Harga minyak dunia menguat di tengah ancaman sanksi AS terhadap Rusia dan pemblokiran ekspor minyak Venezuela. Risiko pasokan global meningkat, mendorong pasar mencari titik keseimbangan baru.
Harga Brent dan WTI Menguat Tipis
JAKARTA — Harga minyak dunia kembali bergerak menguat seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Ancaman sanksi tambahan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia serta langkah pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Pelaku pasar kini semakin waspada terhadap dinamika geopolitik yang berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan dan permintaan. Meski penguatan harga masih tergolong terbatas, sentimen pasar menunjukkan adanya kecenderungan harga untuk bertahan di level yang lebih tinggi dalam jangka pendek.
Mengutip laporan Reuters pada Jumat (19/12/2025), harga minyak mentah jenis Brent tercatat naik 36 sen atau sekitar 0,6% ke level US$60,04 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat 52 sen atau 0,9% ke posisi US$56,46 per barel.
Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya risiko pasokan, meskipun kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global masih membatasi laju penguatan harga minyak.
Pasar Cari Titik Penopang Baru
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan bahwa kontrak berjangka minyak mentah saat ini tengah berupaya menemukan titik penopang baru di tengah ketidakpastian kebijakan dan geopolitik global.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang menopang harga minyak adalah kebijakan pemblokiran ekspor minyak Venezuela. Jika langkah tersebut terus berlanjut, dampaknya terhadap produksi minyak negara tersebut bisa cukup signifikan.
“Kontrak berjangka minyak mentah mencoba mendapatkan dukungan dari pemblokiran ekspor minyak Venezuela. Jika kondisi ini berlanjut, produksi di kawasan tersebut berpotensi terhenti karena tidak adanya tujuan pengapalan,” ujar Kissler.
Ancaman Sanksi AS terhadap Rusia Bayangi Pasar
Selain Venezuela, perhatian pasar juga tertuju pada Rusia. Pemerintah AS dilaporkan tengah menyiapkan opsi sanksi tambahan terhadap sektor energi Rusia jika Moskow gagal mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina.
Namun demikian, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga saat ini belum mengambil keputusan final terkait penerapan sanksi baru tersebut. Meski belum ada kebijakan resmi, pernyataan dan tekanan politik yang berkembang dinilai cukup untuk memicu volatilitas di pasar minyak.
Risiko Eskalasi Konflik Rusia–Ukraina
Kissler menilai bahwa kegagalan mencapai kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Rusia dan secara cepat memperketat pasokan minyak global.
“Jika kesepakatan damai tidak tercapai, serangan terhadap Rusia bisa meningkat dan dengan cepat memperketat pasokan. Ditambah dengan pemblokiran minyak Venezuela, harga minyak saat ini berpotensi masih berada di bawah nilai wajarnya,” jelas Kissler.
Penilaian Analis: Risiko Pasokan Semakin Besar
Analis ING dalam catatan risetnya menyebutkan bahwa langkah lanjutan yang secara langsung menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang jauh lebih besar dibandingkan pemblokiran kapal tanker Venezuela.
Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia. Setiap gangguan terhadap ekspor minyak Rusia dapat memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan pasar energi global.
Inggris Ikut Perluas Sanksi terhadap Rusia
Tekanan terhadap sektor energi Rusia tidak hanya datang dari AS. Pemerintah Inggris juga mengumumkan sanksi baru terhadap 24 individu dan entitas sebagai bagian dari perluasan rezim sanksi terhadap Rusia.
Dalam pemberitahuan resminya, Inggris memasukkan perusahaan minyak Rusia seperti Tatneft dan Russneft ke dalam daftar sanksi. Langkah ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya aliran minyak dari Rusia ke pasar global.
Dampak Pemblokiran Ekspor Minyak Venezuela
ING memperkirakan pemblokiran Venezuela dapat memengaruhi sekitar 600.000 barel per hari (bph) ekspor minyak negara tersebut. Sebagian besar ekspor minyak Venezuela selama ini dikirim ke China, yang menjadi pembeli utama minyak mentah dari negara Amerika Latin itu.
Namun, sekitar 160.000 bph ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat diperkirakan masih dapat berlanjut. Hal ini terutama karena kapal-kapal milik Chevron masih mendapatkan izin untuk mengirim minyak ke AS berdasarkan otorisasi sebelumnya dari pemerintah Amerika Serikat.
Penegakan Pemblokiran Masih Belum Jelas
Meski demikian, mekanisme penegakan pemblokiran oleh AS masih belum sepenuhnya jelas. Ketidakpastian ini turut menambah volatilitas di pasar minyak global.
Pekan lalu, Penjaga Pantai AS mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa AS tengah bersiap melakukan intersepsi serupa terhadap kapal-kapal lain, sebuah langkah yang berpotensi semakin memperketat ekspor minyak Venezuela.
Secara keseluruhan, minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari total pasokan minyak dunia. Meski porsinya relatif kecil, gangguan pasokan tetap berdampak signifikan di tengah pasar yang sensitif terhadap isu geopolitik.
Prospek Harga dan Produksi Minyak ke Depan
Di luar faktor geopolitik, analis Bank of America menilai bahwa harga minyak yang relatif rendah dapat menekan pasokan dalam jangka menengah. Jika harga WTI rata-rata berada di kisaran US$57 per barel pada 2026, sesuai dengan proyeksi mereka, produksi minyak serpih AS berpotensi menyusut sekitar 70.000 barel per hari.
Penurunan produksi ini berpotensi mempersempit pasokan global, terutama jika disertai dengan eskalasi sanksi dan gangguan ekspor dari negara-negara produsen utama.
Dengan kombinasi risiko geopolitik, kebijakan sanksi, dan tekanan terhadap produksi, pasar minyak global saat ini berada dalam fase krusial. Arah harga ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik geopolitik dan respons kebijakan dari negara-negara produsen dan konsumen utama.
