Dolar Australia menguat dan memimpin G10 berkat optimisme perdagangan AS–Tiongkok serta sinyal hawkish dari Gubernur RBA Michele Bullock.
AUD Jadi Bintang G10: Dukungan dari Prospek Dagang Positif dan Ketegasan RBA Menahan Suku Bunga
JAKARTA — Dolar Australia (AUD) mencatat kinerja impresif pada awal pekan ini, menduduki posisi teratas di antara mata uang utama dunia atau kelompok G10. Penguatan mata uang Negeri Kanguru ini ditopang oleh dua faktor kunci: optimisme atas membaiknya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta komentar tegas bernada hawkish dari Gubernur Bank Sentral Australia (RBA), Michele Bullock.
Kombinasi dua katalis tersebut mengubah arah pasar yang sebelumnya cenderung defensif menjadi lebih agresif terhadap aset berisiko. AUD pun menjadi primadona di pasar valuta asing, melampaui performa dolar AS, euro, dan yen Jepang.
Hubungan Dagang AS–Tiongkok Picu Lonjakan Permintaan Komoditas
Sentimen positif pertama datang dari laporan kemajuan pembicaraan dagang antara Washington dan Beijing. Kedua negara dilaporkan tengah menyusun kesepakatan kerja sama di sektor perdagangan energi dan pertanian yang diyakini dapat menurunkan tensi geopolitik serta membuka peluang ekspor baru bagi negara mitra, termasuk Australia.
Kabar ini disambut antusias oleh pelaku pasar komoditas. Harga batu bara dan bijih besi, dua produk ekspor utama Australia, kembali menguat di pasar internasional. Penguatan harga komoditas tersebut menjadi faktor fundamental yang langsung memperkuat posisi AUD terhadap dolar AS.
“Pemulihan hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia menjadi sinyal positif bagi mata uang komoditas seperti dolar Australia,” tulis Brown Brothers Harriman (BBH) dalam riset terbarunya. “Pasar memandang bahwa permintaan dari Tiongkok akan mendorong ekspor Australia di kuartal mendatang.”
RBA Tunjukkan Ketegasan: Belum Saatnya Turunkan Suku Bunga
Selain sentimen eksternal, faktor domestik juga turut memperkuat AUD. Dalam konferensi ekonomi yang digelar di Sydney, Gubernur RBA Michele Bullock menegaskan bahwa bank sentral belum melihat alasan kuat untuk menurunkan suku bunga acuan.
Bullock menilai bahwa kondisi ekonomi Australia saat ini masih tangguh, dengan inflasi yang mulai melandai namun belum sepenuhnya stabil, serta pasar tenaga kerja yang tetap ketat. Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter yang terlalu cepat dilonggarkan justru berisiko menghidupkan kembali tekanan inflasi.
Pernyataan tersebut segera direspons pasar uang. Kontrak berjangka suku bunga RBA untuk November kini memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga hanya sekitar 25%, turun dari ekspektasi sebelumnya sebesar 50%. Ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi periode suku bunga tinggi yang lebih panjang di Australia.
Analis BBH menilai pernyataan Bullock sebagai sinyal bahwa RBA lebih berhati-hati dibandingkan bank sentral lain seperti Federal Reserve atau Bank of England. “Nada hawkish RBA menjadi alasan utama penguatan AUD hari ini. Investor melihat Australia berada dalam posisi yang relatif stabil dibandingkan negara G10 lainnya,” ujar laporan tersebut.
AUD Menguat di Tengah Dinamika Pasar Global
Data perdagangan menunjukkan AUD/USD sempat naik ke kisaran 0,6550–0,6570, level tertinggi sejak pertengahan Oktober, sebelum terkoreksi tipis karena penguatan dolar AS. Meski demikian, arah pergerakan AUD masih dianggap positif selama mampu bertahan di atas area support 0,6500.
Dalam pandangan teknikal, resistance utama berada di 0,6600, dan penembusan di atas level tersebut bisa membuka ruang bagi penguatan lanjutan menuju 0,6670. Sebaliknya, jika koreksi terjadi, area 0,6470 diperkirakan menjadi penopang kuat untuk sementara.
Pasar kini menanti rilis data inflasi Australia kuartal ketiga, yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut terkait langkah RBA berikutnya. Jika inflasi tetap tinggi, peluang untuk mempertahankan suku bunga akan semakin besar, mendukung penguatan AUD lebih jauh.
Ekonomi Australia Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global
Meski menghadapi tantangan global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, fundamental ekonomi Australia dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran positif, sementara konsumsi domestik menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Sektor tenaga kerja juga menjadi penopang utama. Tingkat pengangguran Australia tetap rendah di sekitar 4%, memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja masih kuat dan mendukung daya beli masyarakat. Kondisi ini memperkuat alasan RBA untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat guna memastikan inflasi tidak kembali meningkat.
“Selama pasar tenaga kerja tetap kuat dan inflasi belum turun ke target, RBA kemungkinan tidak akan mengubah suku bunga dalam waktu dekat,” ungkap analis BBH.
Analisis Pasar: AUD Masih Punya Momentum Naik
Meskipun kenaikan AUD saat ini didorong oleh kombinasi sentimen positif, para analis memperingatkan bahwa momentum penguatan dapat terhambat jika data ekonomi AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan. Hal tersebut berpotensi memperkuat dolar AS kembali dan menekan kinerja mata uang komoditas.
Namun untuk saat ini, AUD masih memiliki peluang untuk memperpanjang reli selama sentimen perdagangan global dan kebijakan RBA tetap mendukung.
“Dolar Australia berpotensi tetap menjadi salah satu mata uang paling stabil di antara G10, setidaknya hingga akhir tahun,” tulis laporan BBH. “Ketika negara lain mulai mempersiapkan pemangkasan suku bunga, Australia justru menunjukkan komitmen menjaga stabilitas moneter.”
Kinerja dolar Australia mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan RBA yang disiplin. Kombinasi faktor eksternal — berupa prospek perdagangan AS–Tiongkok yang membaik — dan faktor domestik — berupa ketegasan RBA menahan suku bunga — membuat AUD berada dalam posisi unggul di antara mata uang utama dunia.
Dengan dukungan fundamental yang kuat, AUD berpotensi mempertahankan tren penguatannya dalam jangka menengah, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai.

Comment