Harga minyak dunia menguat tipis pada Jumat, 31 Oktober 2025, setelah Amerika Serikat dan China mencapai kesepakatan dagang parsial. Minyak Brent naik ke US$65 per barel dan WTI di US$60,57, didukung oleh pemangkasan suku bunga The Fed dan optimisme pasar global.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Seiring Meredanya Ketegangan Dagang AS–China
JAKARTA — Harga minyak mentah global mengalami kenaikan tipis pada Jumat (31/10/2025) setelah pasar menanggapi positif langkah Amerika Serikat dan China yang menunjukkan tanda-tanda meredakan ketegangan dagang mereka. Kenaikan ini juga diperkuat oleh kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang menurunkan suku bunga acuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 8 sen atau 0,1% dan ditutup di level US$65 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 9 sen atau 0,1% ke posisi US$60,57 per barel.
Kesepakatan Dagang Bawa Angin Positif
Optimisme pasar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan sementara pada pertemuan bilateral di Korea Selatan. Dalam kesepakatan tersebut, Trump sepakat menurunkan tarif impor terhadap China dari 57% menjadi 47% untuk periode satu tahun.
Sebagai imbalannya, Beijing berkomitmen untuk:
-
Melanjutkan pembelian kedelai dari AS,
-
Menjaga ekspor logam tanah jarang tetap stabil, dan
-
Memperketat pengawasan terhadap perdagangan ilegal fentanyl, zat kimia berbahaya yang selama ini menjadi isu serius antara kedua negara.
Analis Tamas Varga dari PVM Oil Associates menilai, kesepakatan ini lebih mencerminkan “langkah simbolik untuk meredakan tensi politik” ketimbang perubahan fundamental dalam hubungan dagang dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu. Meski demikian, investor tetap menilai perkembangan ini sebagai sinyal positif yang dapat menstabilkan pasar energi global.
Kinerja Perusahaan Energi Tertekan
Sementara itu, dua raksasa energi dunia—Shell dan TotalEnergies—melaporkan hasil keuangan kuartal III/2025 yang cenderung melemah.
Shell mencatat penurunan laba sebesar 10%, sementara TotalEnergies mengalami koreksi laba 2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh harga minyak yang lebih rendah selama sebagian besar Oktober.
Namun, kinerja Shell tetap melampaui ekspektasi pasar berkat keuntungan perdagangan yang kuat di divisi gas alam cair (LNG). Investor menilai keberhasilan Shell dalam mempertahankan profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan beradaptasi dengan volatilitas pasar energi global.
Kebijakan The Fed Dorong Optimisme Pasar
Sentimen positif juga muncul setelah The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuannya pada Rabu (29/10), sejalan dengan ekspektasi pasar.
Pemangkasan ini diharapkan dapat menekan biaya pinjaman, mendorong konsumsi, dan memperkuat permintaan terhadap energi.
Meski begitu, The Fed memberi sinyal bahwa langkah ini kemungkinan menjadi pemangkasan terakhir tahun 2025, terutama karena potensi penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) dapat mengganggu rilis data ekonomi penting.
“Keputusan The Fed menandai awal dari fase kebijakan reflasi yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini memberi dorongan positif bagi komoditas seperti minyak yang sensitif terhadap aktivitas industri,” tulis Claudio Galimberti, Kepala Ekonom di Rystad Energy, dalam catatannya kepada klien.
Dinamika Ekonomi Global
Selain kebijakan moneter AS, sejumlah bank sentral besar dunia juga mengambil langkah berhati-hati. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini, mencerminkan kekhawatiran terhadap ketidakpastian global.
Di kawasan Eropa, ekonomi zona euro menunjukkan pertumbuhan yang sedikit lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III/2025. Kinerja positif ini terutama ditopang oleh Prancis dan Spanyol, sementara Jerman—ekonomi terbesar di Eropa—tercatat stagnan akibat lemahnya ekspor dan perlambatan di sektor industri.
Data ini memperlihatkan bahwa pemulihan ekonomi Eropa masih rapuh, namun arah pertumbuhan mulai berbalik ke zona positif.
Pasokan Global dan Tekanan dari OPEC+
Meski harga minyak menunjukkan penguatan harian, secara bulanan kedua acuan minyak dunia mencatat penurunan sekitar 3% sepanjang Oktober 2025. Ini menandai penurunan tiga bulan berturut-turut, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global.
Produksi minyak di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi baru sebesar 13,6 juta barel per hari (bph) pada pekan lalu, memperkuat ekspektasi surplus pasokan di pasar.
Investor kini menanti pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada 2 November 2025. Aliansi produsen minyak yang terdiri dari OPEC dan negara mitra seperti Rusia itu diperkirakan akan mengumumkan kenaikan produksi sebesar 137.000 bph untuk Desember.
Dalam beberapa bulan terakhir, delapan negara anggota OPEC+ tercatat telah menaikkan target produksi lebih dari 2,7 juta bph, atau sekitar 2,5% dari total pasokan minyak global.
Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di tengah tingginya kebutuhan pasar, namun juga menimbulkan kekhawatiran baru akan potensi kelebihan suplai di awal tahun depan.
Tekanan Fiskal di Arab Saudi
Dari kawasan Timur Tengah, Kementerian Keuangan Arab Saudi melaporkan bahwa defisit anggaran negara melebar menjadi 88,5 miliar riyal (setara US$23,6 miliar) pada kuartal III/2025.
Defisit ini naik 160% dibandingkan kuartal sebelumnya, akibat penurunan pendapatan minyak serta kenaikan belanja pemerintah untuk proyek infrastruktur dan program sosial.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Riyadh yang tengah berupaya menjaga keseimbangan fiskal di tengah harga minyak yang belum stabil.
Outlook Pasar Energi
Para analis memperkirakan pergerakan harga minyak masih akan terbatas dalam jangka pendek. Meskipun sentimen positif dari kesepakatan dagang AS–China dan kebijakan The Fed mendukung pasar, faktor pasokan berlebih masih menahan potensi kenaikan signifikan.
Harga minyak Brent diproyeksikan bergerak di rentang US$63–66 per barel, sementara WTI diperkirakan berada di kisaran US$59–61 per barel hingga awal November.
Bagi investor energi, fokus utama kini tertuju pada hasil pertemuan OPEC+ yang akan menentukan arah pasar global menjelang akhir tahun.
Meredanya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China, disertai langkah The Fed yang menurunkan suku bunga, memberikan angin segar bagi pasar energi dunia.
Namun, tantangan dari kelebihan pasokan, tekanan fiskal Arab Saudi, dan produksi rekor di AS masih akan membatasi ruang kenaikan harga minyak.
Dengan berbagai dinamika ini, pasar minyak global tetap berada dalam fase konsolidasi hati-hati menuju akhir 2025.

Comment