Harga emas global menembus rekor di atas Rp2,14 juta per gram pada Oktober 2025. Lonjakan ini turut mendorong inflasi dan mencatat tren naik selama 26 bulan berturut-turut.
Harga Emas Dunia Nyaris Dua Kali Lipat dalam Setahun
JAKARTA — Harga emas kembali mencetak rekor baru pada Oktober 2025, menembus level di atas Rp2,14 juta per gram, seiring dengan lonjakan harga emas global yang mencapai lebih dari US$4.000 per troy ounce. Angka ini merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas dunia dan menjadi sorotan utama dalam rilis inflasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa harga emas internasional melonjak tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang masih berada di kisaran US$3.500 per troy ounce atau setara dengan Rp1,87 juta per gram. “Tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut bahkan menembus rekor baru di Oktober 2025,” ujar Pudji dalam konferensi pers resmi di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, lonjakan harga emas dunia terlihat sangat signifikan. Pada Oktober 2024, harga emas masih berada di sekitar US$2.500 per troy ounce, artinya terjadi kenaikan hampir dua kali lipat dalam waktu hanya satu tahun.
Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan kondisi pasar komoditas global yang sedang bergejolak, tetapi juga menjadi bukti meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven seperti emas di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurut analis pasar, faktor utama pendorong lonjakan harga emas antara lain adalah melemahnya dolar AS, penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury), serta meningkatnya tensi geopolitik global yang mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai.
Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral dunia termasuk Federal Reserve (The Fed), turut memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi yang stabil di tengah volatilitas pasar saham dan obligasi.
Kontribusi Emas terhadap Inflasi Nasional
Kenaikan harga emas global juga tercermin dalam inflasi domestik Indonesia. Menurut BPS, komoditas emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar pada Oktober 2025, dengan kontribusi atau andil sebesar 0,21% terhadap total inflasi nasional.
“Komoditas emas dan perhiasan menjadi pendorong utama dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” jelas Pudji. Artinya, tren kenaikan harga emas tidak hanya berdampak pada pasar investasi, tetapi juga langsung mempengaruhi harga barang konsumsi masyarakat.
BPS mencatat bahwa inflasi emas perhiasan pada Oktober 2025 mencapai 11,97% secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 26 bulan berturut-turut, menandakan tren kenaikan harga yang konsisten sejak September 2023.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa emas perhiasan kini tidak hanya dilihat sebagai aset investasi, tetapi juga telah menjadi komoditas dengan pengaruh ekonomi makro signifikan, terutama terhadap daya beli dan indeks harga konsumen.
Faktor Pendorong Lonjakan Harga Emas
Beberapa faktor global turut memperkuat reli harga emas di pasar internasional:
-
Kebijakan Moneter Longgar
Ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed dan bank sentral utama lainnya mendorong investor berpindah ke aset non-yield seperti emas. -
Tensi Geopolitik dan Ketidakpastian Ekonomi
Konflik di beberapa kawasan, termasuk Timur Tengah dan Eropa Timur, menambah tekanan terhadap pasar keuangan global. Investor global mencari perlindungan di aset aman seperti emas. -
Permintaan Tinggi dari Asia
Permintaan emas fisik dari negara-negara seperti China dan India meningkat signifikan menjelang musim perayaan dan pernikahan. Lonjakan permintaan ini turut memperketat pasokan di pasar global. -
Pelemahan Nilai Dolar AS
Dolar yang melemah membuat harga emas dalam denominasi mata uang lainnya menjadi lebih murah, sehingga meningkatkan daya tarik investasi emas di luar Amerika Serikat. -
Ketidakpastian di Pasar Saham dan Kripto
Fluktuasi tajam di pasar saham global dan mata uang kripto juga mendorong banyak investor kembali ke emas sebagai aset pelindung nilai jangka panjang.
Implikasi bagi Investor dan Konsumen
Bagi investor, kenaikan harga emas ini memberikan peluang besar bagi mereka yang telah memegang posisi sejak awal tahun. Namun, bagi konsumen, terutama mereka yang membeli emas perhiasan, lonjakan harga ini bisa menjadi beban tambahan terhadap biaya hidup.
Pudji menegaskan bahwa meskipun inflasi emas perhiasan cukup tinggi, dampaknya terhadap inflasi umum masih relatif terkendali karena kenaikan harga bahan pangan dan energi cenderung stabil. “Inflasi secara keseluruhan tetap terjaga berkat harga pangan yang stabil,” jelasnya.
Di sisi lain, analis memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak naik hingga akhir 2025, meskipun pergerakannya kemungkinan akan lebih terbatas seiring meningkatnya aksi ambil untung.
Beberapa pelaku pasar memperkirakan level US$4.200–4.300 per troy ounce bisa menjadi batas atas harga emas menjelang akhir tahun, tergantung pada arah kebijakan suku bunga The Fed dan dinamika geopolitik global.
Tren Emas Indonesia di Masa Mendatang
Dalam jangka menengah, harga emas domestik diperkirakan akan tetap tinggi mengikuti tren global. Dengan nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan inflasi yang terkendali, potensi penguatan harga emas tetap terbuka, terutama bila permintaan investasi meningkat menjelang liburan akhir tahun.
Bagi masyarakat, emas masih menjadi instrumen investasi favorit karena sifatnya yang tahan terhadap inflasi dan mudah dicairkan. Namun, para analis mengingatkan agar investor berhati-hati terhadap potensi koreksi jangka pendek setelah reli panjang selama dua tahun terakhir.
Rekor baru harga emas di atas Rp2,14 juta per gram pada Oktober 2025 mencerminkan kombinasi faktor global seperti pelemahan dolar, ketegangan geopolitik, dan kebijakan moneter longgar. Di dalam negeri, tren ini berdampak langsung terhadap inflasi dan konsumsi masyarakat. Meski begitu, emas tetap menjadi aset aman yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Comment