Harga minyak dunia kembali tertekan di awal pekan akibat meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China. Kekhawatiran kelebihan pasokan global serta ancaman perlambatan ekonomi membuat harga Brent dan WTI turun ke level terendah tiga pekan terakhir.
Harga Minyak Dunia Tertekan di Tengah Memanasnya Perdagangan AS–China
Harga minyak dunia melanjutkan tren pelemahan di awal pekan ini, terseret kekhawatiran pasar atas melimpahnya pasokan global dan meningkatnya risiko perlambatan ekonomi. Sentimen negatif kian kuat seiring memanasnya hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia—Amerika Serikat dan China.
Berdasarkan data Reuters pada Senin (20/10), harga minyak mentah berjangka Brent turun 24 sen atau 0,4% menjadi US$61,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 21 sen atau 0,4% ke level US$57,33 per barel.
Kedua acuan harga minyak itu telah melemah lebih dari 2% sepanjang pekan lalu, menandai penurunan selama tiga minggu berturut-turut—tren terpanjang sejak pertengahan tahun.
Tekanan Ganda: Kelebihan Pasokan dan Perlambatan Ekonomi
Analis menilai kombinasi antara potensi kelebihan pasokan dan kekhawatiran permintaan energi menjadi faktor utama penurunan harga. Laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) bahkan memperkirakan bahwa surplus minyak global bisa meningkat pada tahun 2026, jika produksi terus tumbuh sementara permintaan terhambat.
“Kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan akibat peningkatan produksi negara-negara penghasil minyak, ditambah potensi perlambatan ekonomi imbas memanasnya tensi dagang AS–China, menekan harga minyak,” ujar Toshitaka Tazawa, analis dari Fujitomi Securities.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pasar sedang berada dalam situasi kompleks—di satu sisi menghadapi potensi oversupply dari produsen besar seperti AS, Rusia, dan Timur Tengah, namun di sisi lain juga berhadapan dengan turunnya permintaan dari China dan negara industri lainnya.
Ketegangan Dagang Kian Panas, Ancaman Resesi Bayangi
Krisis harga minyak saat ini tak lepas dari perang dagang yang kembali memanas antara Washington dan Beijing. Setelah saling mengenakan tarif tambahan terhadap kapal pengangkut barang di pelabuhan masing-masing, kedua negara kini memperketat pengawasan terhadap arus ekspor-impor energi dan logistik.
Langkah saling balas ini memicu kekhawatiran akan terhambatnya rantai pasok global, termasuk distribusi energi dan komoditas. Dampaknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia kembali disesuaikan ke bawah oleh sejumlah lembaga keuangan internasional.
Kepala World Trade Organization (WTO) bahkan mengingatkan bahwa fragmentasi ekonomi global akibat rivalitas AS–China bisa memangkas output ekonomi dunia hingga 7% dalam jangka panjang. Kondisi ini tentu mengancam permintaan minyak mentah, karena aktivitas industri dan transportasi berpotensi melambat secara signifikan.
Trump–Putin Siap Bertemu, Pasar Waspada Tekanan Geopolitik Baru
Selain ketegangan dagang, pelaku pasar juga menyoroti agenda pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan dalam waktu dekat.
Isu geopolitik kembali menjadi sorotan setelah Washington memperketat tekanan terhadap pembeli minyak asal Rusia, termasuk India dan China. Meski AS dan Eropa terus menekan agar ekspor minyak Rusia dibatasi, kenyataannya sejumlah negara masih mengandalkan pasokan energi dari Moskow.
Pasar menilai, pertemuan Trump–Putin bisa menjadi momen penting yang menentukan arah geopolitik energi global, terutama terkait kelanjutan perang di Ukraina dan kebijakan sanksi terhadap Rusia. Ketidakpastian inilah yang membuat investor mengambil posisi lebih hati-hati di pasar minyak.
Kapasitas Produksi AS Meningkat, Tekanan Tambahan bagi Harga
Dari sisi pasokan, Baker Hughes melaporkan bahwa perusahaan energi AS menambah jumlah rig minyak dan gas untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir.
Penambahan rig ini menunjukkan peningkatan aktivitas pengeboran di tengah harga yang relatif stabil di atas US$55 per barel—level yang dianggap masih ekonomis bagi sebagian besar produsen shale oil di Amerika Serikat.
Kenaikan produksi AS ini berpotensi memperburuk kondisi oversupply global, terutama jika permintaan belum pulih seiring lemahnya aktivitas ekonomi dunia. Sebagai catatan, produksi minyak AS kini berada di dekat level tertinggi sepanjang masa, yakni lebih dari 13 juta barel per hari.
Dampak Jangka Pendek: Harga Berisiko Tembus di Bawah US$60
Analis memperkirakan harga minyak dunia masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan dalam jangka pendek. Jika ketegangan dagang AS–China tidak mereda, dan pembicaraan Trump–Putin tidak menghasilkan stabilitas geopolitik, maka harga Brent bisa turun ke bawah US$60 per barel, sementara WTI berisiko menyentuh US$56.
Namun di sisi lain, potensi pembatasan produksi dari OPEC+ dapat menjadi penyeimbang. Beberapa anggota kartel minyak itu telah memberi sinyal akan mempertahankan disiplin produksi jika harga terus melemah.
Outlook Pasar Energi: Hati-Hati tapi Tidak Sepenuhnya Pesimis
Meski tekanan jangka pendek masih kuat, sebagian analis menilai pasar energi belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Jika ada tanda-tanda pemulihan hubungan dagang atau komitmen pengurangan produksi dari OPEC+, rebound harga minyak bisa terjadi sebelum akhir tahun.
“Kunci utama ada pada diplomasi. Jika ketegangan AS–China bisa dikendalikan, dan pasokan global dapat diatur dengan baik, harga minyak memiliki peluang untuk stabil di kisaran US$65–70 per barel,” ujar Tazawa menambahkan.
Untuk saat ini, investor di pasar komoditas memilih menunggu arah yang lebih jelas dari kebijakan geopolitik global dan sinyal ekonomi makro dari Amerika Serikat maupun China.
Minyak Tertekan, Ketidakpastian Global Meningkat
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, kelebihan pasokan, dan risiko pertumbuhan global yang melemah, pasar minyak dunia berada dalam fase bearish yang menantang.
Harga yang terus menurun mencerminkan keresahan investor terhadap masa depan ekonomi global. Selama tensi dagang AS–China belum mereda, dan risiko geopolitik tetap tinggi, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap menjadi bagian utama dinamika pasar energi dunia.
