PT Freeport Indonesia masih menghentikan operasional tambang Grasberg akibat insiden kahar longsor material basah. Investigasi dan evaluasi terus berlanjut.
PT Freeport Indonesia (PTFI) masih melakukan investigasi mendalam terkait insiden kahar berupa longsor material basah yang terjadi di area operasi Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave, Papua Tengah. Akibat insiden tersebut, operasional tambang masih sepenuhnya terhenti, dan perusahaan belum dapat memastikan kapan kegiatan produksi bisa kembali normal.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menegaskan bahwa pihaknya saat ini fokus pada dua hal utama: penyelesaian proses investigasi dan pemulihan keselamatan kerja di seluruh area tambang. Ia menyampaikan hal ini saat ditemui awak media di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Rabu (8/10/2025).
“Produksi sementara ini berhenti semuanya,” ujar Tony singkat. “Kami masih melakukan investigasi yang kemudian akan dievaluasi dan dilaporkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),” tambahnya.
Evakuasi Berlangsung 27 Hari, Seluruh Pekerja Telah Ditemukan
Menurut Tony, proses evakuasi tujuh pekerja yang sempat terjebak dalam insiden longsor material basah kini telah selesai. Evakuasi tersebut berlangsung selama sekitar 27 hari, melibatkan koordinasi lintas lembaga antara PTFI, Kementerian ESDM, Polres Mimika, Basarnas, serta BPBD Papua Tengah.
Seluruh korban kini telah diantarkan ke kampung halaman masing-masing. Proses pencairan asuransi keluarga korban juga tengah dilakukan secara bertahap oleh pihak perusahaan bersama lembaga terkait.
“Kami melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab utama kejadian ini. Berdasarkan hasil investigasi nanti, akan dilakukan evaluasi menyeluruh sebelum kami berkomunikasi resmi dengan Kementerian ESDM, khususnya dengan Inspektur Tambang,” jelas Tony.
Kronologi Insiden Luncuran Material Basah di Tambang Bawah Tanah
Insiden tragis ini terjadi di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave, salah satu area produksi utama Freeport Indonesia. Berdasarkan laporan resmi, peristiwa tersebut disebabkan oleh luncuran material basah (wet material flow) yang menutup akses penambangan dan menjebak sejumlah pekerja di dalam area operasi.
Pada Sabtu, 20 September 2025, dua pekerja pertama ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Kemudian, pada Minggu, 6 Oktober 2025, lima pekerja lainnya ditemukan setelah proses pencarian intensif selama lebih dari tiga minggu.
Dengan ditemukannya tujuh pekerja tersebut, tim penyelamatan resmi menutup proses evakuasi dan beralih pada tahap investigasi teknis serta penanganan pasca-insiden.
“Saya sangat mengapresiasi Tim Penyelamat yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam, di tengah kondisi medan yang sangat menantang,” kata Tony dalam pernyataan resminya, Senin (6/10/2025).
“Upaya penyelamatan ini memerlukan waktu panjang karena lokasi yang sulit dijangkau dan volume material basah yang sangat besar, mencapai sekitar 800 ribu ton,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan tenaga, pikiran, dan doa dalam proses pencarian.
Investigasi dan Evaluasi Teknis Masih Berlangsung
Hingga kini, PTFI belum dapat memberikan detail hasil investigasi awal. Namun, tim teknis dan keselamatan perusahaan tengah menganalisis penyebab utama longsor, termasuk faktor geoteknik, kondisi curah hujan ekstrem, hingga potensi gangguan struktural dalam sistem penambangan bawah tanah.
Evaluasi yang dilakukan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah mitigasi risiko ke depan, agar kejadian serupa tidak terulang. Hasil akhir investigasi akan dilaporkan secara resmi kepada Kementerian ESDM dan menjadi bahan pertimbangan dalam penyesuaian standar keselamatan operasi tambang bawah tanah di masa depan.
Produksi Masih Terhenti, Dampak Terhadap Operasional dan Ekonomi
Penutupan sementara operasional di Grasberg Block Cave berdampak langsung terhadap volume produksi tembaga dan emas nasional. Tambang ini dikenal sebagai salah satu penyumbang terbesar bagi sektor pertambangan Indonesia dan juga bagi pendapatan daerah Papua Tengah.
Meskipun demikian, Tony memastikan bahwa keamanan dan keselamatan karyawan tetap menjadi prioritas utama. Perusahaan tidak akan memaksakan kegiatan operasi sebelum seluruh aspek teknis, keselamatan, dan izin dari pemerintah dinyatakan aman.
“Kami tidak ingin terburu-buru membuka kembali operasi tanpa memastikan bahwa semua prosedur keselamatan telah terpenuhi,” tegas Tony.
Selain itu, PTFI juga memastikan bahwa kompensasi dan hak-hak keluarga korban akan dipenuhi sesuai peraturan yang berlaku. Perusahaan juga memberikan dukungan psikologis dan sosial kepada rekan kerja serta keluarga korban yang terdampak.
Dukungan Pemerintah dan Lembaga Terkait
Kementerian ESDM melalui Inspektur Tambang telah menurunkan tim khusus untuk melakukan peninjauan lapangan dan memberikan dukungan teknis selama proses investigasi berlangsung. Sementara itu, Basarnas dan BPBD Papua Tengah berperan penting dalam operasi penyelamatan yang berlangsung selama hampir satu bulan penuh.
Pemerintah menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan tinggi di tambang bawah tanah, terutama di wilayah dengan kondisi geologi kompleks seperti Pegunungan Grasberg. Langkah evaluasi bersama ini diharapkan mampu memperkuat sistem mitigasi bencana tambang di masa depan.
Insiden kahar di Tambang Bawah Tanah Grasberg menjadi pengingat penting bagi seluruh industri pertambangan akan pentingnya keselamatan kerja dan kesiapsiagaan menghadapi risiko geoteknik ekstrem.
PT Freeport Indonesia kini berfokus pada proses investigasi komprehensif, pemulihan lokasi tambang, serta dukungan bagi keluarga korban.
Produksi masih terhenti sementara waktu, dan operasional baru akan dibuka kembali setelah semua pihak memastikan kondisi aman serta sesuai regulasi.
Dengan dukungan Kementerian ESDM dan lembaga terkait, Freeport menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan standar keselamatan dan tanggung jawab sosial, demi mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Comment