Harga emas melonjak ke US$4.988 dan mendekati level US$5.000 seiring anjloknya dolar AS akibat rumor intervensi yen Jepang. Sentimen pasar, ekspektasi Fed, dan agenda FOMC jadi sorotan.
Dolar AS Terjun, Emas Melesat
Harga emas global kembali mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Jumat (waktu Amerika Utara), melonjak hingga menyentuh level US$4.988 per ons troi. Lonjakan ini terjadi di tengah tekanan tajam pada Dolar AS (USD) yang dipicu oleh rumor intervensi mata uang oleh otoritas Jepang, sehingga mendorong penguatan Yen dan menyeret Indeks Dolar AS (DXY) ke level terendah multi-bulan.
Logam mulia tersebut menguat lebih dari 1% dalam satu sesi, menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian. Pelemahan dolar terbukti menjadi katalis utama, bahkan mampu mengalahkan pengaruh sentimen risiko yang relatif membaik serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil.
Suasana pasar global pada dasarnya berada dalam mode risk-on, ditopang oleh sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan perbaikan moderat. Namun demikian, tekanan tajam terhadap dolar AS membuat emas tetap menjadi primadona investor.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, merosot hampir 0,50% ke kisaran 97,79, setelah sempat menyentuh level terendah harian di 97,70. Ini merupakan posisi terlemah dolar AS sejak Oktober 2025.
Pelemahan dolar tersebut dipicu oleh rumor kuat mengenai kemungkinan intervensi yen Jepang di pasar valuta asing. Penguatan yen yang cepat memicu aksi jual dolar secara luas, sehingga mendorong lonjakan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar seperti emas.
“Setiap kali dolar mengalami tekanan signifikan, emas hampir selalu menjadi penerima manfaat terbesar,” ujar seorang analis pasar logam di New York.
Imbal Hasil Stabil Tak Mampu Menahan Emas
Menariknya, lonjakan harga emas terjadi meskipun imbal hasil obligasi Treasury AS tidak menunjukkan pergerakan signifikan. Obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun diperdagangkan relatif datar di kisaran 4,255%.
Sementara itu, imbal hasil riil AS—yang dihitung dari selisih antara imbal hasil nominal dan ekspektasi inflasi—naik hampir 3,5 basis poin ke sekitar 1,945%. Secara teori, kenaikan imbal hasil riil biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Namun kali ini, tekanan dolar yang ekstrem terbukti jauh lebih dominan.
Hal ini menegaskan bahwa pergerakan emas saat ini lebih didorong oleh faktor mata uang dan ketidakpastian kebijakan global, ketimbang dinamika suku bunga jangka pendek.
Data Ekonomi AS Campuran
Dari sisi data ekonomi, sejumlah indikator menunjukkan kondisi yang relatif positif. Survei Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk Januari mencatat kenaikan ke level 56,4—tertinggi dalam lima bulan—dari estimasi awal 54 dan lebih baik dari periode sebelumnya.
Meski demikian, Direktur Survei Joanne Hsu menekankan bahwa konsumen AS masih merasakan tekanan daya beli. Harga yang tinggi dan kekhawatiran terhadap potensi pelemahan pasar tenaga kerja membuat optimisme konsumen belum sepenuhnya solid.
Ekspektasi inflasi juga menunjukkan pelonggaran. Proyeksi inflasi satu tahun turun menjadi 4% dari sebelumnya 4,2%, sementara ekspektasi inflasi lima tahun menurun dari 3,4% menjadi 3,3%. Penurunan ini memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan sikap kebijakan yang lebih fleksibel ke depan.
Data S&P Global turut menunjukkan peningkatan moderat dalam aktivitas bisnis AS. PMI Komposit awal Januari naik tipis menjadi 52,8 dari 52,7. Namun, Kepala Ekonom Bisnis S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson, memperingatkan bahwa lemahnya pertumbuhan bisnis baru di sektor manufaktur dan jasa bisa menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 berpotensi mengecewakan.
Ekspektasi Fed dan Risiko FOMC
Pasar saat ini masih memperhitungkan peluang pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve pada 2026. Berdasarkan data Prime Market Terminal, trader memproyeksikan total pemangkasan suku bunga sekitar 42,5 basis poin tahun depan.
Meski ekspektasi dovish tersebut relatif moderat, setiap perubahan persepsi pasar terhadap arah kebijakan Fed berpotensi memicu volatilitas besar pada harga emas. Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan pekan depan menjadi salah satu risiko utama yang diperhatikan investor.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell, serta sejumlah data penting seperti Pesanan Barang Tahan Lama dan laporan ketenagakerjaan ADP.
Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump turut menambah ketidakpastian. Trump mengonfirmasi bahwa ia telah menyelesaikan proses wawancara untuk calon Ketua Federal Reserve berikutnya dan akan mengumumkan pilihannya sebelum akhir Januari. Media melaporkan sejumlah nama yang masuk daftar pendek, termasuk Kevin Hassett, Rick Rieder, Christopher Waller, dan Kevin Warsh.
Prospek Teknis: Emas Bidik US$5.000
Dari perspektif teknikal, tren kenaikan emas terlihat semakin kuat. Harga emas telah mencatat kenaikan selama lima hari berturut-turut, membentuk pola kenaikan parabola yang agresif.
Indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi jenuh beli, namun tetap bergerak naik dan menembus puncak sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa momentum bullish masih terjaga dan belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang signifikan.
Jika harga emas berhasil menembus level psikologis US$5.000, target resistance berikutnya berada di area US$5.050 hingga US$5.100. Sebaliknya, jika terjadi koreksi, area support terdekat berada di kisaran US$4.950, diikuti oleh support psikologis di US$4.900.
Dengan kombinasi pelemahan dolar, ketidakpastian kebijakan global, dan momentum teknikal yang solid, emas saat ini berada di jalur yang sangat kuat untuk menguji level US$5.000 dalam waktu dekat.

Comment