Pelaku pasar kini menanti kejelasan arah kebijakan ekonomi global pada awal 2026, termasuk langkah bank sentral dan perkembangan geopolitik.
Prospek Harga Minyak di Awal 2026
Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh realisasi kebijakan fiskal China, dinamika pasokan OPEC+, serta perkembangan konflik geopolitik. Jika stimulus China mampu mendorong pemulihan permintaan secara nyata, harga minyak berpeluang menemukan titik keseimbangan baru di awal 2026.
Namun, risiko penurunan tetap ada apabila pasokan global terus meningkat tanpa diimbangi pertumbuhan permintaan yang sepadan. Investor dan pelaku industri energi diperkirakan akan tetap bersikap selektif, memantau data ekonomi, kebijakan energi, dan arah hubungan internasional.
Harga minyak dunia hari ini menguat tipis di penghujung 2025, didukung oleh optimisme terhadap kebijakan ekonomi China 2026 dan reli komoditas global. Meski demikian, tren jangka menengah masih dibayangi tekanan oversupply dan ketidakpastian geopolitik. Dengan memasuki tahun baru, pasar minyak bersiap menghadapi fase krusial yang akan menentukan arah harga energi global sepanjang 2026.

Comment