Dolar Australia menguat didorong ekspektasi kenaikan suku bunga RBA dan inflasi yang membandel, sementara Dolar AS melemah seiring meredanya risiko geopolitik dan prospek pelonggaran kebijakan The Fed.
Dolar Australia Menguat Didukung Ekspektasi Pengetatan Kebijakan RBA
Dolar Australia (AUD) kembali menunjukkan performa solid dengan menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, memperpanjang reli yang telah berlangsung selama dua sesi berturut-turut. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya keyakinan pasar bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) belum sepenuhnya selesai dalam siklus pengetatan moneternya, terutama karena tekanan inflasi yang masih bertahan.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian mereka pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Australia bulan November yang dijadwalkan keluar pada Rabu. Data tersebut dipandang krusial untuk mengonfirmasi apakah inflasi tetap berada di jalur yang cukup tinggi untuk memaksa bank sentral mempertahankan sikap hawkish.
Survei terbaru yang dipublikasikan oleh Australian Financial Review (AFR) memperkuat optimisme tersebut. Berdasarkan polling terhadap para ekonom terkemuka, inflasi di Australia diperkirakan akan tetap membandel setidaknya selama satu tahun ke depan. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa RBA berpotensi melakukan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga tambahan sebelum benar-benar beralih ke fase pelonggaran.
Ekspektasi tersebut menjadi katalis utama penguatan AUD, mengingat suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik mata uang suatu negara di mata investor global.
Dolar AS Melemah Seiring Meredanya Ketegangan Geopolitik
Sementara itu, Dolar AS berada di bawah tekanan meskipun sebelumnya sempat mendapatkan dukungan dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik global kini mulai mereda, sehingga mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti USD.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, melanjutkan pelemahan dan diperdagangkan di kisaran 98,30 pada saat artikel ini disusun. Pelemahan ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang rilis serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat.
Salah satu fokus utama pasar adalah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan penambahan sekitar 55.000 lapangan kerja, angka yang relatif moderat dan mencerminkan perlambatan di pasar tenaga kerja AS.
Dari sisi geopolitik, pasar tampaknya semakin mengabaikan ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Meski AS dilaporkan melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, dampak lanjutan terhadap pasar keuangan global sejauh ini terbatas.
Maduro sendiri membantah seluruh tuduhan yang dilayangkan AS terkait kasus narkoterrorisme, membuka potensi konflik hukum dan diplomatik berkepanjangan. Namun, investor menilai perkembangan tersebut belum cukup signifikan untuk memicu lonjakan permintaan terhadap Dolar AS.
Data Ekonomi AS dan Prospek Kebijakan The Fed Membayangi USD
Tekanan terhadap Dolar AS juga diperkuat oleh data ekonomi domestik yang menunjukkan pelemahan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM AS kembali turun untuk bulan ketiga berturut-turut, mencapai level 47,9 pada Desember 2025. Angka ini menjadi yang terendah sejak Oktober 2024 dan menandakan kontraksi yang semakin dalam di sektor manufaktur, terutama akibat penurunan produksi dan persediaan.
Selain itu, pasar kini memproyeksikan setidaknya dua kali penurunan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2026. Ekspektasi ini semakin menguat seiring wacana bahwa Presiden AS, Donald Trump, akan menunjuk ketua The Fed baru untuk menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang—sebuah langkah yang berpotensi menggeser kebijakan moneter ke arah yang lebih dovish.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat The Fed terbuka terhadap kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan, asalkan inflasi terus menunjukkan tren penurunan. Namun, beberapa pembuat kebijakan juga menilai bahwa jeda sementara mungkin diperlukan setelah tiga kali pemangkasan suku bunga tahun lalu, guna mengevaluasi dampaknya terhadap pasar tenaga kerja.
Faktor Tiongkok dan Implikasinya bagi Dolar Australia
Selain faktor domestik, kinerja Dolar Australia juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Tiongkok, mengingat eratnya hubungan dagang antara kedua negara. Data PMI Jasa RatingDog Tiongkok menunjukkan sedikit penurunan ke level 52,0 pada Desember dari 52,1 di bulan sebelumnya. Di sisi lain, PMI Manufaktur justru naik tipis ke 50,1, menandakan stabilisasi aktivitas industri.
Setiap perubahan signifikan dalam perekonomian Tiongkok berpotensi memberikan dampak langsung terhadap AUD, baik melalui jalur perdagangan maupun sentimen pasar.
Analisis Teknikal: AUD/USD Mengincar Level Tertinggi 15 Bulan
Dari perspektif teknikal, pasangan AUD/USD diperdagangkan di sekitar 0,6720 dan menunjukkan struktur bullish yang semakin kuat. Grafik harian memperlihatkan pergerakan harga yang memantul dari batas bawah pola ascending channel, mengindikasikan kelanjutan tren naik.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di level 65,64, mencerminkan momentum bullish yang solid namun belum memasuki area jenuh beli. Hal ini membuka ruang bagi penguatan lanjutan dalam jangka pendek.
Level resistensi terdekat berada di 0,6727, yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2024. Jika level ini berhasil ditembus, AUD/USD berpotensi melanjutkan reli menuju area 0,6820, yang bertepatan dengan batas atas ascending channel.
Di sisi bawah, support awal berada di Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari di sekitar 0,6693. Penembusan di bawah level tersebut dapat melemahkan bias bullish dan membuka risiko koreksi lebih dalam menuju area 0,6414, yang merupakan titik terendah enam bulan terakhir.

Comment