Harga emas melonjak di atas US$4.350 dan bersiap mencetak kenaikan tahunan terbesar sejak 1979. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik menopang permintaan aset safe haven.
Taruhan Pemangkasan Suku Bunga The Fed dan Geopolitik Jadi Pendorong Utama
Harga emas kembali menarik minat beli investor global pada awal perdagangan sesi Eropa hari Rabu, melanjutkan reli kuat yang telah berlangsung sepanjang tahun ini. Logam mulia tersebut diperdagangkan stabil di atas level US$4.350 per troy ounce, menandai kelanjutan tren bullish yang membawa emas menuju potensi kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari empat dekade.
Kinerja impresif emas sepanjang tahun ini mencerminkan kombinasi faktor fundamental yang sangat kuat, mulai dari perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Sepanjang tahun berjalan, harga emas tercatat melonjak sekitar 65%, menjadikannya salah satu aset dengan performa terbaik dan siap mencetak kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed Dorong Emas
Salah satu pendorong utama reli emas adalah meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve AS akan melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan moneter pada tahun 2026. Prospek pemangkasan suku bunga lanjutan membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik.
Suku bunga yang lebih rendah secara langsung menurunkan biaya peluang memegang emas, karena investor tidak lagi harus mengorbankan imbal hasil yang tinggi dari instrumen berbunga. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kenaikan harga logam mulia, terutama di tengah inflasi yang mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi.
Pada pertemuan terakhirnya, The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga kisaran suku bunga acuan berada di level 3,50%–3,75%. Meski keputusan tersebut tidak bulat, mayoritas pembuat kebijakan menilai bahwa risiko terhadap pasar tenaga kerja meningkat, sementara tekanan inflasi cenderung mereda secara bertahap.
Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 9–10 Desember menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed masih membuka ruang bagi penurunan suku bunga lebih lanjut, selama inflasi bergerak sesuai dengan target. Namun, perbedaan pandangan tetap terlihat terkait waktu dan besaran pemangkasan berikutnya.
Geopolitik Global Perkuat Status Safe Haven
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung turut memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Konflik yang belum mereda antara Israel dan Iran, serta meningkatnya ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela, mendorong investor untuk mencari aset yang mampu mempertahankan nilai di tengah ketidakpastian global.
Dalam kondisi pasar yang sarat risiko geopolitik, emas secara historis menjadi pilihan utama bagi investor institusional maupun ritel. Logam kuning ini dipandang sebagai penyimpan nilai yang relatif stabil ketika pasar keuangan diliputi volatilitas tinggi dan ketidakpastian arah ekonomi.
Permintaan emas sebagai aset perlindungan juga diperkuat oleh kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global dan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas pada perdagangan internasional dan rantai pasok global.
Faktor Penahan: Profit Taking dan Margin CME
Meski prospek emas tetap positif, potensi koreksi jangka pendek tidak dapat diabaikan. Salah satu faktor yang berpotensi membatasi kenaikan harga adalah meningkatnya aksi ambil untung (profit taking) dan penyeimbangan portofolio menjelang liburan Tahun Baru, di mana volume perdagangan cenderung menipis.
Selain itu, Chicago Mercantile Exchange (CME) Group baru-baru ini menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka emas, perak, dan logam mulia lainnya. Kebijakan ini mengharuskan para pedagang menyetor dana tunai yang lebih besar sebagai jaminan, guna mengantisipasi risiko gagal bayar saat pengiriman kontrak.
Kenaikan margin ini berpotensi memicu pengurangan posisi spekulatif dalam jangka pendek, yang dapat menekan harga emas secara temporer. Dalam beberapa kasus, langkah serupa di masa lalu kerap memicu koreksi teknikal meskipun tren utama tetap bullish.
Di sisi lain, laporan mengenai kemajuan dalam pembicaraan damai Ukraina juga berpotensi mengurangi permintaan safe haven, meskipun dampaknya sejauh ini masih terbatas dan belum mampu mengubah sentimen pasar secara signifikan.
Fokus Pasar pada Data Ekonomi AS
Pelaku pasar kini menanti rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS yang dijadwalkan pada hari Rabu. Para ekonom memperkirakan jumlah klaim baru akan meningkat moderat menjadi sekitar 220.000 untuk pekan yang berakhir pada 27 Desember, dibandingkan dengan 214.000 pada pekan sebelumnya.
Data tenaga kerja ini menjadi indikator penting bagi The Fed dalam menilai kondisi ekonomi AS dan menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya. Namun, dengan perdagangan yang diperkirakan berlangsung tipis akibat liburan, reaksi pasar terhadap data ini kemungkinan terbatas.
Analisis Teknikal: Momentum Bullish Tetap Terjaga
Dari perspektif teknikal, harga emas masih mempertahankan pandangan positif. Pada grafik harian, XAU/USD tetap diperdagangkan di atas Exponential Moving Average (EMA) 100-hari, yang menjadi penopang utama tren naik jangka menengah. Bollinger Bands yang melebar mengindikasikan meningkatnya volatilitas seiring berlanjutnya momentum bullish.
Relative Strength Index (RSI) 14-hari bergerak di atas garis tengah dan terus mengarah naik, menunjukkan bahwa dorongan beli masih dominan meskipun harga telah berada di level tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi kenaikan lanjutan masih terbuka, selama tidak terjadi pemicu negatif yang signifikan.
Pada sisi atas, level resistance terdekat berada di sekitar batas atas Bollinger Band di area US$4.520. Penembusan dan konsolidasi di atas level ini berpotensi membuka jalan menuju rekor tertinggi sepanjang masa di sekitar US$4.550, bahkan mengarah ke level psikologis US$4.600.
Sementara itu, level support awal berada di kisaran US$4.305–US$4.300, yang bertepatan dengan area terendah akhir Desember. Jika terjadi koreksi yang lebih dalam, harga emas berpotensi menguji support berikutnya di sekitar US$4.271, yang merupakan level terendah pertengahan Desember.
Secara keseluruhan, prospek harga emas tetap konstruktif di tengah kombinasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan ketidakpastian geopolitik global. Meski risiko koreksi jangka pendek akibat profit taking dan faktor teknikal masih ada, tren utama emas masih mengarah ke atas. Dengan dukungan fundamental yang kuat, emas berpeluang mempertahankan posisinya sebagai aset safe haven utama menjelang pergantian tahun dan memasuki periode perdagangan selanjutnya

Comment