Setahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka menjadi periode paling dinamis bagi pasar modal Indonesia. IHSG dua kali terkena trading halt namun juga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 8.200. Simak kilas balik lengkap perjalanan IHSG 2024–2025 berikut ini.
Drama IHSG Setahun Era Prabowo-Gibran: Dari Roller Coaster ke Rekor Sejarah
Setahun sudah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memimpin Indonesia. Selama periode 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025, pasar saham Indonesia menunjukkan perjalanan bak roller coaster—penuh kejutan, dua kali trading halt, namun juga menorehkan rekor tertinggi dalam sejarah Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi cermin dinamika ekonomi nasional dan global yang penuh gejolak. Dari ketidakpastian fiskal, sentimen global, hingga kebijakan suku bunga, semuanya memberi warna pada perjalanan pasar modal Indonesia di bawah pemerintahan baru.
IHSG Amblas Usai Pelantikan Prabowo-Gibran
Usai pelantikan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran pada 20 Oktober 2024, IHSG justru mengalami tekanan berat. Dalam kurun enam pekan pertama, indeks anjlok hingga 9,19% dan ditutup di level 7.046,98 pada 2 Desember 2024.
Penyebab utama kejatuhan ini adalah sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru. Ketidakpastian mengenai kabinet ekonomi, program makan bergizi gratis, serta rencana belanja pertahanan besar menimbulkan kekhawatiran defisit anggaran dan inflasi.
Investor asing mencatat penjualan bersih lebih dari Rp15 triliun, membuat IHSG terpuruk, terutama di sektor perbankan dan komoditas.
Rebound Singkat dan Optimisme Awal
Setelah tekanan panjang, IHSG sempat memantul naik pada Desember 2024 hingga menembus 7.464,75. Optimisme global yang meningkat dan peluang pemangkasan suku bunga The Fed memicu relief rally.
Investor asing bahkan mulai kembali masuk dengan net buy Rp1,07 triliun pada pekan kedua Desember. Namun, euforia ini hanya sementara.
IHSG Terpukul Lagi di Awal 2025
Memasuki Februari 2025, IHSG kembali jatuh hingga 12,50% ke level 6.531,99. Investor mencemaskan tekanan fiskal dari program sosial besar dan hambatan implementasi sistem pajak baru (Coretax).
Kekhawatiran itu diperparah oleh ketidakpastian global dan sikap hati-hati lembaga investasi seperti MSCI yang memberi outlook berhati-hati terhadap Indonesia. Modal asing kembali keluar, memperdalam koreksi pasar.
Trading Halt Pertama Sejak Pandemi
Puncak kepanikan terjadi pada 18 Maret 2025, saat IHSG anjlok lebih dari 7% hanya dalam satu sesi. Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan sementara—trading halt pertama sejak pandemi COVID-19.
Pemicunya adalah kabar mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani dan penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs serta Morgan Stanley. Kedua lembaga tersebut menilai risiko fiskal meningkat di bawah pemerintahan baru.
April 2025: Trading Halt Kedua di Tengah Perang Dagang
Belum pulih dari kejutan Maret, pasar kembali terguncang 8 April 2025. IHSG anjlok lebih dari 9% di awal perdagangan, memicu trading halt kedua.
Kali ini, biang keladinya datang dari luar negeri: Presiden AS Donald Trump mengumumkan perang dagang besar-besaran, menaikkan tarif impor secara resiprokal terhadap sejumlah negara, termasuk Tiongkok. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global menyeret seluruh pasar Asia ke zona merah.
Kebangkitan IHSG dan Tren Bullish Baru
Pasca dua kali trading halt, IHSG berbalik arah tajam. Hingga 10 Juni 2025, IHSG melonjak 20,59% ke level 7.230,74.
Katalis utama datang dari penurunan suku bunga Bank Indonesia sebanyak dua kali (Januari dan Mei 2025) serta meredanya ketegangan global. Meski dana asing masih keluar, investor domestik mengambil alih dengan likuiditas kuat.
Analis menilai valuasi saham Indonesia saat itu sudah “terlalu murah untuk diabaikan”, mendorong aksi beli besar-besaran oleh investor lokal.
IHSG Tembus 8.000: Rekor Sejarah Baru
Setelah koreksi sehat pada Juni 2025, IHSG kembali menguat dan mencetak sejarah. Pada 15 Agustus 2025, indeks untuk pertama kalinya menembus level 8.000, bertepatan dengan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo.
Pemangkasan suku bunga BI berlanjut di Juli dan Agustus hingga ke level 5,00%, didukung surplus neraca perdagangan US$4,2 miliar.
Masuknya beberapa saham RI ke indeks global MSCI juga memperkuat minat asing. Sentimen positif dari kemungkinan penurunan suku bunga The Fed mendorong aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
IHSG Cetak Rekor Baru di 8.200
Euforia pasar berlanjut hingga Oktober 2025. IHSG ditutup di 8.250,94 pada 9 Oktober—penutupan tertinggi sepanjang sejarah.
Pemangkasan suku bunga BI kelima ke 4,75%, stimulus pemerintah, serta pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut IHSG “can go to the moon” memperkuat optimisme pelaku pasar.
Tekanan Kembali Akibat Gejolak Global
Menjelang ulang tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, IHSG kembali terkoreksi 4,06% ke level 7.915,65 pada 17 Oktober 2025. Penyebabnya: meningkatnya tensi dagang AS–Tiongkok setelah Trump mengancam tarif baru hingga 100% terhadap impor China.
Kondisi ini menekan sektor ekspor, komoditas, dan menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global—menunjukkan betapa sensitifnya IHSG terhadap perubahan geopolitik.
Tahun Bersejarah Bagi Pasar Saham Indonesia
Dari dua kali trading halt hingga rekor tertinggi di 8.200, tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi babak paling dinamis dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Volatilitas tinggi menunjukkan tantangan besar yang dihadapi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Namun di sisi lain, rebound IHSG menjadi bukti ketangguhan investor domestik dan kemampuan pasar Indonesia untuk bangkit, bahkan di saat dunia bergejolak.

Comment