IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dan semakin dekat ke level 9.000. Aksi beli investor asing dan penguatan sektor industri menjadi pendorong utama pasar saham Indonesia.
Reli Berlanjut, Rekor Tertinggi Baru Kembali Tercipta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (7/1/2026) dan sukses mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang baru. Kinerja positif ini membuat IHSG semakin mendekati level psikologis 9.000, sebuah tonggak penting yang kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan, IHSG tercatat naik 11,2 poin atau 0,13% dan berakhir di posisi 8.944,8. Penguatan ini memperpanjang reli yang telah berlangsung selama beberapa sesi terakhir, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek pasar saham domestik di awal tahun 2026.
Likuiditas Tinggi, Aktivitas Perdagangan Ramai
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung cukup semarak. Nilai transaksi mencapai Rp36,8 triliun, menunjukkan tingginya partisipasi investor baik domestik maupun asing. Dari sisi volume, tercatat 68,5 juta saham berpindah tangan, dengan frekuensi transaksi mencapai 4,5 juta kali, menandakan likuiditas pasar yang tetap terjaga meskipun indeks berada di level tertinggi.
Secara keseluruhan, pergerakan saham cenderung berimbang. Sebanyak 367 saham ditutup menguat, sementara 375 saham melemah, dan 216 saham bergerak stagnan. Data ini menunjukkan bahwa penguatan IHSG tidak bersifat menyeluruh, melainkan didorong oleh sektor-sektor tertentu yang menjadi favorit investor.
Sektor Industri Jadi Motor Penggerak IHSG
Dari sisi sektoral, sektor perindustrian tampil sebagai penopang utama IHSG, dengan kenaikan signifikan sebesar 2,4%. Penguatan sektor ini mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap aktivitas manufaktur dan belanja modal, seiring prospek pertumbuhan ekonomi yang masih solid.
Selain itu, sektor barang konsumen primer juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan 1,18%, diikuti oleh sektor barang baku yang menguat 1,11%. Sektor energi turut berkontribusi dengan kenaikan 0,51%, sejalan dengan stabilnya harga komoditas global, sementara sektor infrastruktur naik tipis 0,16%.
Kinerja positif sektor-sektor tersebut menegaskan bahwa investor masih selektif, dengan fokus pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Beberapa Sektor Masih Tertekan
Di sisi lain, tidak semua sektor mampu mengikuti laju penguatan indeks. Sektor transportasi menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 1,83%, mencerminkan aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Sektor barang konsumen nonprimer melemah 0,93%, sementara sektor teknologi terkoreksi 0,56%.
Tekanan juga terlihat pada sektor keuangan yang turun 0,24%, diikuti oleh sektor properti yang melemah 0,22%, serta sektor kesehatan yang turun tipis 0,05%. Pelemahan ini menunjukkan adanya rotasi sektor, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke sektor yang dinilai lebih prospektif dalam kondisi pasar saat ini.
Aksi Beli Investor Asing Jadi Katalis Utama
Menurut analis Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan IHSG hingga mencetak rekor tertinggi baru tidak terlepas dari aksi beli investor asing yang masih berlangsung agresif. Arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia memberikan dorongan signifikan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor unggulan.
Sentimen positif global, stabilitas makroekonomi domestik, serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap kuat menjadi faktor pendukung utama minat investor asing. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa reli IHSG masih memiliki ruang untuk berlanjut, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai.
Saham Top Gainers: Lonjakan Tajam dalam Sehari
Sejumlah saham mencatatkan kenaikan harga signifikan dalam satu hari perdagangan. Saham PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) memimpin daftar penguatan dengan lonjakan 34,67% ke level Rp268.
Di posisi berikutnya, PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) melesat 25% menjadi Rp675, disusul PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) yang naik 24,85% ke Rp412. Sementara itu, saham PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) turut mencuri perhatian dengan kenaikan 24,78% ke level Rp1.410, dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menguat 24,73% ke Rp1.160.
Lonjakan tajam saham-saham ini menunjukkan tingginya minat spekulatif pada saham lapis kedua dan ketiga, terutama yang didukung sentimen korporasi atau pergerakan teknikal.
Saham Top Losers: Tekanan Jual Masih Terlihat
Di tengah euforia pasar, sejumlah saham justru harus ditutup di zona merah dengan koreksi tajam. PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) mencatatkan penurunan terdalam dengan anjlok 14,93% ke level Rp855.
Tekanan juga dialami PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) yang turun 14,84% menjadi Rp218, serta PT Soho Global Health Tbk (SOHO) yang terkoreksi 13,62% ke Rp1.300. Selain itu, PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) melemah 13,16% ke Rp132, sementara PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) turun 11,31% ke level Rp3.530.
Level 9.000 Kian Dekat, Tetap Waspada
Dengan posisi IHSG yang kini berada di area 8.944, pasar hanya terpaut tipis dari level psikologis 9.000. Secara teknikal, momentum penguatan masih terjaga, didukung oleh arus dana asing dan kinerja sektor-sektor unggulan. Namun, investor tetap disarankan untuk mencermati potensi koreksi jangka pendek, mengingat indeks berada di zona tertinggi sepanjang sejarah.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, data ekonomi domestik, serta dinamika arus modal asing. Selama sentimen positif tetap terjaga, peluang IHSG untuk menembus level 9.000 semakin terbuka, meskipun volatilitas diperkirakan akan meningkat seiring mendekatnya level psikologis tersebut.

Comment