IHSG ditutup melemah 1,28% ke level 8.876 pada sesi I perdagangan Jumat, dipicu tekanan jual di hampir seluruh sektor, terutama konsumsi, energi, dan transportasi.
Aktivitas Perdagangan Ramai, Namun Didominasi Tekanan Jual
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (23/1/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ditutup merosot 115,28 poin atau 1,28% ke level 8.876,89, menandai melemahnya sentimen pasar di tengah dominasi aksi jual yang meluas hampir di seluruh sektor saham.
Sepanjang sesi perdagangan pagi hingga menjelang siang, IHSG bergerak fluktuatif namun cenderung melemah, dengan rentang pergerakan harian berada di kisaran 8.837 hingga 9.039. Tekanan jual yang konsisten membuat indeks gagal bertahan di zona psikologis 9.000, sekaligus mempertegas kehati-hatian investor dalam merespons kondisi pasar terkini.
Meskipun IHSG tertekan, aktivitas perdagangan terpantau tetap ramai. Berdasarkan data BEI, hingga penutupan sesi I tercatat sebanyak 40,89 miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 18,39 triliun. Frekuensi perdagangan juga tergolong tinggi, mencapai 2.131.434 kali transaksi.
Namun demikian, tingginya aktivitas tersebut tidak berbanding lurus dengan kinerja indeks. Arah pergerakan saham cenderung negatif, tercermin dari komposisi saham yang melemah jauh lebih dominan dibandingkan yang menguat. Secara keseluruhan, 585 saham tercatat melemah, sementara hanya 124 saham yang menguat, dan 95 saham bergerak stagnan.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut menyusut seiring penurunan IHSG, dengan total nilai pasar tercatat sebesar Rp 16.258,32 triliun pada akhir sesi I.
Mayoritas Sektor Tertekan, Konsumsi dan Energi Paling Terpukul
Tekanan di pasar saham tercermin jelas pada pergerakan indeks sektoral. Hampir seluruh sektor berada di zona merah, dengan sektor barang konsumsi nonprimer mencatatkan pelemahan terdalam, ambles 2,85%. Penurunan ini mengindikasikan berkurangnya minat investor terhadap saham-saham konsumsi yang bersifat siklikal, seiring meningkatnya kehati-hatian terhadap prospek daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
Sektor energi menyusul dengan penurunan tajam sebesar 2,77%, mencerminkan tekanan pada saham-saham berbasis komoditas energi. Sektor transportasi juga tidak luput dari aksi jual, terkoreksi 2,72%, diikuti sektor perindustrian yang melemah 2,40%. Sektor keuangan, yang kerap menjadi penopang IHSG, turut tertekan 1,30%, memperburuk kinerja indeks secara keseluruhan.
Di sisi lain, hanya segelintir sektor yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor kesehatan mencatatkan penguatan cukup solid sebesar 1,42%, sementara sektor barang baku naik 0,43%, memberikan sedikit penopang bagi IHSG di tengah tekanan luas.
Tekanan Merata pada Indeks Sektoral Pagi Hari
Jika dilihat lebih rinci, tekanan pasar sudah terasa sejak awal perdagangan. Indeks sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,51% ke level 4.670,19. Sektor barang konsumsi siklikal turun 1,40% ke posisi 1.434,38, menandakan pelemahan minat terhadap saham-saham berbasis konsumsi.
Sektor transportasi terkoreksi 1,32% ke level 2.010,32, diikuti sektor infrastruktur yang melemah 0,96% ke posisi 2.758,76. Sektor keuangan juga tidak mampu menghindari tekanan, turun 0,93% ke level 1.522,62.
Selain itu, sektor teknologi terkoreksi 0,89%, sektor industri melemah 0,44%, sektor properti turun 0,44%, dan sektor barang konsumsi non-siklikal terkoreksi 0,46%. Tekanan yang merata ini menegaskan bahwa pelemahan IHSG bukan disebabkan oleh satu sektor tertentu, melainkan akibat sentimen negatif yang meluas.
Di tengah kondisi tersebut, sektor kesehatan menjadi salah satu penopang dengan penguatan tipis 0,07%, sementara sektor bahan baku naik 0,33%, menunjukkan adanya rotasi terbatas ke saham-saham defensif.
Saham Pemenang dan Pecundang Sesi I
Di level saham individual, sejumlah emiten mencatatkan lonjakan harga yang signifikan. Saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) menjadi bintang sesi I dengan melesat 24,54% ke level 1.015. PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) juga mencatatkan penguatan tajam 22,43% ke 262, disusul PT Soho Global Health Tbk (SOHO) yang naik 17,18% ke 3.070.
Penguatan juga terjadi pada PT SLJ Global Tbk (SULI) yang naik 17,14% ke 164, serta PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) yang menguat 16,83% ke level 118.
Sebaliknya, tekanan jual cukup dalam menghantam sejumlah saham. PT Pakuan Tbk (UANG) terkoreksi 15,00% ke 6.375, sementara PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) melemah 14,95% ke 165. PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) turun 13,30%, diikuti PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) yang terkoreksi 13,14%, dan PT Pinnacle Persada Investama Tbk (XPDV) yang melemah 12,93%.
Pelemahan IHSG pada penutupan sesi I mencerminkan dominasi sentimen negatif di pasar saham domestik. Tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor, ditambah dominasi saham yang melemah, membuat indeks terperosok ke level 8.876. Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati menantikan katalis baru pada sesi perdagangan berikutnya.

Comment