Harga emas global melonjak ke atas US$4.050 per troy ounce pada Senin, 10 November 2025. Lonjakan ini didorong melemahnya ekonomi Amerika Serikat, penutupan pemerintah, dan meningkatnya permintaan aset aman. Emas berpotensi lanjutkan reli setelah mencetak kinerja tahunan terbaik sejak 1979.
Emas Kembali Bersinar di 2025
JAKARTA — Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya di awal pekan ini, menegaskan posisinya sebagai aset pelindung nilai paling diminati di tengah gejolak ekonomi global. Pada perdagangan Senin, 10 November 2025 pagi, harga emas di pasar spot bergerak di zona hijau, didukung oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) dan melemahnya nilai dolar.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 06.03 WIB, harga emas berada di level US$4.009,22 per troy ounce, menguat 0,24% atau sekitar US$7,96 dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini memperpanjang tren positif emas yang telah terlihat sejak akhir pekan lalu, ketika harga logam mulia tersebut berbalik naik setelah dua minggu berturut-turut mengalami penurunan.
Kenaikan harga emas dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) setelah data terbaru menunjukkan pelemahan pada berbagai sektor ekonomi utama di AS. Laporan Universitas Michigan mencatat bahwa sentimen konsumen AS memburuk tajam, dipengaruhi oleh penutupan pemerintah (government shutdown) yang terus berlangsung dan harga barang yang masih tinggi. Tekanan tersebut membuat rumah tangga AS semakin pesimistis terhadap kondisi keuangan pribadi mereka.
Kondisi ekonomi yang tidak pasti juga memperkuat kekhawatiran akan meningkatnya angka pengangguran. Sebanyak 71% responden survei Universitas Michigan memperkirakan pengangguran akan naik dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, laporan ketenagakerjaan bulanan dari pemerintah AS tidak dapat diterbitkan akibat penutupan operasional, sehingga pelaku pasar beralih mengandalkan data swasta untuk menilai kondisi ekonomi aktual.
Sebuah survei oleh 22V Research menegaskan bahwa pelemahan pasar tenaga kerja menjadi risiko terbesar yang saat ini dihadapi investor. Dampaknya langsung terlihat: imbal hasil obligasi AS dan nilai dolar mengalami penurunan, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga emas. Pasalnya, emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi lebih menarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi menurun.
Harga emas mencatat performa luar biasa sepanjang tahun ini. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$4.380 per troy ounce pada Oktober 2025, logam mulia ini kini telah naik lebih dari 50% secara tahunan, menandai kinerja terbaik sejak 1979. Kenaikan tersebut didukung oleh pemangkasan suku bunga di AS, yang menekan imbal hasil aset berisiko dan mendorong permintaan terhadap emas.
Selain faktor moneter, pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara turut menopang reli harga. Ketidakpastian global, terutama akibat kebijakan fiskal AS yang tidak menentu dan dampak penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah, memperkuat pandangan bahwa emas masih menjadi pilihan utama untuk lindung nilai.
Bagi para investor, reli ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali portofolio investasi mereka. Emas terbukti bukan hanya sebagai aset aman, tetapi juga instrumen yang menawarkan stabilitas ketika pasar keuangan terguncang oleh gejolak ekonomi dan politik.
Dinamika Logam Mulia Lainnya
Selain emas, harga perak juga mencatatkan kenaikan pada perdagangan Senin pagi. Data Bloomberg menunjukkan, perak menguat untuk sesi ketiga berturut-turut dan berada di jalur kenaikan mingguan yang tipis namun konsisten. Dukungan tambahan datang dari kebijakan pemerintah AS yang memasukkan perak ke dalam daftar mineral strategis dalam penyelidikan Pasal 232—kebijakan era pemerintahan Trump yang berpotensi memunculkan tarif dan pembatasan perdagangan baru.
Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa bea masuk atas perak akan meningkat, mengingat AS sangat bergantung pada impor logam tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebijakan ini diperkirakan dapat memperketat pasokan dan memicu volatilitas di pasar logam mulia.
Sementara itu, data London Bullion Market Association (LBMA) mencatat bahwa persediaan perak di London meningkat 6,8% secara bulanan menjadi 844 juta ons pada akhir Oktober 2025. Kenaikan ini terjadi setelah tekanan besar di awal Oktober yang sempat mengguncang pasar perak global.
Harga Emas Terkini di Pasar Spot
Menjelang siang hari waktu Indonesia, reli emas berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.33 WIB, harga emas spot naik ke level US$4.051,47 per troy ounce, atau melonjak 1,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Beberapa menit kemudian, pada pukul 08.38 WIB, harga bahkan mencapai US$4.052,13 per troy ounce, mencerminkan kenaikan US$50,87 atau 1,27% dalam satu sesi perdagangan.
Dengan kondisi ekonomi AS yang melemah, prospek inflasi yang tetap tinggi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, para analis memperkirakan tren bullish emas akan berlanjut hingga akhir tahun. Investor global pun semakin yakin bahwa logam kuning ini akan tetap menjadi benteng pelindung nilai utama di tengah badai ekonomi global

Comment