Harga tembaga melonjak mendekati US$13.000 per ton seiring reli logam industri global. Pelemahan dolar AS, rotasi investor, dan pasokan ketat mendorong tren bullish komoditas logam.
Investor Berburu Logam Industri di Tengah Pelemahan Dolar
Harga tembaga kembali mencuri perhatian pelaku pasar global setelah melonjak mendekati level psikologis US$13.000 per ton pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Kenaikan ini menandai kelanjutan reli logam industri yang terjadi secara luas, seiring melemahnya dolar AS serta rotasi besar-besaran investor dari aset keuangan seperti mata uang dan obligasi pemerintah menuju komoditas fisik.
Berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga naik 1,1% menjadi US$12.890,50 per ton di London Metal Exchange (LME) pada pukul 11.27 waktu Shanghai. Penguatan tembaga tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga logam dasar lainnya. Timah mencatat kenaikan paling tajam sebesar 3,5%, disusul nikel yang menguat 2,6%, serta seng yang naik 1,6%. Sementara itu, harga bijih besi turut menguat 1% menjadi US$104,65 per ton di Singapura.
Pelemahan Dolar dan Ketidakpastian Global Jadi Pemicu
Reli logam industri kali ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik global dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Langkah-langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump yang kembali mengubah tatanan geopolitik, termasuk tekanan terbuka terhadap Federal Reserve, memicu peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Situasi tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap dolar AS dan surat utang pemerintah, lalu mengalihkan dana ke aset riil yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak kebijakan. Biasanya, kondisi seperti ini hanya menguntungkan logam mulia seperti emas dan perak. Namun dalam beberapa pekan terakhir, arus dana tersebut meluas ke logam dasar, termasuk tembaga.
Analis menilai pelemahan dolar AS memberikan dorongan tambahan bagi harga komoditas karena membuat logam yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli non-AS, sehingga permintaan global meningkat.
Tembaga Didukung Fundamental Kuat
Selain faktor makro, reli tembaga juga ditopang oleh fundamental yang solid. Sejak pertengahan tahun lalu, harga tembaga telah bergerak dalam tren naik akibat kombinasi pasokan tambang yang terbatas dan permintaan struktural yang terus meningkat.
Produksi tambang tembaga global masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari penurunan kadar bijih, gangguan operasional, hingga keterlambatan proyek ekspansi. Di sisi lain, permintaan tembaga melonjak seiring percepatan elektrifikasi global, terutama untuk kendaraan listrik, jaringan energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur hijau.
Tak hanya itu, lonjakan pengiriman tembaga ke Amerika Serikat menjelang potensi kebijakan tarif baru juga turut memperketat pasokan di pasar internasional. Akibatnya, harga tembaga telah menguat sekitar 15% sejak akhir November 2025.
“Tembaga saat ini menjadi salah satu komoditas paling menarik karena didukung oleh permintaan jangka panjang dari transisi energi, sementara pasokan masih tertinggal,” ujar seorang pedagang logam di Asia.
Dinamika Pasar LME: Dari Backwardation ke Contango
Meski harga acuan tembaga terus menguat, dinamika struktur pasar di LME menunjukkan perubahan signifikan. Selisih harga antar kontrak tembaga melebar dalam beberapa hari terakhir, seiring masuknya pasokan ke gudang-gudang di Amerika Serikat dan Asia.
Pada Kamis (22/1/2026), harga tembaga spot diperdagangkan dengan diskon US$82,84 per ton dibandingkan kontrak tiga bulan LME. Kondisi ini dikenal sebagai contango, yang biasanya mencerminkan pasokan jangka pendek yang lebih longgar.
Perubahan tersebut kontras dengan situasi pada Selasa (20/1/2026), ketika pasar berada dalam kondisi backwardation, di mana harga spot lebih tinggi dari kontrak berjangka lebih panjang dengan selisih lebih dari US$100 per ton. Backwardation biasanya mengindikasikan keketatan pasokan yang ekstrem dalam jangka pendek.
Menurut pelaku pasar, masuknya arus logam ke gudang-gudang LME di Asia menjadi faktor utama yang meredakan tekanan pasokan tersebut.
Peran Pabrik Peleburan China
Salah satu sumber utama arus masuk tembaga ke gudang LME berasal dari China. Sejumlah pedagang menyebutkan bahwa pengiriman tersebut sebagian besar berasal dari pabrik peleburan China yang sebelumnya telah memesan kontrak ketika peluang arbitrase masih menguntungkan.
Tahun ini, pabrik peleburan China meningkatkan ekspor tembaga melalui pengiriman ke gudang LME, setelah harga acuan internasional naik melampaui harga domestik. Kondisi tersebut terjadi di tengah perlambatan sektor properti China yang menekan konsumsi tembaga di dalam negeri.
Dengan melemahnya permintaan domestik, eksportir China memilih menyalurkan pasokan ke pasar internasional untuk memanfaatkan harga yang lebih tinggi. Meski demikian, analis memperkirakan arus pengiriman ini hanya bersifat sementara.
“Jendela arbitrase saat ini sudah tertutup, tetapi pengiriman yang telah dipesan sebelumnya masih akan terus masuk dalam beberapa minggu ke depan,” ujar seorang trader logam di Shanghai.
Prospek Harga Tembaga ke Depan
Ke depan, pelaku pasar menilai volatilitas harga tembaga masih akan tinggi. Di satu sisi, pasokan tambahan dari gudang LME dapat menahan laju kenaikan dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, tren jangka panjang tetap bullish seiring kebutuhan tembaga yang meningkat untuk mendukung transformasi energi global.
Selama dolar AS masih berada dalam tren melemah dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, logam industri seperti tembaga diperkirakan tetap menjadi tujuan utama investor. Dengan level US$13.000 per ton yang semakin dekat, pasar kini menanti apakah tembaga mampu menembus rekor baru dan mengukuhkan posisinya sebagai bintang di pasar komoditas global.

Comment