IHSG hari ini 19 Januari 2026 bergerak fluktuatif usai libur panjang. Mayoritas sektor melemah di tengah tekanan rupiah dan sentimen global, meski peluang penguatan teknikal masih terbuka.
Tekanan Global dan Asia Membebani Pergerakan IHSG
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, berlangsung fluktuatif dan cenderung bergejolak setelah pasar kembali dibuka usai libur panjang. Tekanan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta mayoritas sektor saham yang bergerak di zona merah, meskipun secara teknikal peluang penguatan indeks masih tetap terbuka.
Mengacu pada data RTI Business, IHSG dibuka menguat 23,3 poin ke level 9.098,7. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada pukul 09.32 WIB, IHSG berbalik arah dan turun 0,27% ke posisi 9.050, mencerminkan aksi ambil untung dan sikap hati-hati investor setelah reli sebelumnya. Indeks saham unggulan LQ45 turut melemah 0,29% ke level 887, sementara sebagian besar indeks sektoral bergerak di zona negatif.
Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi. Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 0,32%, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah 0,29%. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor regional dalam merespons perkembangan global, khususnya arah kebijakan moneter bank sentral utama serta dinamika geopolitik internasional.
Analis Pasar Modal sekaligus Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai bahwa meskipun pembukaan pasar Asia cenderung melemah, IHSG masih memiliki ruang untuk bergerak menguat secara terbatas dengan dukungan teknikal dan sentimen domestik yang relatif stabil.
“Pada pagi ini, mayoritas indeks Asia memang bergerak melemah, seperti Nikkei 225 dan Hang Seng. Namun, untuk IHSG, peluang penguatan masih terbuka,” ujar Reza dalam keterangannya.
Ia memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support di level 9.007 dan resistance di level 9.125, dengan kecenderungan menguat apabila tekanan eksternal tidak semakin membesar.
Aktivitas Perdagangan dan Kinerja Saham
Sepanjang perdagangan pagi, IHSG sempat mencatatkan level tertinggi di 9.109,03 dan level terendah di 9.025,99. Data menunjukkan sebanyak 333 saham melemah, 258 saham menguat, dan 135 saham stagnan, menandakan pergerakan pasar yang masih selektif.
Total frekuensi transaksi tercatat mencapai 1.102.153 kali dengan volume perdagangan 16,7 miliar saham dan nilai transaksi harian sekitar Rp7,5 triliun. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah di kisaran Rp16.909 per dolar AS, yang turut menekan sentimen investor, terutama pada saham-saham berorientasi impor dan sektor sensitif terhadap kurs.
Mayoritas Sektor Melemah, Properti dan Industri Jadi Penopang
Secara sektoral, mayoritas indeks sektor berada di zona merah. Sektor energi turun 0,55%, basic materials terkoreksi 1,19%, dan kesehatan tertekan paling dalam dengan penurunan 1,29%. Sektor keuangan melemah tipis 0,14%, sementara teknologi turun 1,15%, infrastruktur terkoreksi 0,62%, dan transportasi melemah 1%.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa sektor justru mampu mencatatkan penguatan. Sektor industri memimpin dengan kenaikan 1,37%, diikuti consumer nonsiklikal yang naik 0,14%, consumer siklikal menguat 0,48%, serta properti yang melonjak 0,47%. Kinerja positif sektor-sektor ini mencerminkan masih adanya minat beli selektif di saham-saham tertentu.
Beberapa saham unggulan juga mencatatkan pergerakan menarik. BRPT naik 0,35% ke level Rp2.840, dengan nilai transaksi mencapai Rp36,2 miliar. CTRA menguat 1,6% ke posisi Rp950, didukung volume dan frekuensi transaksi yang relatif aktif. ICBP turut menguat 0,62% ke level Rp8.100, sementara PWON justru melemah 2,08% ke posisi Rp376.
Sentimen Domestik dan Arah Kebijakan BI
Dari sisi domestik, IHSG sebelumnya ditutup menguat 0,47% pada Kamis, 15 Januari 2026, di level 9.075,41. Penguatan tersebut didorong oleh sektor consumer cyclicals yang naik 1,15% dan sektor keuangan yang menguat 1,14%.
Aliran dana asing juga memberikan sentimen positif. Investor asing membukukan net buy Rp474,49 miliar di pasar reguler, dengan saham-saham seperti BBRI, PTRO, BMRI, INCO, dan JPFA menjadi incaran utama.
Pelaku pasar kini menanti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%, seiring pelemahan rupiah dan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar.
Sinyal Teknikal Masih Mendukung Penguatan Terbatas
Secara teknikal, pergerakan IHSG masih menunjukkan sinyal yang relatif konstruktif. Candle terakhir membentuk pola doji, mengindikasikan keseimbangan antara tekanan jual dan beli. IHSG juga masih bergerak di atas moving average MA5 dan MA20, sementara indikator MACD membentuk golden cross, yang menjadi sinyal potensi kelanjutan tren positif dalam jangka pendek.
“Dengan kondisi tersebut, kami memproyeksikan IHSG hari ini berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas. Saham pilihan kami antara lain INTP, INET, SCMA, dan SMBR,” kata Reza.
Di sisi eksternal, indeks utama Wall Street ditutup bervariasi cenderung melemah, dipengaruhi oleh laporan kinerja perbankan, data inflasi, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve. Sentimen global ini masih akan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam beberapa sesi ke depan.

Comment