IHSG dibuka melemah dan masuk fase risk off akibat profit taking, foreign outflow, serta antisipasi MSCI rebalancing. Analis menilai koreksi masih sehat dengan peluang rebound dalam waktu dekat.
IHSG Dibuka Melemah, Tekanan Jual Mendominasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan dengan tekanan pada Selasa (27/1/2026). Pada awal sesi, IHSG tercatat melemah ke level 8.974, sedikit turun dibandingkan penutupan sebelumnya di 8.975. Tekanan tersebut berlanjut seiring meningkatnya aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Mengacu pada data RTI, pelemahan indeks semakin dalam menjelang pertengahan sesi pagi. Hingga pukul 09.40 WIB, IHSG tercatat turun 0,59% atau 55 poin ke level 8.920,13. Kondisi ini menandai perubahan sentimen pasar dari optimisme menuju kehati-hatian setelah reli panjang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Profit Taking dan Rotasi Portofolio Jadi Pemicu Utama
Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai pelemahan IHSG kali ini lebih disebabkan oleh faktor internal pasar, khususnya aksi profit taking dan rotasi portofolio investor.
“Profit taking dan rotasi portofolio menjadi faktor utama. Selain itu, ada foreign outflow, antisipasi MSCI rebalancing, serta sentimen regional. Saat ini pasar masuk mode risk off, apalagi valuasi IHSG sudah relatif mahal,” ujar Wafi, Selasa (27/1/2026).
Setelah mencatat reli cukup panjang dan menyentuh level tertinggi baru, sebagian pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan. Aksi ini terutama terlihat pada saham-saham yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan, sehingga tekanan jual tidak terhindarkan.
Foreign Outflow dan Antisipasi MSCI Rebalancing
Selain profit taking, tekanan terhadap IHSG juga diperkuat oleh arus keluar dana asing (foreign outflow). Investor global cenderung bersikap lebih defensif di tengah ketidakpastian global dan regional, termasuk menjelang penyesuaian indeks MSCI.
Antisipasi terhadap MSCI rebalancing kerap mendorong investor melakukan penyesuaian posisi, terutama pada saham-saham yang berpotensi mengalami perubahan bobot atau bahkan keluar dari indeks. Kondisi ini menambah volatilitas dan meningkatkan tekanan jual dalam jangka pendek.
Di sisi lain, sentimen regional yang kurang kondusif turut mempengaruhi psikologi pasar. Ketika pasar global cenderung berhati-hati, investor domestik pun ikut mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sektor Energi dan Perbankan Menjadi Penekan Utama
Dari sisi sektoral, pelemahan IHSG pada awal perdagangan terutama disumbang oleh sektor energi dan perbankan. Kedua sektor ini memiliki bobot besar dalam struktur IHSG, sehingga setiap pergerakan harga saham di sektor tersebut memberikan dampak signifikan terhadap indeks secara keseluruhan.
“Sektor yang paling menekan IHSG hari ini adalah energi dan perbankan,” ungkap Wafi.
Tekanan pada saham perbankan besar dan emiten energi mencerminkan aksi jual pada saham-saham unggulan (blue chips) yang sebelumnya menjadi motor penguatan indeks. Ketika saham-saham ini terkoreksi, IHSG pun sulit bertahan di zona hijau.
Koreksi Dinilai Sehat, Tren Bullish Masih Terjaga
Meski IHSG mengalami pelemahan cukup dalam, analis menilai koreksi yang terjadi masih tergolong sehat dan wajar dalam konteks tren jangka menengah. Muhammad Wafi memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dalam jangka pendek, namun penurunan tersebut tidak mengubah tren bullish utama.
“Untuk jangka pendek masih ada peluang koreksi. Namun koreksi hingga level 8.800 masih tergolong wajar dan tren bullish secara umum masih terjaga,” jelasnya.
Menurutnya, koreksi saat ini justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi bertahap, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang masih atraktif.
“Ada potensi rebound di Februari. Jadi koreksi sekarang bisa dimanfaatkan untuk akumulasi, tapi tetap harus selektif memilih saham yang fundamentalnya bagus dan valuasinya masuk akal,” pungkas Wafi.
IHSG Masih Berpeluang Menguat, Ini Level Kuncinya
Di tengah tekanan yang terjadi, peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek masih terbuka. Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG pada perdagangan Senin (26/1/2026) sebenarnya ditutup menguat 0,27%, meskipun dibarengi aksi jual investor asing senilai Rp1,01 triliun.
Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing antara lain BBCA, BMRI, BUMI, BBNI, dan MDKA. Aksi jual ini menunjukkan bahwa investor global masih melakukan penyesuaian portofolio, meski indeks secara keseluruhan sempat mencatatkan penguatan.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan jika mampu bertahan di atas level support kunci.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini jika mampu bertahan di level support 8.880,” ujarnya.
Ia memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa akan berada dalam rentang support 8.880–8.900 dan resistance 9.000–9.050. Rentang ini menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan IHSG selanjutnya.
Investor Diminta Tetap Selektif dan Disiplin
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, investor disarankan untuk tetap bersikap disiplin dan selektif. Strategi manajemen risiko menjadi kunci, terutama bagi investor jangka pendek. Sementara itu, investor jangka menengah hingga panjang dapat memanfaatkan koreksi sebagai momentum masuk secara bertahap.
Kombinasi antara aksi profit taking, arus dana asing, dan sentimen global membuat IHSG rawan bergejolak dalam waktu dekat. Namun selama level support utama mampu dipertahankan, prospek pasar saham Indonesia dinilai masih positif.

Comment