Harga minyak dunia bergerak stabil pada 19 Januari 2026 seiring meredanya ketegangan Iran, namun pasar tetap dibayangi risiko geopolitik Greenland, ancaman tarif AS, dan proyeksi kelebihan pasokan global.
Ketegangan Iran Mereda, Risiko Pasokan Sementara Menurun
Harga minyak mentah global bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Iran, meskipun sentimen investor tetap dibayangi ketidakpastian geopolitik baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Greenland. Stabilnya harga mencerminkan tarik-menarik antara meredanya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dan meningkatnya kecemasan pasar global terhadap arah kebijakan Presiden AS Donald Trump.
Mengutip data Bloomberg, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$64 per barel, tepatnya US$64,10 per barel pada pukul 09.39 waktu Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari berada di level US$59,42 per barel, hanya melemah tipis sekitar dua sen dari penutupan sebelumnya. Pergerakan yang terbatas ini menunjukkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam menimbang berbagai faktor risiko yang saling bertolak belakang.
Faktor utama yang menahan lonjakan harga minyak adalah meredanya ketegangan di Iran selama akhir pekan. Sebelumnya, pasar sempat diliputi kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen utama OPEC tersebut, menyusul meningkatnya demonstrasi anti-pemerintah dan ketegangan politik domestik.
Meski tidak terjadi eskalasi baru, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengungkapkan bahwa ribuan orang dilaporkan tewas dalam gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang terjadi sepanjang bulan ini. Pernyataan tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran laten di pasar, mengingat stabilitas internal Iran memiliki implikasi langsung terhadap kelancaran produksi dan ekspor minyak negara tersebut.
Dari sisi militer, laporan Fox News yang mengutip sumber pertahanan menyebutkan bahwa setidaknya satu kapal induk Amerika Serikat telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah hingga akhir pekan lalu. Meski demikian, Presiden Donald Trump sebelumnya mengindikasikan akan menunda aksi militer terhadap Iran, sehingga untuk sementara meredakan spekulasi akan konflik terbuka yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, yang dinilai investor sebagai momen penting untuk membaca arah kebijakan geopolitik dan ekonomi AS ke depan, khususnya terkait Timur Tengah dan energi.
Isu Greenland Guncang Sentimen Pasar Global
Di saat perhatian terhadap Iran mulai mereda, fokus pasar justru beralih ke manuver geopolitik AS yang tidak kalah kontroversial, yakni rencana Trump untuk memperluas kendali Amerika Serikat atas Greenland. Ancaman pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang gagasan tersebut telah memicu ketegangan baru dalam hubungan transatlantik.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara dengan NBC menyatakan bahwa kendali langsung AS atas Greenland dinilai penting untuk meningkatkan daya tangkal strategis Amerika Serikat. Pernyataan ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi konflik dagang baru antara AS dan negara-negara Eropa, yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan ekonomi global.
Sentimen risk-off pun menguat di pasar keuangan. Indeks saham global bergerak melemah, sementara emas melonjak ke rekor tertinggi, mencerminkan peralihan investor ke aset lindung nilai. Dalam konteks ini, harga minyak cenderung bergerak sideways karena investor menahan diri untuk mengambil posisi agresif.
Tekanan Struktural dari Kelebihan Pasokan Global
Di luar faktor geopolitik, pasar minyak masih dibayangi persoalan fundamental yang telah menekan harga dalam beberapa kuartal terakhir, yakni risiko kelebihan pasokan global. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus besar mencapai 3,8 juta barel per hari pada 2026.
Lonjakan pasokan tersebut berasal dari kombinasi peningkatan produksi OPEC+, serta ekspansi produksi dari negara-negara non-aliansi, termasuk Amerika Serikat. Produksi shale oil AS yang kembali agresif turut memperkuat narasi bahwa pasokan global berpotensi melampaui pertumbuhan permintaan.
Meski demikian, tidak semua wilayah berada dalam kondisi surplus. Beberapa gangguan pasokan masih terjadi, salah satunya dari Kazakhstan, yang menghadapi kendala produksi dan ekspor akibat masalah logistik di kawasan Laut Hitam. Faktor ini membantu menahan tekanan penurunan harga yang lebih dalam dan menopang struktur harga Brent.
Penguatan selisih harga Brent (spread) dalam beberapa sesi terakhir juga mengindikasikan bahwa pasar masih melihat adanya ketatnya pasokan jangka pendek di tengah kekhawatiran geopolitik.
Geopolitik vs Fundamental: Harga Minyak di Persimpangan
Menurut Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas dan Karbon di Westpac Banking Corp, harga Brent saat ini berada dalam posisi yang rumit. “Brent terjebak dalam tarian kompleks antara meningkatnya risiko geopolitik di satu sisi, dan melonjaknya produksi serta persediaan di sisi lain,” ujarnya.
Rennie menambahkan bahwa penurunan produksi yang signifikan di Iran berpotensi mendorong harga minyak kembali menembus US$70 per barel. Namun dalam jangka pendek, fokus pasar yang bergeser ke isu Greenland justru memberikan tekanan bearish pada harga.
IEA yang berbasis di Paris dijadwalkan merilis laporan pasar minyak bulanan pertamanya untuk 2026 pada hari Rabu. Laporan ini dinantikan pelaku pasar sebagai panduan utama untuk melihat keseimbangan pasokan dan permintaan global di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.
Volume Perdagangan Tipis, Pasar Cenderung Menahan Diri
Perdagangan minyak pada hari ini diperkirakan berlangsung dengan volume yang lebih rendah dari biasanya, seiring hari libur nasional di Amerika Serikat. Kondisi ini turut membatasi volatilitas harga, meskipun sentimen global masih cenderung rapuh.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua faktor utama: perkembangan geopolitik global—khususnya Iran dan kebijakan luar negeri AS—serta konfirmasi data fundamental terkait pasokan dan permintaan dari laporan IEA dan OPEC. Selama ketidakpastian tersebut belum menemukan kejelasan, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak stabil dengan kecenderungan volatil dalam jangka pendek.

Comment