Dolar Australia melemah meski RBA tetap berhati-hati. Dolar AS menguat jelang akhir penutupan pemerintah AS. Simak analisis lengkap AUD/USD di sini.
Dolar Australia Tertekan oleh Penguatan Dolar AS Meski RBA Tetap Hati-Hati
Dolar Australia (AUD) kembali tertekan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari Rabu, memperpanjang tren pelemahan yang telah terjadi selama dua sesi berturut-turut. Tekanan ini muncul meskipun Reserve Bank of Australia (RBA) menyampaikan pandangan kebijakan yang berhati-hati, menandakan bahwa kondisi moneter yang ketat masih perlu dipertahankan untuk mengendalikan inflasi.
Pasangan mata uang AUD/USD turun ke kisaran 0,6520, seiring meningkatnya dukungan terhadap Dolar AS setelah muncul optimisme bahwa penutupan pemerintahan AS (government shutdown) akan segera berakhir. Penguatan Dolar AS juga ditopang oleh perbaikan sentimen pasar terhadap stabilitas ekonomi Amerika.
RBA Tegaskan Sikap Ketat, Tapi Pasar Tetap Waspada
Deputi Gubernur RBA, Andrew Hauser, dalam pernyataannya hari Rabu, menegaskan bahwa kebijakan moneter Australia masih dalam posisi ketat. Ia menambahkan, “Estimasi terbaik kami menunjukkan kebijakan moneter tetap restriktif, dan jika tidak lagi demikian, maka hal itu akan membawa konsekuensi besar terhadap keputusan kebijakan berikutnya.”
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan hati-hati bank sentral terhadap arah suku bunga, di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi setelah tekanan inflasi yang cukup lama.
Sementara itu, Asisten Gubernur RBA untuk Sistem Keuangan, Brad Jones, juga menyoroti meningkatnya risiko geopolitik global dan potensi fragmentasi dalam sistem keuangan internasional. Ia menilai bahwa pasar keuangan global masih terlalu percaya diri terhadap prospek pertumbuhan, padahal ketidakpastian global—termasuk ketegangan dagang dan fluktuasi komoditas—masih tinggi.
Dolar AS Menguat Didukung Harapan Akhir Shutdown Pemerintah
Di sisi lain, Dolar AS menguat secara luas, didorong oleh perkembangan positif dalam proses pembukaan kembali pemerintahan Amerika Serikat. Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama, berhasil menghentikan penurunan lima hari berturut-turut dan bertahan di sekitar level 99,50.
Senat AS telah meloloskan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengakhiri penutupan pemerintah, yang kini menunggu persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat sebelum dikirim ke Presiden Donald Trump untuk ditandatangani. Kesepakatan bipartisan tersebut akan memungkinkan pembayaran gaji pegawai pemerintah dilanjutkan dan data ekonomi utama kembali dirilis.
Trump sendiri telah menyatakan dukungannya terhadap RUU tersebut, memberikan sinyal kuat bahwa shutdown yang telah mengganggu kegiatan ekonomi dapat segera berakhir. Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dampak penutupan pemerintah sudah mulai dirasakan secara nyata oleh sektor publik dan ritel, serta menekan sentimen konsumen ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun.
Ekspektasi Pelonggaran The Fed Meningkat
Kondisi ekonomi AS yang melambat memicu ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan Desember. Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 68%, seiring dengan melemahnya data ketenagakerjaan dan inflasi yang diperkirakan hanya akan mencapai 1,5%.
Beberapa pejabat The Fed seperti Christopher Waller, Raphael Bostic, dan Stephen Miran dijadwalkan memberikan pidato dalam waktu dekat, yang bisa memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
Faktor Eksternal: Peran Tiongkok dan Data Domestik Australia
Selain dinamika AS, kinerja Dolar Australia juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Tiongkok, mitra dagang terbesar Australia. Kementerian Perdagangan Tiongkok baru-baru ini mengumumkan pencabutan sementara larangan ekspor material strategis seperti gallium, germanium, dan antimon ke AS, yang berlaku hingga November 2026. Langkah ini dapat mengurangi ketegangan dagang global dan berpotensi menstabilkan hubungan ekonomi antara Beijing dan Canberra.
Dari sisi data, Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,2% YoY pada Oktober, pulih dari penurunan bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Harga Produsen (IHP) turun 2,1%, sedikit lebih baik dari perkiraan pasar. Stabilitas data ini memberikan sedikit dorongan bagi mata uang mitra dagangnya, termasuk AUD.
Dari dalam negeri, Keyakinan Konsumen Westpac-Melbourne Institute melonjak 12,8% menjadi 103,8 pada November, melampaui ambang batas 100 untuk pertama kalinya sejak awal 2022. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi dan menurunnya kekhawatiran terhadap risiko global.
Analisis Teknis AUD/USD: Menguji Support Kritis
Secara teknikal, pasangan AUD/USD saat ini diperdagangkan di sekitar 0,6520, mendekati Exponential Moving Average (EMA) sembilan hari. Pola pada grafik harian menunjukkan fase konsolidasi dalam formasi sideways rectangle, menandakan pasar sedang mencari arah baru.
Jika terjadi penembusan di bawah EMA 9 hari (0,6520) dan level psikologis 0,6500, maka tekanan jual bisa meningkat, mendorong AUD/USD menuju area support berikut di 0,6470 hingga 0,6414 (terendah lima bulan).
Namun, jika momentum pembeli meningkat dan harga mampu menembus EMA 50-hari di 0,6536, potensi penguatan dapat membawa AUD/USD ke area 0,6630 dan bahkan menuju 0,6707, yang merupakan level tertinggi 13 bulan terakhir.
AUD dalam Fase Ragu-Ragu
Meski Dolar Australia masih berada di bawah tekanan jangka pendek, sinyal kehati-hatian RBA dan perbaikan data ekonomi domestik dapat menjadi katalis positif ke depan. Namun, penguatan Dolar AS yang didorong oleh stabilitas politik dan ekspektasi kebijakan The Fed tetap menjadi hambatan utama bagi AUD untuk rebound dalam waktu dekat.
Pasar kini menunggu kejelasan lebih lanjut dari pernyataan bank sentral global untuk menentukan arah pergerakan berikutny

Comment