IHSG sesi I berbalik turun 0,37% setelah menyentuh rekor tertinggi. Penurunan BBCA, BREN, ASII, dan TLKM menjadi penekan utama indeks, sementara saham grup Bakrie dan Haji Isam justru melesat. Pasar menunggu keputusan The Fed, peluang pemangkasan suku bunga, serta kebijakan baru DHE SDA yang memengaruhi likuiditas dolar. Simak analisis lengkapnya.
Mayoritas Sektor Berguguran
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pembalikan arah yang cukup tajam pada perdagangan sesi I hari Selasa (9/12). Setelah sempat dibuka menguat 0,37% di pagi hari menyusul euforia rekor tertinggi (All Time High/ATH), indeks justru berbalik melemah signifikan. IHSG ditutup turun 38,72 poin atau 0,44% ke level 8.671,97 pada akhir sesi pertama.
Pasar menunjukkan sentimen campuran, terlihat dari 429 saham yang melemah, sementara 251 saham menguat, dan 277 saham stagnan. Aktivitas perdagangan tergolong tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp14,37 triliun, melibatkan 31,71 miliar saham dalam lebih dari 1,88 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkoreksi ke Rp15.941 triliun, turun dari level sebelumnya.
Data Refinitiv memperlihatkan hampir seluruh sektor utama berada di zona merah.
Beberapa sektor yang mencatat pelemahan terdalam meliputi:
-
Utilitas: -1,92%
-
Kesehatan: -1,14%
-
Bahan baku: -1,07%
-
Properti: -1,00%
Koreksi sektor-sektor ini menunjukkan bahwa aksi ambil untung (profit taking) semakin masif setelah IHSG menembus level tertinggi historis pada perdagangan sebelumnya.
BUMI dan DEWA Kembali Jadi Primadona
Meski IHSG melemah, aktivitas perdagangan masih ramai di beberapa saham energi dan tambang, terutama di kelompok Bakrie.
Dua saham yang mencuri perhatian adalah:
-
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) – transaksi Rp4,23 triliun, naik 7,94%
-
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) – transaksi Rp2,63 triliun, naik 9,17%
Volume transaksi yang sangat besar menunjukkan bahwa kedua saham ini tetap menjadi magnet bagi investor ritel maupun spekulan.
Saham-Saham Terafiliasi Haji Isam Menguat Lagi
Selain grup Bakrie, saham-saham yang terkait dengan pengusaha Haji Isam juga kembali melanjutkan penguatan, setelah sehari sebelumnya mencapai Auto Rejection Atas (ARA).
Kenaikan signifikan antara lain terjadi pada:
-
FAST +11,38%
-
PGUN +6,42%
-
JARR +4,9%
-
TEBE +5,2%
Aksi beli pada saham-saham ini menunjukkan bahwa minat pasar terhadap sektor konsumsi dan energi masih cukup kuat meski IHSG terkoreksi.
BBCA dan BREN Jadi Penekan Terberat IHSG
Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi besar justru menekan IHSG dengan cukup agresif.
Beberapa penekan utama IHSG (top laggards) antara lain:
-
Bank Central Asia (BBCA) – kontribusi negatif -14,18 poin, turun 1,81%
-
Barito Renewables Energy (BREN) – -8,20 poin
-
Astra International (ASII) – -7,51 poin
-
Telkom Indonesia (TLKM) – -6,61 poin
BBCA menjadi pemberat terbesar, kembali turun ke level 8.150. Tekanan di saham-saham blue chip ini memperlihatkan bahwa investor besar cenderung melakukan aksi realisasi keuntungan setelah reli panjang beberapa hari terakhir.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Salah satu faktor eksternal terbesar yang membuat pasar lebih berhati-hati adalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dimulai hari ini waktu Amerika Serikat dan diumumkan besok dini hari waktu Indonesia.
FOMC kali ini menjadi sangat penting karena:
-
Pasar ingin memastikan apakah era Quantitative Tightening (QT) akan segera berakhir.
-
Ketua The Fed sebelumnya menyebut bahwa likuiditas perbankan sudah lebih longgar.
-
Ekspektasi pemangkasan suku bunga jangka pendek semakin menguat.
Berdasarkan CME FedWatch per 6 Desember 2025, peluang pemangkasan suku bunga pada bulan Desember mencapai 86,2%. Optimisme tinggi ini menunjukkan bahwa pasar percaya inflasi AS telah berada dalam tren turun dan perbankan AS sudah stabil.
Sentimen Domestik: Kebijakan DHE SDA Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, sentimen datang dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait ketentuan baru mengenai penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Kebijakan baru menetapkan bahwa DHE SDA wajib ditempatkan di rekening khusus (reksus) pada bank-bank Himbara selama 12 bulan, dengan batas konversi maksimal 50%.
Pemerintah memastikan bahwa:
-
Kebijakan ini tidak akan mengeringkan likuiditas dolar di bank-bank swasta.
-
Pengawasan DHE akan lebih efektif.
-
Likuiditas dolar di sistem keuangan domestik akan lebih stabil dalam jangka panjang.
IHSG Terkoreksi Tapi Prospek Masih Terbuka
Koreksi IHSG di sesi I hari ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah indeks mencapai ATH. Tekanan dari saham-saham big caps turut menyeret indeks ke bawah. Namun, pergerakan kuat di saham-saham energi dan consumer-linked menunjukkan bahwa minat pasar masih sehat.
Keputusan The Fed, perkembangan inflasi AS, dan efektivitas kebijakan DHE SDA akan menjadi fokus utama yang menentukan arah IHSG pada sesi berikutnya.

Comment