IHSG dibuka melemah pada perdagangan terakhir 2025 di tengah tekanan saham emiten emas dan perbankan besar. Analis menilai sentimen global dan pelemahan rupiah masih membayangi pergerakan indeks.
Saham Emas dan Bank Besar Jadi Beban
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan terakhir tahun 2025 dengan pergerakan negatif. Pada pembukaan perdagangan Selasa (30/12/2025), indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau melemah dan bergerak di zona merah, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang tutup buku akhir tahun.
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG dibuka di level 8.627,40, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Tak lama setelah pembukaan, IHSG bergerak dalam rentang 8.597,07 hingga 8.629,43, menunjukkan volatilitas terbatas seiring minimnya volume transaksi di akhir tahun.
Pergerakan Saham Campuran, Tekanan Datang dari Emiten Besar
Meskipun indeks melemah, pergerakan saham secara keseluruhan terpantau bervariasi. Tercatat sebanyak 258 saham menguat, 156 saham melemah, dan 241 saham stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG pada pagi hari tercatat sebesar Rp15.792 triliun, mencerminkan masih besarnya nilai pasar meski indeks berada dalam fase koreksi jangka pendek.
Tekanan utama terhadap IHSG datang dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya dari sektor perbankan dan komoditas emas. Saham-saham ini memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks sehingga pergerakan negatifnya langsung menekan IHSG.
Saham Perbankan Jumbo Ikut Menyeret Indeks
Dari sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu saham dengan tekanan paling signifikan. Saham BBRI terpantau turun 3,44% ke level Rp3.650 per saham pada awal perdagangan. Aktivitas transaksi BBRI cukup ramai dengan volume mencapai 25,6 juta saham, senilai sekitar Rp94,1 miliar.
Selain BBRI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga bergerak melemah meskipun dengan penurunan yang relatif terbatas. Saham BBCA tercatat turun 0,62% ke level Rp7.975 per saham. Tekanan pada saham bank besar mencerminkan aksi ambil untung investor setelah reli panjang sektor perbankan sepanjang 2025.
Pelaku pasar dinilai cenderung mengamankan keuntungan (profit taking) menjelang akhir tahun, terutama pada saham-saham yang telah mencatatkan kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Emiten Emas dan Tambang Jadi Sorotan
Tekanan juga datang dari sektor komoditas, khususnya saham emiten emas dan pertambangan. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat melemah cukup dalam, turun 3,64% ke level Rp3.180 per saham. Pelemahan ANTM terjadi di tengah koreksi harga emas global serta sentimen rotasi sektor yang dilakukan investor.
Sementara itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga bergerak di zona merah dengan penurunan 1,45% ke level Rp680 per saham. Saham lain di sektor tambang yang mengalami tekanan adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang anjlok 6,43% ke posisi Rp1.820 per saham.
Tak hanya itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga melemah 3,93% ke level Rp1.100 per saham, menambah daftar saham tambang yang membebani pergerakan indeks pada pagi hari.
Sentimen Global Masih Membayangi
Analis Retail Research CGS International Sekuritas menilai pelemahan IHSG tidak lepas dari tekanan eksternal. Mayoritas indeks saham di Wall Street tercatat terkoreksi pada perdagangan sebelumnya, terutama akibat aksi jual pada saham-saham teknologi yang selama ini menjadi motor penguatan pasar global.
Selain itu, melemahnya harga sejumlah komoditas global turut memberi tekanan pada saham-saham berbasis sumber daya alam di pasar domestik. Faktor lain yang tak kalah penting adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang masih berlanjut dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan.
“Tekanan dari Wall Street, koreksi harga komoditas global, serta pelemahan rupiah diperkirakan menjadi katalis negatif bagi pergerakan IHSG hari ini,” jelas CGS International Sekuritas dalam risetnya.
Aliran Dana Asing Berpotensi Menahan Pelemahan
Meski demikian, CGS International Sekuritas juga menyoroti adanya faktor penahan pelemahan. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan nilai yang relatif besar. Aliran dana asing ini berpotensi menjadi penopang IHSG dan membatasi penurunan lebih dalam.
Masuknya dana asing menunjukkan bahwa minat investor global terhadap pasar saham Indonesia masih terjaga, meskipun di tengah ketidakpastian global dan volatilitas nilai tukar.
Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, CGS International Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Secara teknikal, indeks diperkirakan akan menguji area support di kisaran 8.562–8.475.
Sementara itu, level resistance jangka pendek berada di rentang 8.730–8.811. Selama IHSG belum mampu menembus area resistance tersebut, potensi konsolidasi atau koreksi terbatas masih terbuka, terutama di tengah volume perdagangan yang cenderung menipis menjelang akhir tahun.
Penutup Tahun dengan Sikap Hati-Hati
Pelemahan IHSG pada perdagangan terakhir 2025 mencerminkan sikap wait and see investor yang memilih berhati-hati sambil menutup buku akhir tahun. Tekanan dari saham-saham unggulan menunjukkan bahwa koreksi jangka pendek merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar setelah reli panjang sepanjang tahun.
Pelaku pasar kini menanti arah baru pada awal 2026, dengan fokus pada perkembangan global, kebijakan bank sentral utama, serta stabilitas ekonomi domestik sebagai penentu arah IHSG selanjutnya.

Comment